kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.887   62,00   0,35%
  • IDX 6.450   47,94   0,75%
  • KOMPAS100 831   1,62   0,20%
  • LQ45 631   -1,25   -0,20%
  • ISSI 227   4,63   2,08%
  • IDX30 352   -1,25   -0,35%
  • IDXHIDIV20 429   -1,46   -0,34%
  • IDX80 95   0,08   0,09%
  • IDXV30 119   0,94   0,79%
  • IDXQ30 112   -0,32   -0,28%

Gap Inklusi dengan Literasi LKM Lebar, Ini Penyebabnya Menurut LKM BKD Pekalongan


Selasa, 18 Agustus 2026 / 17:10 WIB
Gap Inklusi dengan Literasi LKM Lebar, Ini Penyebabnya Menurut LKM BKD Pekalongan
ILUSTRASI. Moneyfest 2025 (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 mencatat, tingkat literasi sektor Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebesar 12,44%, sedangkan inklusinya 3,01%. Tingkat literasinya terbilang sudah cukup masif, tetapi inklusinya masih ketinggalan. Terlihat dari gap-nya yang masih jauh atau lebar. 

Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Badan Kredit Desa (BKD) Kabupaten Pekalongan menilai ada sejumlah penyebab gap antara literasi dan inklusi begitu lebar. Direktur Utama LKM BKD Kabupaten Pekalongan Hary Budhi Murdiyanto mengatakan salah satunya dipicu tata kelola yamg kurang profesional, sehingga menyebabkan penurunan kualitas layanan dan inklusi. 

"Selain itu, rendahnya kepercayaan masyarakat untuk menabung karena industri LKM belum masuk program penjaminan simpanan menjadi tantangan besar dalam menghimpun dana," ungkapnya kepada Kontan, Selasa (18/8/2026).

Baca Juga: Ribuan Dapur MBG Ditutup, Urun Dana Danamart Terus Lakukan Monitoring Proyek SPPG

Hary menyampaikan faktor lainnya, yakni infrastruktur dan sumber daya manusia yang sangat terbatas. Hal itu menjadikan masyarakat sangat minim dalam mengakses produk pinjaman. 

Dengan semangat hari kemerdekaan, Hary mengatakan LKM BKD Kabupaten Pekalongan akan selalu berupaya mendorong peningkatan inklusi industri LKM. Dia bilang salah satunya dengan melakukan inovasi produk, baik simpanan maupun produk untuk masyarakat di kalangan bawah. 

"Ditambah, mempertahankan produk pinjaman bunga rendah yang bekerja sama dengan Pusat Investasi Pemerintah (PIP), serta penguatan tata kelola dengan prinsip kehati-hatian agar terhindar dari fraud untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat," tuturnya.

Sementara itu, Hary menyebut ada sejumlah tantangan yang dihadapi LKM dalam menyeimbangkan tingkat literasi dengan inklusi. Dia menyebut salah satu tantangannya adalah keterbatasan sumber daya manusia, kekurangsiapan infrastruktur, citra masyarakat yang negatif, serta persaingan tidak sehat dengan layanan jasa keuangan lain. 

"Tantangan juga datang dari dampak ekonomi saat ini, serta rendahnya literasi masyarakat non bankable karena ketidaktahuan mengenai fungsi dan produk LKM," ucap Hary.

Sebagai informasi, Hasil SNLIK 2026 menunjukkan, tingkat literasi keuangan nasional mencapai 69,57%, atau meningkat dari SNLIK 2025 yang sebesar 66,54%. Adapun indeks tingkat inklusi keuangan mencapai 93,61% pada SNLIK 2026, meningkat dari SNLIK 2025 yang sebesar 92,74%. 

Baca Juga: Budi Gadai Indonesia Dorong Literasi Guna Tingkatkan Inklusi Pergadaian

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×