Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) bersama Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO) menyalurkan pembiayaan dan tabungan formal senilai Rp 584,3 miliar kepada 25.378 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia dalam program Promise II Impact.
Manajer proyek Promise II Impact ILO Djauhari Sitorus menerangkan program Promise II Impact memadukan akses keuangan, peningkatan kapasitas, dan pemanfaatan teknologi digital melalui pendekatan rantai nilai yang berfokus pada tiga komoditas prioritas, yakni susu sapi perah, minyak nilam, dan rumput laut. Dia menyebut pencapaian yang telah dilakukan sejauh ini, akan diteruskan ke fase berikutnya.
"Paling penting bukan hanya berapa banyak orang yang memperoleh akses, melainkan perubahan perilaku dan ketahanan ekonomi yang dirasakan mereka (UMKM). Promise II Impact tidak berakhir di fase ini, tetapi akan kami bawa ke fase berikutnya," ujarnya dalam konferensi pers di kawasan Jakarta Pusat Selasa (13/10/2026).
Djauhari menyampaikan program itu juga dirancang untuk mengatasi tantangan yang dihadapi UMKM, mulai dari keterbatasan akses pembiayaan dan pasar hingga rendahnya efisiensi operasional. Dia bilang ILO menjalankan pendekatan berbasis pengembangan ekonomi daerah dengan menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pemerintah daerah, serta lembaga keuangan.
Djauhari juga menerangkan program tersebut juga tak hanya mengajari UMKM memahami pemasaran di marketplace, tetapi juga mengedepankan digitalisasi dalam transaksi bisnis yang berlangsung di rantai pasok komoditas.
Baca Juga: Pembiayaan Investasi Masih Mendominasi Penyaluran Multifinance ke Sektor UMKM
"Kami juga melakukan digitalisasi transaksi bisnis yang nyata. Kami menginvestasi beberapa komunitas keunggulan daerah dengan membantu peningkatan produktivitas, efisiensi, dan akses ke lembaga keuangan," ucapnya.
Untuk sektor susu sapi perah, Djauhari menyampaikan proyek itu bekerja sama dengan Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan di Jawa Barat. Melalui penerapan sistem Enterprise Resource Planning (ERP), dia bilang sebanyak 2.054 peternak telah terintegrasi, sekaligus didukung dengan penyaluran pembiayaan yang mencapai Rp 11,6 miliar.
Untuk komoditas minyak nilam di Aceh, program itu memanfaatkan platform MyNilam yang menghubungkan petani, pemerintah daerah, pusat riset, pengolah, lembaga keuangan dan pasar. Djauhari menerangkan kolaborasi itu mendorong ekspor 32 ton minyak nilam senilai Rp 30 miliar ke pasar global, termasuk Prancis, serta menumbuhkan 15-20 merek parfum lokal.
Berikutnya, untuk sektor rumput laut di Nusa Tenggara Timur (NTT), Djauhari menyampaikan program itu telah menghubungkan 216 petani rumput laut dan 57 pengepul melalui sistem ERP. Dari jumlah tersebut, dia bilang 24 petani telah berhasil mengakses pembiayaan formal dari Bank NTT dan membuka kesempatan mereka untuk memperkuat dan mengembangkan usaha.
Lebih lanjut, Djauhari mengatakan komitmen untuk memperluas dampak program tersebut akan dilanjutkan melalui Promise II Impact fase ketiga. Dia menyebut ILO bersama para pemangku kepentingan akan memperluas pendekatan rantai nilai ke komoditas baru, yaitu kopi di Lampung, sekaligus memperluas intervensi pada komoditas nilam di Sumatera Selatan dan susu sapi perah di Jawa Timur.
Baca Juga: SLIK Dinilai Belum Cukup, OJK Dorong Skema Penilaian Kredit Baru bagi UMKM
Djauhari menjelaskan fase ketiga juga akan mereplikasi sistem ERP, serta memperkuat infrastruktur digital Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di berbagai wilayah Indonesia. Dia menerangkan fase baru juga akan mengintegrasikan prinsip kesehatan finansial sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan ekonomi, mendukung pekerjaan layak dan mewujudkan penghidupan yang berkelanjutan.
Sebagai langkah awal untuk melanjutkan kolaborasi tersebut, Djauhari menyampaikan ILO bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan OJK akan menggelar Financial Health Pathways Forum pada Kamis (15/10/2026).
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono menyampaikan program Promise II Impact juga berkontribusi dalam memperluas akses keuangan dan memperkuat kapasitas UMKM.
Menurut Dicky, capaian dan pembelajaran dari program tersebut menjadi modal penting untuk mendorong inklusi keuangan yang makin berkualitas dan berdampak bagi masyarakat.
“Pengalaman dan pembelajaran dari Promise II Impact menjadi masukan berharga bagi OJK dalam memperkuat kebijakan dan kolaborasi ke depan. Dengan demikian, akses keuangan dapat makin mendorong produktivitas UMKM, ketahanan keuangan pekerja, dan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Dicky.
Sejak dimulai pada Maret 2023, proyek Promise to Impact memberikan pelatihan kepada lebih dari 2.300 wirausahawan dan 40% peserta pelatihan merupakan perempuan. Selain itu, program tersebut juga memperkuat digitalisasi enam BPR yang berpotensi memberi dampak positif bagi lebih dari 300.000 UMKM.
Baca Juga: Pembiayaan UMKM Tembus Rp 1.949 Triliun pada Juli 2026, Bank Kuasai 82,62%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














