kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Inflasi tinggi bikin NIM sulit digunting


Senin, 24 Januari 2011 / 09:13 WIB


Reporter: Bernadette Christina Munthe

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) meminta para bankir melakukan efisiensi perbankan dengan menekan Net Interest Margin (NIM). Namun industri perbankan menilai ini sulit dilakukan karena inflasi di tanah air masih tinggi.

“Sebabnya ada beberapa hal. Satu, inflasi lebih tinggi dari negara lain. Dengan sendirinya bunga lebih tinggi. Kedua risk premium debitur di Indonesia juga masih tinggi,” kata Arwin Rasyid, Direktur Utama Bank CIMB Niaga usai Bankers Dinner 2011 di Gedung Kebon Sirih, Kompleks Bank Indonesia, Jumat (21/1).

Namun Arwin optimis NIM akan turun dengan sendirinya karena persaingan antar bank. Gubernur Bank Indonesia menyatakan NIM Indonesia jauh di atas beberapa negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina. Di negara-negara tersebut, NIM berkisar 2,3% - 4,5% sementara NIM Indonesia tercatat 5,8%. Ke depan, perbankan akan didorong untuk ada di kisaran 4%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×