kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Inflasi tinggi bikin NIM sulit digunting


Senin, 24 Januari 2011 / 09:13 WIB


Reporter: Bernadette Christina Munthe |

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) meminta para bankir melakukan efisiensi perbankan dengan menekan Net Interest Margin (NIM). Namun industri perbankan menilai ini sulit dilakukan karena inflasi di tanah air masih tinggi.

“Sebabnya ada beberapa hal. Satu, inflasi lebih tinggi dari negara lain. Dengan sendirinya bunga lebih tinggi. Kedua risk premium debitur di Indonesia juga masih tinggi,” kata Arwin Rasyid, Direktur Utama Bank CIMB Niaga usai Bankers Dinner 2011 di Gedung Kebon Sirih, Kompleks Bank Indonesia, Jumat (21/1).

Namun Arwin optimis NIM akan turun dengan sendirinya karena persaingan antar bank. Gubernur Bank Indonesia menyatakan NIM Indonesia jauh di atas beberapa negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina. Di negara-negara tersebut, NIM berkisar 2,3% - 4,5% sementara NIM Indonesia tercatat 5,8%. Ke depan, perbankan akan didorong untuk ada di kisaran 4%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×