kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45899,31   5,35   0.60%
  • EMAS935.000 -0,53%
  • RD.SAHAM -0.64%
  • RD.CAMPURAN -0.17%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Ini alasan bank sulit menurunkan suku bunga kredit menurut ekonom


Minggu, 28 Februari 2021 / 17:33 WIB
Ini alasan bank sulit menurunkan suku bunga kredit menurut ekonom
ILUSTRASI. Petugas melayani nasabah. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memandang laju penurunan suku bunga kredit perbankan belum sesuai harapan. Pasalnya, sejak Juni 2019 lalu bank sentral sudah memangkas suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate (7DRR) sebesar 225 basis poin (bps) ke level 3,5%. 

Catatan BI menunjukkan sejak bulan Juni 2019 penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan secara rata-rata baru turun 116 bps. Praktis, hal ini menyebabkan spread SBDK BI7DRR cenderung melebar dari 5,27% pada Juni 2019 menjadi 6,36% per Desember 2020. 

Menurut Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede sejatinya suku bunga kredit pergerakannya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, biaya dana atau cost of fund (COF) yang dipengaruhi oleh kondisi likuiditas sektor perbankan. Kedua, overhead margin cost perbankan dan ketiga adalah risk premium yang terindikasi dari kondisi risiko kredit perbankan.

Nah, penurunan suku bunga kredit menurut pengamatan Josua dalam dua tahun terakhir dipengaruhi oleh penurunan cost of fund yang terindikasi dari tren penurunan suku bunga acuan BI serta kondisi likuiditas perbankan yang terkendali (manageable). Selain itu, penurunan suku bunga juga dipengaruhi oleh penurunan overhead margin cost yang juga mengalami penurunan seiring dengan meningkatkan efisiensi perbankan.

Baca Juga: Ini strategi perbankan mengelola dana pihak ketiga (DPK) pada tahun ini

Meski begitu, sejalan dengan tren perlambatan ekonomi domestik dalam dua tahun terakhir ini dan secara khusus dampak dari pandemic COVID-19 yang mempengaruhi kinerja keuangan sebagian besar sektor ekonomi, risiko kredit cenderung meningkat yang selanjutnya membatasi penurunan risk premium.

"Penurunan suku bunga diperkirakan akan cenderung terus berlanjut dalam jangka pendek merespon penurunan suku bunga acuan BI yang turun sebesar 125bps sepanjang tahun lalu serta penurunan sebesar 25 bps pada bulan Februari 2021," katanya kepada Kontan.co.id, Jumat (26/2). 

Hal itu merupakan kombinasi dari tren penurunan suku bunga acuan BI serta bauran kebijakan BI untuk mendorong ketersediaan likuiditas juga mendorong penurunan suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB).

Dengan tren suku bunga PUAB yang cenderung menurun mengindikasikan kondisi likuiditas perbankan membaik sehingga selanjutnya diharapkan dapat mendorong penurunan cost of fund yang selanjutnya akan mendorong penurunan suku bunga kredit sehingga mendorong transmisi pelonggaran kebijakan moneter yang menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×