kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ini perkembangan terkini merger BNI Syariah dan UUS BTN


Selasa, 13 Februari 2018 / 17:50 WIB
ILUSTRASI. Aset BTN Syariah


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Sofyan Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Merger antara bisnis syariah PT Bank Negara Indonesia Tbk  (BNI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) kemungkinan masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Maklum, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih menunggu holding BUMN keuangan terbentuk.

Iman Nugroho Soeko Direktur Keuangan dan Treasury BTN bilang sebelum merger dilakukan, bank harus melakukan spin off atau pemisahan terhadap unit bisnis syariah. "Karena proses spin off membutuhkan biaya yang tidak sedikit, makanya jika modal pas-pasan harus ada tambahan modal," kata Iman, Selasa (13/2).

Dengan aset unit usaha syariah Rp 20 triliun maka dibutuhkan biaya spin off paling tidak Rp 2,5 triliun agar rasio permodalan bisa terjaga di kisaran 16%. Selain itu BTN juga berusaha menjaga ATMR (aset tertimbang menurut risiko) setelah spin off. BTN juga harus menjaga agar kinerja bank bisa tetap tumbuh setelah spin off ini dilakukan.

Namun jika pemegang saham dalam hal ini pemerintah memaksa untuk melakukan merger, maka BTN siap melakukan ini. Awalnya, BTN baru akan melakukan spin off terhadap unit usaha syariah BTN ketika aset sudah mencapai Rp 25 triliun- Rp 30 triliun atau siap masuk BUKU III.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×