Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jelang rilis laporan kinerja sepanjang 2023 dalam dua pekan ke depan, saham bank-bank besar yang masuk dalam Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) 4 justru mengalami koreksi terbatas.
Namun, analis menilai saham-saham tersebut tetap ada potensi mengalami kenaikan dan layak dikoleksi dalam jangka panjang.
Pada perdagangan bursa (22/1), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami koreksi paling dalam di antara bank KBMI 4 lainnya dengan turun 0,43% menjadi Rp 5.775 per saham. Selanjutnya, ada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang turun 0,38% menjadi Rp 6.500 per saham.
Baca Juga: Menakar Potensi Saham-Saham BUMN Menjelang Musim Kampanye Pemilu & Pilpres
Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup stagnan dan bertahan di level Rp 9.625 per saham. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi satu-satunya yang berada di zona hijau dengan naik 0,45% menjadi Rp 5.525 per saham.
Meskipun BBRI dan BMRI mengalami koreksi di awal pekan ini, dua saham ini justru sudah menembus All Time High (ATH) pada awal 2024. BBRI tembus ATH pada 12 Januari 2024 di level Rp 5.850 per saham dan BMRI lebih dulu menembus ATH pada 5 Januari 2024 di level Rp 6.475 per saham.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengungkapkan bahwa momen menjelang paparan kinerja ini tepat untuk mengoleksi saham-saham bank big caps. Mengingat, kinerja bank-bank tersebut sudah dipastikan bagus berkaca dari kinerja mereka hingga kuartal 3/2023.
”Terlebih momen Natal dan tahun baru di kuartal 4 bisa mendorong kinerja perbankan untuk melanjutkan tren kenaikan,” ujar Nico, Senin (22/1).
Baca Juga: BBRI BMRI BBCA & BBTN Diprediksi Cetak Laba Besar, Saham Apa Yang Prospek Investasi?
Ia pun memproyeksikan saat ini saham bank yang layak untuk dicermati jelang paparan kinerja adalah BRI. Sebab, Nico melihat kehadiran holding ulta mikro yang dikepalai oleh BRI sudah menunjukkan kontribusi yang signifikan bagi bank yang fokus pada segmen UMKM ini.
Selain itu, ada BCA yang menurut Nico juga layak untuk dicermati kinerjanya. Mengingat, secara historis, bank milik Grup Djarum ini secara konsisten terus mengalami pertumbuhan kinerja. ”Tapi Bank Mandiri dan BNI juga tidak boleh dipandang sebelah mata,” ujar Nico.
Sementara itu, ia melihat peluang ATH pasti akan selalu ada untuk saham-saham emiten perbankan big caps ini. Menurutnya, itu semua tentu akan tergantung pada kinerja fundamental dari masing-masing bank.
Ia pun menilai proyeksi kinerja perbankan di 2024 ini juga memiliki peluang untuk tumbuh lebih tinggi. Sebab, ada kemungkinan penurunan suku bunga yang bisa menurunkan biaya dana yang dikeluarkan perbankan.
Untuk saat ini, ia melihat target saham BMRI ada di level Rp 7.000 per saham, BBRI ada di level Rp 6.400 per saham, BBCA ada di level Rp 10.500 per saham, dan BBNI ada di level Rp 6.100 per saham.
Baca Juga: Sejumlah Bank Besar Bagi Dividen Interim, Simak Prospeknya
”Kalau di luar KBMI 4, Bank CIMB Niaga, BSI, dan BTN juga bisa memiliki prospek yang bagus,” ujarnya.
Sedikit berbeda, CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo menilai pergerakan saham bank big caps ini akan terbatas jelang paparan kinerja 2023. Sebab, investor sudah cenderung mengantisipasi rilis kinerja tersebut sejak akhir tahun 2023.
Oleh karenanya, meskipun kinerja keuangan perbankan di 2024 ini bakal lebih bagus dari tahun sebelumnya, itu tak akan langsung terefleksi pada kinerja saham perbankan. Sebab, ekspektasi kinerja positif sudah dilihat investor sebelum 2024 terlebih jelang pembagian dividen final perbankan.
Baca Juga: Laba Bersih Melaju, ASII Akan Bagikan Dividen Lebih Tinggi
”Akselerasi pertumbuhan diperkirakan lebih lambat dibandingkan torehan tahun lalu karena ekpestasi positif 2024 sudah lebih dulu direspons investor. Peluang untuk new ATH tetap ada” ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Utama BRI Sunarso bilang tetap memiliki optimisme besar untuk menjalani iklim bisnis di 2024. Ia menilai saat ini BRI memiliki fundamental yang kuat dengan ditopang oleh stimulus fiskal.
Di sisi lain, faktor pemilihan umum bisa menjadi penopang pertumbuhan kinerja di tahun ini. Di mana, manajemen risiko perbankan saat ini sudah kuat karena telah menghadapi krisis berkali-kali. ”BRI juga telah memiliki sumber pertumbuhan baru yakni holding ultra mikro,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)