kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.911   11,00   0,06%
  • IDX 6.334   -5,54   -0,09%
  • KOMPAS100 835   -3,80   -0,45%
  • LQ45 633   -4,09   -0,64%
  • ISSI 218   -0,18   -0,08%
  • IDX30 356   -2,06   -0,58%
  • IDXHIDIV20 441   -2,49   -0,56%
  • IDX80 95   -0,52   -0,54%
  • IDXV30 119   0,04   0,03%
  • IDXQ30 114   -0,74   -0,65%

Kedua Bank Ini Bidik Jadi Bank Syariah Terbesar Jadi Pesaing BSI


Rabu, 22 Juli 2026 / 17:02 WIB
Kedua Bank Ini Bidik Jadi Bank Syariah Terbesar Jadi Pesaing BSI
ILUSTRASI. CIMB Niaga Luncurkan Kartu Pembiayaan Digital OCTO Card Syariah (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan industri perbankan syariah diperkirakan semakin memanas dalam beberapa tahun ke depan. Sejumlah bank mulai mempersiapkan strategi untuk menjadi pemain besar, sejalan dengan target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membentuk tiga hingga lima bank syariah berskala besar sebagai penyeimbang PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).

Salah satu yang memasang target agresif adalah Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga Tbk. Setelah resmi melakukan spin off menjadi bank umum syariah (BUS), perseroan membidik posisi sebagai bank syariah terbesar kedua di Indonesia paling lambat pada 2030.

Direktur Syariah CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara mengatakan proses spin off saat ini tinggal menunggu izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: SMF Salurkan Pembiayaan Mencapai Rp 14,09 Triliun di Sepanjang Semester I-2026

"Di akhir semester II ini targetnya, kami masih menunggu perizinan lanjutan dari regulator," ujar Pandji kepada Kontan.co.id.

Menurut Pandji, target menjadi bank syariah terbesar kedua sejalan dengan arah kebijakan regulator yang ingin memperkuat struktur industri perbankan syariah nasional.

"Target kami menjadi bank syariah terbesar kedua, selambat-lambatnya pada 2030," katanya.

Untuk mencapai target tersebut, CIMB Niaga Syariah akan tetap memanfaatkan sinergi dengan induk melalui skema full leveraging, namun fokus ekspansi akan bergeser ke segmen ritel dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama komunitas muslim.

"Strateginya tetap leveraging dengan induk, tetapi kami akan lebih menyasar segmen SME dan konsumer, khususnya komunitas muslim," ujarnya.

Saat ini sekitar 45% portofolio pembiayaan CIMB Niaga Syariah masih berasal dari segmen korporasi dan komersial. Ke depan, porsi tersebut ditargetkan turun menjadi sekitar 20%, sementara pembiayaan akan lebih difokuskan ke segmen ritel dan UMKM.

Perusahaan juga menargetkan aset melampaui Rp 100 triliun pada 2030. Sebagai gambaran, hingga Maret 2026 aset CIMB Niaga Syariah telah mencapai Rp 58,82 triliun.

Baca Juga: Transaksi Pembayaran Digital Melesat 36,88% pada Kuartal II-2026, QRIS Tumbuh 100%

Selain mengembangkan pembiayaan ritel dan UMKM, pertumbuhan bisnis juga akan ditopang penguatan layanan digital berbasis OCTO, pemanfaatan jaringan kantor induk melalui skema full leveraging, serta peningkatan porsi pembiayaan hijau (green financing).

Meski memasang target pertumbuhan yang agresif, Pandji memastikan hingga kini perseroan belum memiliki rencana melakukan merger maupun akuisisi.

"Belum ada rencana aksi korporasi. Tetapi kalau di tengah perjalanan ada peluang yang baik tentu akan kami eksplorasi. Yang jelas saat ini belum ada," ujarnya.

Sementara itu, PT Bank Syariah Nusantara (BSN) juga membidik posisi sebagai salah satu bank syariah besar nasional, namun memilih memperkuat pertumbuhan organik dibandingkan melakukan aksi korporasi.

Direktur Utama BSN Alex Sofjan Noor mengatakan perseroan menyambut positif target OJK membentuk tiga hingga lima bank syariah besar sebagai upaya memperkuat daya saing industri.

"Bank BSN menyambut positif arah kebijakan OJK dalam memperkuat industri perbankan syariah nasional. Sebagai entitas yang telah berdiri sendiri, Bank BSN berkomitmen menjadi salah satu bank syariah terkemuka yang berkontribusi terhadap penguatan ekosistem keuangan syariah di Indonesia," ujarnya.

Menurut Alex, fokus utama BSN saat ini adalah membangun fondasi bisnis yang kuat melalui pertumbuhan aset, pembiayaan, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), serta pengembangan ekosistem keuangan syariah.

Baca Juga: Penyaluran Kredit Lebih Longgar, BI Beberkan Sektor yang Potensial Digenjot

Tahun ini BSN menargetkan aset sekitar Rp 87 triliun, pembiayaan Rp 66 triliun, dan DPK Rp 69 triliun.

Hingga Mei 2026, aset BSN telah mencapai Rp 78 triliun. Sementara pembiayaan tumbuh 22,68% secara tahunan menjadi Rp 58,38 triliun, sedangkan DPK naik 14,68% menjadi Rp 60,62 triliun.

Alex mengatakan, dalam tiga hingga lima tahun mendatang BSN akan memperkuat bisnis berbasis ekosistem, meningkatkan penghimpunan dana murah alias current account savings account (CASA), serta memperluas digitalisasi layanan.

"Bank BSN juga akan terus meningkatkan efektivitas jaringan distribusi, mempercepat digitalisasi proses bisnis, serta memperkuat kualitas layanan agar dapat memberikan pengalaman yang lebih baik kepada nasabah," katanya.

Di tengah tren konsolidasi industri, BSN juga belum berencana melakukan merger maupun akuisisi.

"Saat ini prioritas utama Bank BSN adalah memperkuat pertumbuhan secara organik. Dengan fondasi yang kuat, kami akan memiliki fleksibilitas yang lebih besar untuk memanfaatkan berbagai peluang pertumbuhan di masa depan," ujar Alex.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×