kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Ketua IAEI: Bank syariah belum efisien


Selasa, 10 Maret 2015 / 18:19 WIB
ILUSTRASI. Fasilitas produksi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) di Cilegon, Banten. (KONTAN/Muradi)


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Mesti Sinaga

JAKARTA. Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) menilai perkembangan industri Perbankan Syariah masih lambat. Salah satunya karena cost of fund alias biaya pendanaan maupun cost of operational-nya masih tinggi.

Menurut ketua IAEI Bambang Brojonegoro, tingginya biaya dana dan operasional itu membuat industri tidak efisien.  

Karena itu otoritas dan pemerintah harus mengeluarkan kebijakan yang bisa mendorong perbankan  syariah mengurangi bebannya.  Apa lagi potensi industri perbankan syariah di Indonesia cukup besar.

"Yang paling penting adalah efisiensi, sehingga cost of fund turun," ujar Bambang, Selasa (10/3) di kantor Wakil Presiden, Jakarta.

Bambang yang juga merupakan Menteri Keuangan ini menjelaskan, saat ini biaya pendanaan bank syariah lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional.

Nah, untuk menekan biaya pendanaan, salah satunya adalah dengan simplifikasi instrumen syariah.

Misalnya, terkait penggunaan istilah yang tidak perlu memakai Bahasa Arab, tetapi mengonversinya menjadi Bahasa Indonesia. Dengan demikian, perbankan syariah harus menggunakan sistem yang mendekati ekonomi Indonesia, bukan sistem syariah ala Timur Tengah, maupun Malaysia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×