Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
SVP Consumer Credit Division BCA Melani Megawati mengatakan, BCA mengandalkan penguatan layanan digital untuk menopang penyaluran KPR. Salah satunya melalui platform rumahsaya.bca.co.id yang diklaim memudahkan calon debitur mencari properti, melakukan simulasi kredit, hingga mengajukan pembiayaan secara daring. "Integrasi layanan ini diarahkan untuk memangkas proses dan meningkatkan kenyamanan nasabah di tengah persaingan ketat pembiayaan perumahan," katanya akhir pekan lalu.
Selain proses akuisisi kredit, BCA juga memperluas layanan purna jual KPR. Nasabah kini dapat memantau sisa angsuran melalui aplikasi myBCA dan mengakses layanan informasi KPR melalui haloBCA. Langkah ini menegaskan fokus BCA pada retensi nasabah, bukan semata mengejar ekspansi kredit baru.
Dari sisi harga, BCA tetap mengandalkan skema bunga fixed berjenjang. Skema ini menawarkan bunga rendah di awal tenor yang kemudian meningkat secara bertahap. BCA menilai pola tersebut relevan bagi debitur muda yang diproyeksikan mengalami kenaikan pendapatan dalam jangka menengah. Namun, strategi ini juga menyiratkan adanya risiko penyesuaian cicilan di masa depan ketika suku bunga memasuki fase yang lebih tinggi.
Untuk mendorong permintaan jangka pendek, BCA kembali memanfaatkan momentum pameran melalui BCA Expoversary 2026 dengan menawarkan bunga KPR 1,69% fixed satu tahun, disertai potongan provisi dan premi asuransi. Strategi promosi ini menjadi salah satu andalan bank dalam menjaga minat beli di tengah daya beli masyarakat yang masih selektif.
Optimisme BCA terhadap pertumbuhan KPR juga ditopang oleh kebijakan fiskal pemerintah, khususnya perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah baru. Insentif tersebut dinilai masih menjadi faktor penting dalam menjaga permintaan properti pada 2026. Meski demikian, keberlanjutan pertumbuhan KPR ke depan tetap akan sangat bergantung pada perbaikan daya beli dan stabilitas suku bunga.













