Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan saham bank-bank berkapitalisasi besar atau big banks bergerak bervariasi pada penutupan perdagangan Jumat (10/7).
Mengacu data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup melemah 0,40% ke level Rp 6.175 per saham. Meski begitu, dalam sepekan terakhir saham BBCA masih menguat 2,07%.
Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) ditutup stagnan di level Rp 3.420 per saham, tetapi masih mencatat kenaikan mingguan sebesar 5,23%.
Adapun saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 0,36% ke level Rp 2.790 per saham atau menguat 2,95% dalam sepekan.
Baca Juga: BSI dan BPJS Ketenagakerjaan Kolaborasi Buka Akses KPR Syariah 30 Tahun untuk Pekerja
Sedangkan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 0,99% ke level Rp 4.080 per saham dengan kenaikan mingguan sebesar 1,75%.
Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan, pergerakan saham perbankan saat ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.
Menurutnya, dari sisi eksternal, sentimen membaik setelah saham-saham teknologi di Amerika Serikat kembali menguat sehingga meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang.
Sementara dari dalam negeri, ekspektasi kinerja keuangan kuartal II-2026 yang masih solid, valuasi saham big banks yang dinilai murah, serta mulai stabilnya nilai tukar rupiah menjadi faktor penopang sektor perbankan.
"Meski demikian, arus dana asing masih cenderung selektif dan belum menunjukkan masuk secara agresif ke sektor perbankan. Investor asing masih menunggu kepastian arah suku bunga, kondisi likuiditas perbankan, serta perkembangan isu MSCI sebelum meningkatkan eksposur secara signifikan," ujar Andrey kepada Kontan.co.id, Jumat (10/6).
Untuk pekan depan, RHB Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi overweight terhadap sektor perbankan.
Saham yang menjadi pilihan utama yakni BMRI, BBRI, BRIS, dan BBTN, sedangkan BBCA tetap direkomendasikan sebagai pilihan defensif berkat kualitas aset dan likuiditasnya yang kuat.
Adapun target harga yang diberikan RHB Sekuritas masing-masing sebesar Rp 9.700 untuk BBCA, Rp 7.600 untuk BMRI, Rp 5.900 untuk BBRI, Rp 6.300 untuk BBNI, Rp 2.460 untuk BRIS, Rp 1.600 untuk BBTN, dan Rp 2.000 untuk BNGA.
Menurut Andrey, sentimen utama yang perlu dicermati investor pada semester II-2026 meliputi rilis kinerja kuartal II, perkembangan likuiditas perbankan, arah kebijakan Bank Indonesia, pergerakan nilai tukar rupiah, arus dana asing, serta kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi pertumbuhan kredit.
"Valuasi sektor yang masih berada di bawah rata-rata historis juga memberikan ruang bagi potensi re-rating apabila sentimen pasar terus membaik," katanya.
Senada, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai kinerja industri perbankan hingga Mei 2026 telah memberikan gambaran yang cukup representatif terhadap performa semester I, meski hasil akhir masih akan dipengaruhi realisasi pada Juni.
Ia mengatakan pertumbuhan kredit masih berlangsung, namun lebih selektif seiring tingginya suku bunga riil, likuiditas yang relatif ketat, serta permintaan kredit yang belum sepenuhnya pulih.
Menurut Nafan, dalam jangka pendek bank swasta berpotensi mencatat pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
"Bank swasta cenderung lebih fleksibel dalam mengelola pricing kredit, menghimpun dana murah (CASA), serta fokus pada segmen dengan margin yang lebih tinggi sehingga mampu menjaga pertumbuhan laba relatif lebih baik," ujarnya.
Sebaliknya, bank-bank Himbara masih menjalankan berbagai penugasan pemerintah sehingga pertumbuhan bisnisnya relatif lebih konservatif dan margin keuntungan berpotensi lebih tertekan.
Meski demikian, Nafan menilai kesenjangan tersebut dapat menyempit apabila kondisi likuiditas membaik, biaya dana (cost of fund) turun, serta Bank Indonesia kembali melanjutkan siklus pelonggaran suku bunga.
Ia melihat peluang pertumbuhan kredit bank swasta masih terbuka, terutama pada sektor konsumsi, hilirisasi, infrastruktur, pusat data (data center), manufaktur, kesehatan, hingga pembiayaan rantai pasok (supply chain financing).
Selain itu, transformasi digital juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional sehingga profitabilitas bank tetap terjaga.
Untuk semester II-2026, Nafan menyebut sejumlah faktor yang akan menjadi penentu kinerja industri perbankan antara lain arah suku bunga Bank Indonesia dan The Fed, stabilitas nilai tukar rupiah, kualitas aset, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), kondisi likuiditas, percepatan belanja pemerintah, aktivitas investasi swasta, hingga perkembangan ekonomi global.
Apabila faktor-faktor tersebut bergerak positif, prospek pertumbuhan kredit dan laba industri perbankan diperkirakan akan semakin membaik pada paruh kedua tahun ini.
Nafan juga merekomendasikan accumulative buy untuk saham-saham bank besar dengan target harga Rp 7.900 untuk BBCA, Rp 4.220 untuk BBNI, Rp 3.450 untuk BBRI, dan Rp 5.600 untuk BMRI.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Laju Penyaluran Gadai Emas Pegadaian Melambat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













