kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.754.000   -31.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.853   30,00   0,17%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Konflik Global Mulai Tekan Pendapatan Premi Reasuransi Energi Onshore


Kamis, 28 Mei 2026 / 16:11 WIB
Konflik Global Mulai Tekan Pendapatan Premi Reasuransi Energi Onshore
ILUSTRASI. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) (DOK/PHE)


Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen geopolitik global dan fluktuasi harga minyak dinilai mulai memengaruhi pergerakan premi reasuransi energi onshore sepanjang tahun ini.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat premi lini energi onshore turun 17% secara year on year (yoy) menjadi Rp 30 miliar per Maret 2026.

Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo mengatakan konflik global memberikan tekanan terhadap bisnis asuransi dan reasuransi energi onshore, terutama melalui peningkatan eksposur risiko pada aset dan infrastruktur energi.

Baca Juga: Membedah Risiko dan Dampak Fraud KPR ke Perbankan

“Konflik global meningkatkan eksposur risiko terhadap aset dan infrastruktur energi. Ketegangan di wilayah Timur Tengah, misalnya, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global,” ujar Irvan kepada Kontan, Selasa (26/5/2026).

Ia mengamati kondisi tersebut membuat industri reasuransi global mulai melakukan penyesuaian terhadap tarif premi dan kebijakan underwriting. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi potensi lonjakan klaim akibat konflik geopolitik maupun gangguan operasional sektor energi.

“Situasi ini meningkatkan eksposur risiko dan biaya operasional sehingga perusahaan asuransi melakukan penyesuaian harga premi dan pengetatan underwriting,” katanya.

Irvan menambahkan, ketidakpastian geopolitik juga menyebabkan sebagian pelaku industri energi menunda ekspansi maupun proyek baru. Kondisi itu berdampak pada berkurangnya permintaan polis baru di lini energi onshore, sehingga turut menekan perolehan premi.

Kendati demikian, ia menilai prospek bisnis asuransi energi onshore hingga akhir tahun masih cukup kompetitif meski dibayangi volatilitas geopolitik dan risiko bencana alam.

Ia menyebut pergerakan premi pada lini tersebut saat ini masih berada dalam kondisi soft market atau pelunakan tarif premi. Namun, perusahaan asuransi dan reasuransi cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan akseptasi risiko. “Pasar tetap kompetitif, tetapi seleksi risiko semakin ketat di tengah ketidakpastian global,” tuturnya.

Baca Juga: Bank Rakyat Indonesia (BRI) Salurkan KUR Rp 65,95 Triliun per April 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×