Reporter: Aura Putri | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) mulai menjadi perhatian industri perbankan dalam mengelola biaya dana (cost of fund/CoF). Meski BI telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin menjadi 5,75% sejak awal tahun, dampaknya terhadap biaya dana dinilai belum sepenuhnya terasa lantaran terdapat jeda transmisi.
Sejumlah bank bahkan masih mampu menjaga biaya dana tetap rendah dengan mengandalkan dominasi dana murah atau current account saving account (CASA).
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn mengatakan, biaya dana BCA hingga saat ini masih relatif terjaga berkat keunggulan bisnis perbankan transaksi yang dimiliki perseroan.
"Cost of fund BCA relatif terjaga sehubungan dengan keunggulan perbankan transaksi yang dimiliki BCA," ujar Hera kepada Kontan.
Baca Juga: Bank Mandiri Optimistis Biaya Dana Terjaga di Level 1,9% Saat Suku Bunga Tinggi
Per Maret 2026, CASA BCA tercatat mencapai Rp 1.089 triliun atau tumbuh 11,2% secara tahunan. Porsi CASA mendominasi sekitar 85,2% dari total dana pihak ketiga (DPK), yang dinilai mendukung stabilitas biaya dana.
Sementara itu, kredit bank only BCA hingga Mei 2026 tumbuh menjadi Rp 969 triliun.
Tren serupa juga terlihat di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Hingga akhir Maret 2026, DPK BRI mencapai Rp 1.555,1 triliun, naik 9,4% secara tahunan. Porsi CASA meningkat menjadi 68,07% dari total DPK, lebih tinggi dibandingkan 65,77% pada periode yang sama tahun lalu.
Pendanaan tersebut mendorong biaya dana BRI turun menjadi 2,33% pada kuartal I-2026 dari 2,98% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk mencatat biaya dana sebesar 1,97% pada kuartal I-2026, lebih rendah dibandingkan 2,15% pada kuartal sebelumnya. Bank berkode saham BMRI ini juga menargetkan biaya dana tetap berada di kisaran 1,9% hingga akhir tahun.
Baca Juga: Biaya Dana Berpotensi Menekan Kinerja, Perbankan Atur Strategi Jaga Profitabilitas
Komponen biaya dana terbesar masih berasal dari deposito sebesar 3,96%, turun tipis dari 4% pada kuartal sebelumnya. Adapun biaya dana giro dan tabungan masing-masing tercatat sebesar 1,83% dan 0,34%.
Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto menilai, kenaikan BI Rate memang akan mendorong penyesuaian biaya dana perbankan. Namun, dampaknya tidak terjadi secara langsung.
"Kalaupun ada penyesuaian terkait cost of fund, ya pasti ada. Tapi ada lagging juga, jadi tidak langsung," kata Myrdal kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, tekanan terhadap biaya dana saat ini lebih banyak dipengaruhi ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik, kenaikan harga minyak, hingga penguatan dolar Amerika Serikat yang mendorong industri perbankan bersikap lebih defensif.
Meski demikian, Myrdal memperkirakan dampak kenaikan biaya dana terhadap margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dan profitabilitas perbankan masih akan terbatas.
"Kalaupun turun juga kita lihat tidak banyak," ujarnya.
Ke depan, perbankan diperkirakan akan terus mengandalkan penguatan dana murah, menjaga likuiditas, dan mengelola struktur pendanaan secara hati-hati agar kenaikan biaya dana tetap terkendali di tengah suku bunga yang masih tinggi.
Baca Juga: Perbankan Proyeksikan Biaya Dana Terus Terjaga pada 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














