kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.894   85,00   0,51%
  • IDX 8.017   -218,65   -2,65%
  • KOMPAS100 1.125   -31,30   -2,71%
  • LQ45 812   -21,87   -2,62%
  • ISSI 286   -6,72   -2,30%
  • IDX30 429   -10,83   -2,46%
  • IDXHIDIV20 517   -9,75   -1,85%
  • IDX80 126   -2,90   -2,25%
  • IDXV30 141   -2,38   -1,66%
  • IDXQ30 138   -3,69   -2,61%

Konflik Iran vs Israel-AS Memanas, Asuransi Maritim Cabut Perlindungan Risiko Perang


Senin, 02 Maret 2026 / 20:36 WIB
Konflik Iran vs Israel-AS Memanas, Asuransi Maritim Cabut Perlindungan Risiko Perang


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Konflik Iran yang semakin meluas memicu gangguan serius pada perdagangan energi global.

Perusahaan asuransi maritim mulai membatalkan perlindungan risiko perang untuk kapal yang beroperasi di kawasan Teluk, sementara tarif pengiriman minyak diperkirakan melonjak tajam.

Melansir Reuters Senin (2/3/2026), keputusan ini diambil setelah setidaknya tiga kapal tanker mengalami kerusakan, satu pelaut tewas, dan sekitar 150 kapal terpaksa berhenti berlayar di sekitar Selat Hormuz.

Baca Juga: BTN Targetkan Transaksi Digital Naik 15% di Ramadan, Bale by BTN Jadi Andalan

Iran melancarkan serangan balasan terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel setelah kedua negara tersebut melakukan serangan terhadap Iran pada Sabtu lalu.

Eskalasi konflik dalam 24 jam terakhir secara drastis meningkatkan risiko bagi pelayaran komersial.

Data pelayaran menunjukkan, sedikitnya 150 kapal termasuk tanker minyak dan gas alam cair (LNG) menjatuhkan jangkar di perairan sekitar Selat Hormuz pada Minggu.

Selat Hormuz merupakan jalur vital energi global. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia biasanya dikirim melalui jalur ini dari negara-negara produsen seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Iran, dan Kuwait.

Selain minyak mentah, kapal tanker juga mengangkut diesel, avtur, bensin, dan berbagai produk energi lainnya.

Gangguan ini langsung memicu lonjakan harga minyak global hingga sekitar 9% pada Senin.

Baca Juga: Bencana Alam Berpotensi Dongkrak Klaim, Tugu Insurance Pastikan Rasio Tetap Terjaga

Asuransi Risiko Perang Dicabut

Sejumlah perusahaan asuransi maritim besar seperti Gard, Skuld, NorthStandard, London P&I Club, dan American Club mengumumkan pembatalan perlindungan risiko perang bagi kapal yang beroperasi di kawasan tersebut.

Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 5 Maret, menurut pemberitahuan resmi yang dipublikasikan pada 1 Maret.

Perlindungan risiko perang akan dikecualikan untuk perairan Iran, kawasan Teluk, serta wilayah perairan di sekitarnya.

Perusahaan asuransi Skuld menyatakan, tengah mempertimbangkan opsi “buy-back” bagi pemilik kapal yang ingin kembali memperoleh perlindungan asuransi.

Sementara itu, perusahaan Jepang MS&AD Insurance Group juga menyatakan menghentikan sementara penjaminan polis asuransi yang mencakup risiko perang di perairan sekitar Iran, Israel, dan negara-negara tetangganya.

Baca Juga: BNI Targetkan Transaksi Digital Tumbuh 39% pada Momen Ramadan dan Lebaran 2026

Tarif Pengiriman Minyak Berpotensi Melonjak

Di sisi lain, biaya pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia diperkirakan akan meningkat lebih lanjut.

Konflik yang meluas membuat banyak pemilik kapal enggan mengirim armadanya ke kawasan tersebut.

Tarif pengiriman spot dari Timur Tengah ke Asia yang dikenal sebagai rute TD3C diprediksi terus naik. Sejak awal 2026, tarif ini telah melonjak hampir tiga kali lipat.

Menurut para broker kapal, tarif sewa kapal tanker raksasa (very large crude carrier/VLCC) untuk rute Timur Tengah ke China pada Senin pagi di Asia naik sekitar 4% dibandingkan Jumat, mendekati level W225 dalam ukuran industri Worldscale, atau setara dengan setidaknya US$12 juta.

Baca Juga: Transaksi Digital CIMB Niaga Diproyeksi Naik 20%-30% Pada Ramadan dan Lebaran 2026

Analis senior LSEG Emril Jamil mengatakan, tarif pengiriman sudah meningkat tajam bahkan sebelum serangan terbaru terjadi.

“Tarif TD3C sudah meningkat secara eksponensial sebelum serangan, dan kemungkinan tetap tinggi karena negara-negara berlomba memenuhi kebutuhan energi mereka,” ujarnya.

Selain itu, pasar juga diperkirakan membutuhkan lebih banyak kapal untuk mengangkut minyak dari Amerika Serikat dan Afrika Barat melalui rute pelayaran yang lebih panjang.

Kondisi ini berpotensi mendorong tarif pengiriman di jalur tersebut semakin tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×