Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis industri perbankan dalam negeri bisa menghadapi tekanan dari ketegangan geopolitik global.
Tensi geopolitik masih terus memanas memasuki hari kelima perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Melihat kondisi saat ini, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menyoroti kemampuan industri perbankan melewati berbagai krisis di masa lalu.
“Perbankan sudah beberapa kali mengalami shock seperti ini, di rezim-rezim sebelumnya, mereka bisa survive hingga hari ini,” ujar Dian saat ditemui setelah Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner OJK, Selasa (3/3/2026).
Pun, saat ini industri perbankan masih mencatatkan kinerja positif, dengan permodalan yang kuat dan likuiditas yang longgar. Hingga Januari 2026, OJK mencatat rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) industri di level 25,87%.
Baca Juga: Mewaspadai Efek Ketegangan Geopolitik Global Terhadap Industri Perbankan
Dari segi likuiditas, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,48% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 10.076 triliun dengan rasio alat likuid AL/NCD turun menjadi 121,23% dari posisi 126,15% dan AL/DPK menjadi 27,54% dari 28,57% pada akhir tahun lalu.
Capaian ini diyakini bisa menjadi buffer mitigasi risiko yang kuat di tengah kondisi ketidakpastian global. Lagipula, standar buffer yang kini dipakai industri perbankan domestik sudah lebih tinggi dari standar global yang ditetapkan Basel Committee on Banking Supervision.
“Jadi kita punya confidence,” tegas Dian.
Kendati begitu, Dian juga tak menampik konflik berkepanjangan bisa membawa berbagai risiko nyata bagi industri perbankan. Pasalnya, pengusaha ekspor-impor di Indonesia tak sedikit, dan ketidakpastian harga pada gilirannya bakal berdampak bagi nasabah bank dari kalangan itu.
Baca Juga: Rupiah Melemah Imbas Konflik di Timur Tengah, BI: Intervensi Terus Dilakukan
“Tentu dampak lanjutannya, kalau ini berlangsung terlalu lama, tentu kita harus waspadai terhadap kondisi kredit. Karena para pengusaha kan ada yang ekspor, impor, dan lain sebagainya. Nah itu akan ada kenaikan biaya yang akan memengaruhi, tidak langsung kepada bank, juga mungkin ke nasabah,” jelasnya.
Dalam agenda yang sama, Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi juga memastikan pihaknya telah menyiapkan serangkaian instrumen kebijakan yang dapat diaktifkan untuk menghadapi situasi pasar jika diperlukan nantinya.
“Kami juga akan terus melakukan reformasi struktural untuk memperkuat fundamental sektor keuangan Indonesia,” kata wanita yang akrab disapa Kiki itu.
Namun, pihaknya juga mengimbau seluruh lembaga jasa keuangan agar terus melakukan monitoring terhadap dinamika global, memperkuat manajemen risiko, serta melakukan stress testing berkala guna mengantisipasi skenario tekanan.
Baca Juga: OJK Cermati Tiga Dampak Ketegangan Geopolitik Global
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













