Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspansi kredit perbankan semakin kencang, tetapi pertumbuhan tersebut mulai diikuti kenaikan kredit berisiko.
Kondisi ini menjadi sinyal bagi perbankan untuk lebih selektif menjaga kualitas aset, terutama di tengah pertumbuhan kredit UMKM dan ritel yang masih terbatas.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding kredit perbankan mencapai Rp 9.178 triliun pada Agustus 2026, tumbuh 13,65% secara tahunan. Pertumbuhan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 13,58%.
Ekspansi kredit terutama ditopang oleh lima bank BUMN yang mencatat pertumbuhan kredit sebesar 16,41%. Namun, di sisi lain, rasio kredit berisiko atau loan at risk (LAR) ikut meningkat.
Baca Juga: Bank Mandiri Terbitkan Perpetual Bond US$ 750 Juta, Ekonom Soroti Likuiditas & CAR
Pada Agustus 2026, rasio LAR perbankan naik menjadi 8,56% dari sekitar 8,39% pada Juli. Secara nilai, kredit berisiko meningkat menjadi Rp 785,6 triliun dari Rp 766,4 triliun sebulan sebelumnya.
Meski rasio tersebut masih lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar 8,77%, nilai kredit berisiko kini lebih tinggi. Pada akhir tahun lalu, nilai LAR tercatat sekitar Rp752,9 triliun.
Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan peningkatan LAR terutama berasal dari segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta komersial.
Kondisi tersebut sejalan dengan pertumbuhan kredit UMKM yang masih terbatas, yakni hanya 2,32% secara tahunan pada Agustus 2026.
Baca Juga: Laba Permata Bank (BNLI) Tumbuh 16,6% pada Kuartal I-2026
Perkembangan kredit berisiko ke depan juga akan dipengaruhi kondisi ekonomi global. David menilai ketegangan geopolitik, termasuk di Timur Tengah, perlu dicermati karena dapat berdampak pada harga minyak dan biaya input.
"Ini akan berpengaruh ke harga minyak dan harga barang input lainnya," ujar David, Selasa (6/10).
Bank perketat mitigasi risiko
Di tengah kenaikan LAR industri, sejumlah bank memilih memperketat penyaluran kredit untuk menjaga kualitas aset.
Bank CIMB Niaga, misalnya, justru mencatat perbaikan LAR. Per Juni 2026, rasio LAR bank ini berada di 6,13%, turun dari 8,4% pada Juni 2025. Jika portofolio kredit eks-Covid-19 dikeluarkan, LAR CIMB Niaga berada di bawah 5%.
Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan perbaikan tersebut menunjukkan kualitas aset perseroan masih terjaga.
Pertumbuhan kredit CIMB Niaga juga belum merata. Hingga Juni 2026, kredit konsumer hanya tumbuh 0,1% secara tahunan, sedangkan kredit UMKM naik 2,9%. Angka tersebut masih jauh di bawah pertumbuhan kredit korporasi yang mencapai 13,8%.
Lani memperkirakan pertumbuhan kredit ritel masih menghadapi tekanan. Pemulihan daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong pertumbuhan, sementara perbankan tetap harus selektif di tengah kenaikan biaya dana.
Baca Juga: Bank Mantap Kejar Pertumbuhan Bisnis Sambil Perkuat TJSL
Langkah serupa dilakukan Allo Bank Indonesia. Direktur Allo Bank Indonesia Ganda Raharja Rusli mengatakan bank memperketat kriteria underwriting untuk mengantisipasi potensi peningkatan kredit berisiko.
Ganda menyebut rasio LAR Allo Bank masih stabil dan cenderung menurun. Untuk menjaga kualitas aset, bank menerapkan penyaluran kredit dengan imbal hasil yang sebanding dengan tingkat risiko, serta memperkuat analisis berbasis data dan manajemen risiko.
Menurut Ganda, penguatan mitigasi risiko tetap diperlukan karena tekanan ekonomi masih dapat muncul dari pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS maupun kenaikan harga bahan bakar minyak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














