Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatat pertumbuhan bisnis yang kuat hingga kuartal II 2026. Kredit BRI tumbuh 16,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1.646 triliun, ditopang likuiditas dan permodalan yang tetap solid.
Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengatakan, kondisi likuiditas perseroan tetap terjaga di tengah ekspansi kredit. Hal ini tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi entitas bank yang berada di level 90,8%.
Sementara itu, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat sebesar 21,5% pada kuartal II 2026.
Baca Juga: Pengguna Livin' by Mandiri 42,2 Juta per Agustus, Frekuensi Transaksi 3,32 Miliar
“Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang tetap kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas,” ujar Achmad dalam siaran pers, Senin (7/9).
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun hingga akhir kuartal II 2026, tumbuh 6,7% yoy. Pertumbuhan DPK tersebut dibarengi dengan perbaikan struktur pendanaan, tercermin dari rasio Current Account and Savings Account (CASA) yang meningkat dari 65,5% menjadi 67,6%.
Struktur pendanaan yang semakin berkualitas memberikan ruang bagi BRI untuk menopang ekspansi kredit. Di saat yang sama, permodalan yang kuat menjadi bantalan bagi perseroan untuk menjaga ketahanan terhadap risiko.
Di tengah ekspansi kredit, BRI tetap menjaga kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,07% pada 2025 menjadi 2,9% pada kuartal II 2026.
Perbaikan tersebut sejalan dengan strategi selective growth yang diterapkan BRI, termasuk penguatan early warning system pada segmen ritel serta optimalisasi fungsi collection dan recovery.
Risiko kredit juga menunjukkan tren positif. Rasio Loan at Risk (LaR) turun dari 9,6% pada akhir 2025 menjadi 9,1% pada akhir kuartal II 2026.
Sementara itu, Cost of Credit (CoC) turun dari 3,4% pada akhir 2025 menjadi 3,1% pada kuartal II 2026.
Perbaikan sejumlah indikator fundamental tersebut turut menopang kinerja keuangan BRI. Total aset perseroan mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7% yoy.
Pertumbuhan aset terutama ditopang oleh akselerasi kredit yang tumbuh 16,2% yoy menjadi Rp1.646 triliun. Pertumbuhan bisnis yang dibarengi dengan perbaikan fundamental tersebut mendorong laba bersih BRI mencapai Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5% yoy.
Dengan kondisi fundamental yang tetap terjaga, BRI melanjutkan fungsi intermediasi terutama pada segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi bisnis inti perseroan.
Fokus tersebut menjadi bagian dari upaya BRI memperluas inklusi keuangan sekaligus mendukung berbagai agenda prioritas pemerintah.
Baca Juga: Kapan KPR 40 Tahun Meluncur? Begini Penjelasan Bos BTN
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














