kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   80.000   3,02%
  • USD/IDR 17.779   -88,00   -0,49%
  • IDX 6.502   107,46   1,68%
  • KOMPAS100 842   17,11   2,07%
  • LQ45 639   11,27   1,80%
  • ISSI 229   4,24   1,89%
  • IDX30 356   5,32   1,52%
  • IDXHIDIV20 433   5,05   1,18%
  • IDX80 96   1,89   2,00%
  • IDXV30 121   1,43   1,20%
  • IDXQ30 113   1,57   1,41%

Kredit Citi Indonesia Tumbuh 8,05%, Pipeline Semester II Capai Rp 5 Triliun


Kamis, 20 Agustus 2026 / 17:02 WIB
Kredit Citi Indonesia Tumbuh 8,05%, Pipeline Semester II Capai Rp 5 Triliun
ILUSTRASI. Citi Dinobatkan sebagai Bank of the Year di Asia Pasifik (Dok/Citi Indonesia)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank multinasional Citi Indonesia berhasil menorehkan pertumbuhan kredit di kuartal II-2026, setelah catatan koreksi pada periode sebelumnya. 

Hingga Juni 2026, Citi Indonesia menyalurkan kredit sebanyak Rp 29,9 triliun atau tumbuh 8,05% secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Untuk diketahui, hingga Maret 2026 lalu penyaluran kredit bank masih terkoreksi tipis 2,2% yoy, melanjuti penurunan 1,68% yoy pada akhir tahun 2025. 

Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Gandeng Petrokimia Gresik Perkuat Ekosistem Bisnis

Dengan hasil ini, CEO Citi Indonesia Batara Sianturi optimistis target pertumbuhan kredit bank di level single high digit dalam RBB (rencana bisnis bank) tahun ini dapat tercapai. 

Optimisme tersebut sejalan dengan kuatnya rencana penyaluran kredit ke depan. Batara mengungkapkan, pipeline penyaluran kredit di paruh kedua nanti mencapai kisaran Rp 5 triliun, dengan 50% di antaranya untuk korporasi lokal, dan sisanya untuk korporasi multinasional dan commercial banking serta trade loan. 

Lebih lanjut ia bilang ada tiga sektor utama yang termasuk dalam pipeline tersebut, yakni telekomunikasi, institusi keuangan, serta tambang dan konstruksi. Selain itu, ada pula sektor ritel dan chemical. 

“Jadi untuk semester kedua ini, pipeline kami sangat-sangat kuat dan kami harapkan ini juga akan mendongkrak kinerja,” ujar Batara dalam paparan kinerja di Jakarta, Kamis (20/8/2026). 

Toh, level likuiditas bank masih sangat memadai. Dalam periode ini, dana pihak ketiga (DPK) bank berhasil tumbuh 23,29% yoy menjadi Rp 72,6 triliun, pun rasio kredit terhadap pendanaan alias loan to deposit ratio (LDR) bank ada di level 37,96%. 

Batara menjelaskan, pertumbuhan DPK yang masif ini pada dasarnya sejalan dengan keunikan Citi Indonesia sebagai bank multinasional, yang membuat sumber pendanaan Citi Indonesia lebih didominasi oleh perusahaan multinasional. 

“Sekitar 80%–90% dari DPK kami itu datangnya dari multinational business, baik di US, Europe, dan Asia. Pun Asia banyak koridornya, ada China, Taiwan, Korea, Jepang, yang mana aliran investasinya cukup jelas,” sebut Batara. 

Laba Masih Terkoreksi 

Kendati begitu, dari sisi profitabilitas, Citi Indonesia masih mencatatkan koreksi laba bersih sebesar 25,45% yoy menjadi Rp 993,89 miliar pada semester I-2026.

Baca Juga: Hasil Investasi Zurich Syariah Tumbuh 18% pada Semester I-2026

Batara menjelaskan, pada dasarnya hasil ini lebih disebabkan oleh realisasi catatan negatif di penjualan aset keuangan akibat volatilitas pasar. Sementara di sisi top line sendiri, menurutnya hasil yang dicapai Citi Indonesia selama enam bulan pertama tahun ini sudah cukup baik. 

Melihat laporan keuangannya, dalam periode ini Citi Indonesia mengantongi pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar Rp 2,01 triliun, turun 5,18% yoy. 

Nah masalahnya, bank juga mencatatkan kerugian dari penjualan aset keuangan sebesar Rp 207,22 miliar, berbanding terbalik dari catatan untung Rp 152,67 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Di saat yang sama, bank juga mencatatkan rugi dari penjabaran transaksi valuta asing sebesar Rp 220,12 miliar, padahal tahun sebelumnya masih untung Rp 400,78 miliar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×