kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.994   -26,00   -0,14%
  • IDX 5.973   57,39   0,97%
  • KOMPAS100 780   9,68   1,26%
  • LQ45 593   8,87   1,52%
  • ISSI 205   0,50   0,24%
  • IDX30 336   4,84   1,46%
  • IDXHIDIV20 415   6,13   1,50%
  • IDX80 89   1,21   1,38%
  • IDXV30 112   1,66   1,51%
  • IDXQ30 108   1,49   1,40%

Citi Indonesia Optimistis Kinerjanya Makin Cerah pada Semester II-2026


Selasa, 07 Juli 2026 / 13:48 WIB
Citi Indonesia Optimistis Kinerjanya Makin Cerah pada Semester II-2026
ILUSTRASI. Citibank N.A. Indonesia (Citi Indonesia) optimistis kinerja bisnis pada semester II-2026 akan lebih baik dibandingkan paruh pertama tahun ini. ? (Dok/Citi Indonesia)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Citibank N.A. Indonesia (Citi Indonesia) optimistis kinerja bisnis pada semester II-2026 akan lebih baik dibandingkan paruh pertama tahun ini. 

Jika dilihat dari laporan bulanan perseroan, Citibank membukukan laba bersih Rp 906,20 miliar hingga Mei 2026, turun 18,07% secara tahunan (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,11 triliun. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) juga menyusut 6,97% YoY menjadi Rp 1,65 triliun.

Di sisi intermediasi, penyaluran kredit tumbuh 5,80% YoY menjadi Rp 28,16 triliun. Sementara itu, total aset meningkat 23,42% YoY menjadi Rp 117,16 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 20,21% YoY menjadi Rp 72,89 triliun.

Baca Juga: Bank Maspion Peroleh Fasilitas Pinjaman US$ 76Juta dari KBank guna Perkuat Likuiditas

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan, hingga Mei 2026 perseroan mencatatkan pertumbuhan kredit dan DPK yang solid di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak.

"Kami cukup puas dengan kinerja lima bulan pertama tahun ini. Kami melihat pertumbuhan kredit yang baik dan pertumbuhan dana pihak ketiga yang juga kuat," ujar Batara saat berbincang bersama kontan, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, prospek semester II diperkirakan lebih kondusif seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sebelumnya memicu volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia.

"Kami berharap semester kedua akan jauh lebih stabil dibandingkan semester pertama," katanya.

Batara mengakui, kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin dalam beberapa waktu terakhir menjadi tantangan bagi industri perbankan. Menurutnya, kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik aliran dana asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Meski demikian, ia menilai perbankan tetap perlu menjaga keseimbangan agar kenaikan suku bunga tidak menghambat penyaluran kredit.

"Yang harus dijaga adalah keseimbangan antara upaya menarik investor ke SRBI dengan tetap menjaga pertumbuhan kredit," ujarnya.

Baca Juga: Bank Mandiri (BMRI) Rampung Lunasi Pokok Green Bond Rp 1,95 Triliun

Dari sisi penyaluran kredit, Citi Indonesia masih memfokuskan pembiayaan pada segmen korporasi. Pada semester I-2026, sektor multifinance, lembaga keuangan nonbank, makanan dan minuman (F&B), serta manufaktur menjadi kontributor utama pertumbuhan kredit korporasi.

Sementara pada segmen commercial banking, pertumbuhan kredit terutama berasal dari perusahaan-perusahaan teknologi yang sedang berkembang.

Menurut Batara, permintaan pembiayaan dari nasabah korporasi juga masih terjaga. Citi Indonesia melihat kebutuhan kredit modal kerja untuk operasional maupun kredit investasi masih tumbuh relatif seimbang, baik dari perusahaan multinasional maupun korporasi domestik.

Likuiditas perseroan juga dinilai masih sangat kuat. Batara mengatakan loan to deposit ratio (LDR) masih memiliki ruang yang besar untuk mendukung ekspansi kredit.

"Kami masih memiliki ruang yang cukup besar untuk meningkatkan penyaluran kredit karena kondisi likuiditas sangat memadai," katanya.

Komposisi dana murah atau current account saving account (CASA) juga tetap terjaga di kisaran 70% hingga 80% dari total pendanaan. Menurut Batara, struktur pendanaan tersebut menjadi salah satu kekuatan perseroan dalam menjaga biaya dana.

Selain itu, kondisi permodalan Citi Indonesia juga masih sangat kuat dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) berada di kisaran 35%-40%.

"Kami memiliki permodalan yang sangat kuat, likuiditas yang baik, dan kualitas aset yang sangat sehat," ujarnya.

Batara menambahkan, kualitas kredit Citi Indonesia tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di level nol.

Untuk sisa tahun ini, Citi Indonesia menargetkan pertumbuhan DPK pada kisaran high single digit, sedangkan pertumbuhan kredit dipatok pada level mid single digit.

Baca Juga: BNI Rampungkan Buyback 2026, Kantongi 77,86 Juta Saham Treasury

Perseroan juga telah mengajukan revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 guna menyesuaikan asumsi makroekonomi terkini.

Menurut Batara, sejumlah asumsi yang digunakan saat penyusunan RBB pada akhir tahun lalu telah berubah, mulai dari kenaikan suku bunga, pelemahan rupiah, hingga lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×