Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan menghimpun dana di industri keuangan semakin ketat. Bank kini tidak hanya bersaing dengan sesama perbankan melalui penawaran bunga deposito khusus (special rate), tetapi juga menghadapi kompetisi dari penerbit obligasi korporasi yang menawarkan kupon lebih tinggi.
Sejumlah emiten mulai menawarkan imbal hasil yang kompetitif. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), misalnya, menawarkan kupon obligasi hingga 10%, sedangkan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) menawarkan kupon obligasi sekitar 9,75%.
Besaran kupon tersebut bahkan menyamai hingga melampaui bunga special rate deposito yang umumnya ditawarkan bank kepada deposan besar.
Baca Juga: PNM Perbesar Bisnis Ultra Mikro dengan Strategi Modal dan Pendampingan
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai, meningkatnya kupon obligasi korporasi memang mulai menjadi tantangan bagi perbankan dalam mempertahankan dana pihak ketiga (DPK), khususnya dari deposan besar.
"Ancaman kupon obligasi korporasi yang sudah menyamai atau melampaui bunga khusus deposito terhadap DPK perbankan cukup nyata, tetapi sifatnya selektif, bukan langsung sistemik. Tekanan paling besar akan terasa pada deposan besar, nasabah korporasi, dan nasabah kaya yang lebih peka terhadap imbal hasil," ujar Josua kepada Kontan, Senin (30/6/2026).
Menurutnya, kelompok deposan tersebut kini memiliki lebih banyak pilihan investasi, mulai dari obligasi korporasi, Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga reksa dana pasar uang.
Meski demikian, Josua menilai tidak seluruh dana akan beralih dari deposito. Deposito masih memiliki keunggulan berupa likuiditas, risiko yang relatif rendah, serta dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sepanjang memenuhi ketentuan tingkat bunga penjaminan.
Josua memperkirakan, kompetisi ini akan meningkatkan tekanan terhadap biaya dana (cost of fund) perbankan pada semester II-2026. Apalagi, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate menjadi 5,75%, sementara instrumen pasar keuangan menawarkan imbal hasil yang semakin menarik.
Data Bank Indonesia menunjukkan suku bunga DPK rupiah naik dari 2,65% pada April 2026 menjadi 2,70% pada Mei 2026. Pada periode yang sama, suku bunga kredit baru juga meningkat dari 8,95% menjadi 9,31%.
Baca Juga: Pegadaian Tambah Jaringan Galeri 24, Buka Toko Emas ke-15 di Bekasi
"Dilema bank saat ini adalah menjaga dana agar tidak keluar, tetapi tidak boleh terlalu agresif menaikkan bunga karena akan menekan margin bunga bersih (NIM) dan daya saing kredit," katanya.
Josua mengingatkan, bank sebaiknya tidak merespons kondisi tersebut dengan menaikkan special rate secara luas. Menurutnya, bunga khusus sebaiknya hanya diberikan secara selektif kepada nasabah strategis, tenor tertentu, dan dana yang memiliki nilai bisnis.
Sebagai gantinya, bank perlu memperkuat penghimpunan dana murah (CASA) melalui rekening transaksi, payroll, layanan pembayaran, cash management, hingga pengembangan layanan digital.
"Kalau semua bank berlomba menaikkan bunga khusus, hasilnya justru perang bunga, biaya dana naik, margin turun, dan bunga kredit ikut terdorong naik," ujarnya.
Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengatakan, pihaknya tetap mempertimbangkan perkembangan pasar obligasi korporasi dalam menentukan strategi penghimpunan dana.
"Penetapan suku bunga simpanan kami mempertimbangkan kondisi likuiditas, kebutuhan pendanaan, profil jatuh tempo aset dan liabilitas, serta dinamika persaingan di industri, termasuk perkembangan pasar obligasi korporasi," ujarnya.
Meski demikian, OK Bank mengaku belum melihat adanya perpindahan dana yang signifikan dari deposito ke obligasi korporasi.
Baca Juga: Bank Victoria International (BVIC) Terbitkan Obligasi Rp 600 Miliar
"Sebagian nasabah memang mulai melakukan diversifikasi portofolio, tetapi secara umum deposito masih diminati karena menawarkan keamanan, kepastian imbal hasil, dan fleksibilitas tenor," kata Efdinal.
Ia menambahkan, strategi OK Bank tidak hanya mengandalkan penawaran special rate, melainkan juga memperkuat relationship banking, meningkatkan kualitas layanan, serta mendorong pertumbuhan dana murah (CASA).
Ke depan, penyesuaian special rate akan dilakukan secara terukur sesuai kondisi pasar, kebutuhan likuiditas, dan target bisnis bank.
Jika dilihat dari laman perusahaan, OK Bank menawarkan special rate deposito hingga (6.25%) p.a. untuk penempatan dana mulai dari Rp10 juta.
Adapun hingga April 2026, total DPK OK Bank mencapai Rp 8,93 triliun atau naik 30,71% yoy. Pendanaan OK Bank didominasi oleh produk deposito mencapai 78,84% dari total DPK.
Senada, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengakui deposan besar kini memiliki lebih banyak alternatif investasi dibanding sebelumnya. Meski demikian, CIMB Niaga tetap memfokuskan strategi penghimpunan dana pada dana murah yang berkelanjutan.
"Saat ini nasabah besar memang mempunyai lebih banyak alternatif. Namun fokus kami lebih ke dana yang sustainable lewat CASA seperti payroll, cash management, merchant, dan community. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa cost of fund pasti naik," ujar Lani.
Menurut Lani, penguatan dana murah dinilai menjadi strategi yang lebih berkelanjutan dibanding mengandalkan perang bunga deposito, terutama di tengah meningkatnya persaingan memperebutkan dana masyarakat.
Baca Juga: Lender Dana Syariah Indonesia Baru Terima 0,02% Dana Pokok dari Total Rp 2,5 Triliun
Jika dilihat dari laman perusahaan, CIMB Niaga menawarkan suku bunga deposito kompetitif yang umumnya berkisar antara 2,75% hingga 4,25% per tahun.
Per Mei 2026, DPK Bank CIMB Niaga mencapai Rp 326 triliun, naik 8,22% yoy. Ini terutama ditopang pertumbuhan dana murah (CASA), khususnya giro yang melonjak 22,17% secara tahunan menjadi Rp106,97 triliun. Sementara itu, tabungan tumbuh 6,53% menjadi Rp89,39 triliun, sedangkan deposito justru turun 15,32% menjadi Rp68,96 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














