kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.677.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.825   -17,00   -0,10%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Pembiayaan Mobil Multifinance Masih Menantang hingga Akhir 2026


Senin, 17 Agustus 2026 / 17:57 WIB
Pembiayaan Mobil Multifinance Masih Menantang hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pembiayaan mobil baru dan mobil bekas terkontraksi 3,25% YoY menjadi Rp 230,47 triliun per Juni 2026 (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor pada paruh pertama 2026 belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kinerja pembiayaan mobil melalui industri multifinance. Di tengah kenaikan penjualan kendaraan, penyaluran pembiayaan mobil justru masih mengalami kontraksi.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat, penjualan mobil dari dealer ke konsumen atau retail sales mencapai 433.848 unit hingga Juni 2026. Angka tersebut tumbuh 10,5% secara tahunan atau Year on Year (YoY).

Sementara itu, total penjualan wholesales atau distribusi dari pabrikan ke dealer mencapai 436.564 unit hingga Juni 2026, meningkat 15,9% YoY.

Namun, tren positif penjualan kendaraan tersebut belum tercermin dalam penyaluran pembiayaan mobil di industri multifinance. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan mobil baru dan mobil bekas terkontraksi 3,25% YoY menjadi Rp 230,47 triliun per Juni 2026.

Baca Juga: Bank Mandiri Tebar Promo HUT RI, Diskon hingga Rp 1,7 Juta Berlaku Hingga 23 Agustus

Kondisi tersebut membuat sejumlah perusahaan pembiayaan memperkirakan industri pembiayaan mobil masih akan menghadapi tantangan hingga penghujung 2026.

Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) Ristiawan Suherman mengatakan sektor pembiayaan mobil masih menghadapi tantangan, terutama akibat penyesuaian daya beli masyarakat dan fluktuasi kondisi ekonomi makro.

Meski demikian, Ristiawan tetap melihat adanya peluang pertumbuhan karena kebutuhan masyarakat terhadap moda transportasi masih akan tetap ada.

"Selain itu, pasar otomotif juga makin dinamis dengan hadirnya beragam pilihan kendaraan yang menawarkan fitur kompetitif, serta makin sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (13/8/2026).

Menurut Ristiawan, kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi perusahaan multifinance untuk mendorong pertumbuhan dengan menyediakan solusi pembiayaan yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Hingga Juni 2026, CNAF telah menyalurkan pembiayaan mobil, baik mobil baru maupun mobil bekas, senilai Rp 2,7 triliun. Ristiawan menyampaikan pencapaian tersebut mencerminkan kinerja perusahaan yang tetap terjaga secara sehat di tengah dinamika pasar.

Pembiayaan Mobil Masih Tertekan

Pandangan serupa disampaikan PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance/ADMF). Perusahaan menilai pembiayaan mobil hingga akhir 2026 masih menghadapi sejumlah tantangan.

Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani mengatakan memasuki semester II-2026, perusahaan mengantisipasi adanya moderasi terhadap laju pertumbuhan seiring dengan kondisi ekonomi yang masih cukup menantang.

Baca Juga: Fintech AdaKami Masih Temukan Entitas Ilegal yang Mengatasnamakan Perusahaan

Sejumlah faktor yang perlu dicermati hingga akhir tahun, antara lain tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga yang masih tinggi.

"Ditambah, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih," ucapnya kepada Kontan, Jumat (14/8).

Gani menjelaskan, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan harga kendaraan maupun biaya pembiayaan. Akibatnya, konsumen cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk membeli dan membiayai kendaraan.

Untuk menjaga kinerja pembiayaan mobil, Adira Finance akan menangkap potensi permintaan melalui penguatan kerja sama dengan dealer dan mitra strategis. Perusahaan juga akan menawarkan program pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan konsumen.

"Pada saat yang sama, pertumbuhan pembiayaan akan tetap dilakukan secara selektif melalui proses underwriting yang prudent," ungkapnya.

Selain memperkuat penyaluran pembiayaan, Adira Finance juga terus meningkatkan proses penagihan dan pengelolaan kualitas portofolio. Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi tim collection, pemantauan yang lebih intensif, serta strategi penanganan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing konsumen.

Gani menyebut penyaluran pembiayaan mobil baru Adira Finance mencapai Rp 6,8 triliun pada semester I-2026. Menurut dia, pencapaian tersebut masih mencatatkan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Multifinance Perkuat Strategi

Sementara itu, PT Astra Sedaya Finance atau Astra Credit Companies (ACC) melihat perkembangan industri pembiayaan mobil dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari kondisi ekonomi maupun dinamika pasar.

EVP Corporate Communication & Strategy ACC Riadi Prasodjo mengatakan perusahaan masih mencermati perkembangan pasar dan menyesuaikan strategi dengan kondisi yang ada.

Baca Juga: Aslindo Ungkap Penyebab Tingkat Inklusi LKM Tak Sebanding dengan Tingkat Literasi

"Kami masih terus mencermati perkembangan tersebut dan menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar, serta kebutuhan konsumen," ungkap Riadi kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).

Untuk menjaga pertumbuhan hingga akhir tahun, ACC akan terus memperkuat sinergi dengan mitra dan dealer otomotif. Perusahaan juga akan menghadirkan program pembiayaan yang relevan sekaligus meningkatkan kemudahan dan kualitas layanan bagi konsumen.

Pertumbuhan Kredit Mobil Diproyeksi Terbatas

Pengamat Industri Pembiayaan Jodjana Jody menilai pembiayaan mobil di industri multifinance masih akan menghadapi tantangan hingga akhir 2026.

Selain tingkat Non Performing Financing (NPF) industri multifinance yang masih berada di level 3,01%, Jody menyebut kenaikan suku bunga kredit dan belum pulihnya kondisi ekonomi nasional menjadi tantangan bagi sektor pembiayaan mobil.

"Jadi, tidak berharap bahwa kredit akan tumbuh tinggi, kemungkinan besar di bawah 5% pada akhir tahun ini," kata Jody kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×