Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross industri perbankan mulai membaik. Namun, sejumlah bank masih menghadapi tekanan kualitas aset yang tinggi, terutama karena masih memiliki warisan kredit bermasalah (legacy assets) dari periode sebelumnya.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NPL gross industri perbankan turun menjadi 2,11% pada Agustus 2026, dari 2,28% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski secara industri membaik, sejumlah bank masih membukukan NPL gross jauh di atas rata-rata industri.
Baca Juga: Pembiayaan Multiguna di Sejumlah Pemain Multifinance Tetap Moncer
PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR), misalnya, mencatat NPL gross 8,96% per Juni 2026, meski membaik dari 10,86% pada Juni 2025.
Kemudian, PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) atau KB Bank mencatat NPL gross 9,99% per Juni 2026, turun tipis dari 10,08% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) mencatat NPL gross sebesar 5,28%, turun dari 7,36% pada Juni 2025.
Bank Raya Indonesia juga mengalami kenaikan NPL gross menjadi 4,68% dari 4,03%. Adapun Bank Banten mencatat NPL gross 4,51%, meski turun signifikan dari 7,06% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Tingginya NPL pada sejumlah bank tersebut tidak terlepas dari keberadaan kredit bermasalah warisan masa lalu yang masih harus diselesaikan.
Credit Director Bank KB Indonesia Henry Sawali mengatakan, KB Bank terus mempercepat penyelesaian aset bermasalah melalui berbagai mekanisme.
Baca Juga: Bank Neo Commerce (BBYB) Akan Gelar RUPSLB 29 Oktober, Ubah Susunan Pengurus
Beberapa skema yang digunakan antara lain bulk sales, cessie, asset swap, penagihan LAR/NPL, serta penjualan agunan yang diambil alih (AYDA).
Bank juga terbuka untuk bekerja sama dengan perusahaan manajemen aset dalam rangka mempercepat penyelesaian aset bermasalah. Namun, langkah tersebut tetap mempertimbangkan tingkat pemulihan dan keekonomian dari setiap transaksi.
"Bank tidak terpaku pada satu mekanisme tertentu. Pilihan penyelesaian akan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing aset, kondisi pasar, serta harga dan tingkat recovery yang dapat diperoleh," kata Henry kepada kontan.co.id, Selasa (6/10/2026).
Menurut dia, apabila transaksi dengan perusahaan manajemen aset belum mencapai tingkat keekonomian yang sesuai, KB Bank dapat memilih alternatif penyelesaian lain. Salah satunya melalui proses recovery atau penyelesaian aset secara individual.
Secara keseluruhan, strategi KB Bank diarahkan untuk mempercepat penurunan NPL dan loan at risk (LAR) sekaligus mengoptimalkan tingkat pemulihan.
Untuk itu, perseroan akan mengombinasikan berbagai mekanisme, mulai dari cash-based disposal, asset swap, kerja sama dengan perusahaan manajemen aset, hingga penyelesaian secara individual sesuai karakteristik masing-masing aset.
Bank lain yang masih memiliki pekerjaan rumah terkait kredit warisan adalah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
BTN masih menghadapi kredit bermasalah pada segmen konstruksi. Per Juni 2026, portofolio kredit konstruksi BTN mencapai Rp16,02 triliun, dengan rasio kredit bermasalah mencapai 19,4%.
Baca Juga: Buana Finance Kantongi Fasilitas Kredit Rp150 Miliar dari Bank Ganesha
Dengan rasio tersebut, nilai kredit bermasalah di segmen konstruksi secara indikatif mencapai sekitar Rp3,11 triliun.
Meski demikian, kualitas kredit BTN secara keseluruhan masih berada di level yang lebih rendah. NPL gross BTN tercatat 3% pada Juni 2026, turun dari 3,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, BTN terus menggenjot penjualan aset untuk mempercepat proses pemulihan aset.
SEVP Asset Management BTN Benjamin Sihombing mengatakan, penjualan aset perseroan terus menunjukkan perkembangan positif sejalan dengan rencana perseroan.
Pertumbuhan tersebut didukung penguatan pemasaran melalui kanal digital, meningkatnya minat masyarakat dan investor terhadap aset properti yang ditawarkan, serta dukungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dalam pelaksanaan lelang.
"Pengembangan digitalisasi dalam pemasaran penjualan aset lelang turut memperluas jangkauan pemasaran aset. Masyarakat kini dapat memperoleh informasi mengenai aset yang ditawarkan dengan lebih mudah, cepat, dan transparan," ujar Benjamin.
Sepanjang 2026, BTN menargetkan sekitar 10.000 unit aset masuk dalam program penjualan hingga akhir tahun.
Salah satu fokus utama BTN adalah penjualan melalui Lelang Hak Tanggungan, dengan target tingkat keberhasilan lelang atau success rate sebesar 35%. Hingga saat ini, pencapaiannya telah berada di kisaran 28%.
Untuk mengejar target tersebut, BTN memperluas pemasaran digital melalui Bale by BTN, web Bale Lelang, media sosial, serta berbagai portal properti seperti Rumah123 dan Pinhome.
Baca Juga: RUPSLB Bank Raya Ubah Jajaran Komisaris dan Direksi, Simak Susunan Lengkapnya
BTN juga memperkuat kolaborasi dengan DJKN dan Badan Pertanahan Nasional (BPN), sekaligus menjalankan pemasaran secara lebih proaktif melalui agen properti, edukasi bersama DJKN dan KPKNL, serta penawaran langsung kepada nasabah dan masyarakat.
Menurut Benjamin, Lelang Hak Tanggungan menjadi salah satu kanal utama karena menawarkan proses yang transparan, mudah, dan akuntabel.
Bagi BTN, optimalisasi lelang juga menjadi instrumen untuk mempercepat asset recovery sekaligus memberikan kepastian hukum dan transparansi harga bagi calon pembeli.
Kinerja pemulihan aset BTN melalui lelang hingga Agustus 2026 juga menunjukkan pertumbuhan. Dari sisi nilai nominal rupiah, penjualan tumbuh 92% yoy, sedangkan volume penjualan berdasarkan unit meningkat 170% yoy.
Pertumbuhan tersebut didukung digitalisasi pemasaran, kolaborasi dengan agen properti dan pemangku kepentingan sektor perumahan, serta dukungan DJKN.
Selain itu, BTN menyediakan pembiayaan KPR Maju bagi pembelian aset lelang. Skema tersebut memberikan alternatif pembiayaan dengan suku bunga kompetitif, jangka waktu kredit, uang muka, serta proses pengajuan yang disesuaikan untuk pembelian aset lelang.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, tren penyelesaian aset bermasalah melalui bulk sales hingga akhir 2026 cenderung semakin aktif, terutama bagi bank yang masih memiliki legacy assets dalam jumlah besar.
Namun, bank dengan NPL tinggi belum tentu mudah mencapai target penjualan aset.
Baca Juga: RUPSLB Bank Raya Ubah Jajaran Komisaris dan Direksi, Simak Susunan Lengkapnya
Menurut Trioksa, salah satu tantangan terbesar adalah kesenjangan antara valuasi yang ditetapkan bank dengan harga yang bersedia dibayar investor.
Selain itu, kualitas dan legalitas agunan serta likuiditas pasar turut menjadi faktor penentu.
Kondisi tersebut membuat bank terkadang harus memberikan diskon cukup besar untuk mempercepat penjualan aset.
"Bulk sales efektif untuk mempercepat pembersihan portofolio dalam jumlah besar, sementara lelang atau penjualan bilateral dapat lebih optimal untuk aset dengan agunan yang baik atau bernilai besar," kata Trioksa.
Karena itu, menurut dia, kombinasi beberapa kanal penjualan lebih tepat dibandingkan mengandalkan satu skema.
Dari sisi kinerja, percepatan penjualan NPL dapat langsung membantu menurunkan rasio NPL dan memperbaiki kualitas aset. Sementara itu, recovery atas kredit yang telah dihapus buku terutama dapat meningkatkan recovery income dan laba.
Namun, Trioksa mengingatkan bank tetap perlu menjaga recovery rate. Pasalnya, perbaikan kualitas aset dalam jangka pendek perlu diimbangi dengan harga penjualan yang tidak terlalu terdiskon.
Dengan demikian, percepatan disposal aset bermasalah disebut dapat menjadi salah satu katalis bagi perbaikan kualitas aset dan profitabilitas bank hingga akhir 2026, terutama bagi bank yang masih memiliki legacy assets besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














