Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Badan Kredit Desa (BKD) Ponorogo menilai ketersediaan dan kualitas data untuk analisis kredit atau credit scoring memang sangat terbatas saat ini. Hal itu juga menjadi tantangan dalam menyalurkan pembiayaan bagi LKM.
Direktur Utama LKM BKD Ponorogo Mego mengatakan mayoritas LKM juga belum punya akses Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) secara mandiri.
"Mayoritas LKM belum punya akses SLIK secara mandiri dan untuk data internal yang dimiliki mayoritas LKM memang masih sangat terbatas," katanya kepada Kontan, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Jaga Keberlanjutan Pembayaran Manfaat, OJK Dorong Dana Pensiun Terapkan Strategi Ini
Untuk menyikapinya, Mego mengatakan perlu adanya kerja sama dengan pihak ketiga, misalnya untuk mengakses data credit scoring calon debitur berbasis prinsip Character, Capacity, Capital, Condition, dan Collateral (5C), atau bisa secara internal membuat data internal dengan survei langsung ke lapangan secara lebih mendalam sesuai keperluan LKM masing-masing.
"Saat ini, sepertinya sebagian LKM sudah mulai mencoba kerja sama dengan vendor yang menyediakan data credit scoring calon debitur lewat asosiasi," tuturnya.
Untuk analisis untuk credit scoring calon debitur yang besar, Mego menerangkan LKM BKD Ponorogo meminta bantuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membuka data di SLIK. Selain data internal, dia bilang pihaknya juga menggunakan jaringan petugas di lapangan yang merambah sampai ke desa-desa.
"Untuk kerja sama dengan pihak ketiga sudah ada Surat Perintah Kerja (SPK), tetapi masih dalam taraf persiapan infrastrukturnya," katanya.
Di tengah tantangan masih terbatasnya data untuk credit scoring, Mego menilai LKM perlu lebih berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan agar gagal bayar tak membengkak. Ditambah, harus meningkatkan kapasitas petugas analisis kredit.
Terkait kinerja, Mego menyampaikan LKM BKD Ponorogo telah menyalurkan pinjaman per Maret 2026 sebesar Rp 56,6 miliar. Adapun Non Performing Loan (NPL) bruto sebesar 9,87%.
Sebelumnya, OJK menyebut ketersediaan dan kualitas data untuk mendukung analisis kredit pada segmen mikro menjadi salah satu tantangan dalam penyaluran pembiayaan LKM. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan hal itu mengingat sebagian LKM masih memiliki keterbatasan kapasitas dalam pengembangan credit scoring. Oleh karena itu, OJK mendorong LKM untuk memanfaatkan akses terhadap SLIK sebagai alat bantu dalam analisis kredit.
Baca Juga: Bangun Loan Factory, BTN Bidik Pertumbuhan Kredit Lebih Cepat dan Terukur
"Ditambah, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui penguatan pemahaman Know Your Customer (KYC) dan analisis kredit sederhana berbasis prinsip Character, Capacity, Capital, Condition, dan Collateral (5C)," katanya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Rabu (8/4).
Selain itu, Agusman bilang OJK juga tengah menyusun modul pembelajaran mandiri bagi LKM sebagai bagian dari implementasi roadmap LKM. Dia bilang modul tersebut bertujuan mendukung peningkatan kualitas penyaluran pembiayaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













