Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Sugianto mengungkapkan bahwa sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem keamanan, BCA secara proaktif mendorong pemanfaatan teknologi AI yang sejalan dengan prinsip etika dan kepatuhan.
Perseroan mengembangkan teknologi deteksi dini berbasis AI melalui sistem fraud detection dan machine learning untuk mengidentifikasi potensi ancaman siber secara real-time.
BCA juga menerapkan prinsip zero trust, multi-layered authentication, serta melakukan audit keamanan secara berkala untuk memastikan sistem tetap tangguh terhadap berbagai bentuk serangan.
Namun, teknologi saja tidak cukup. BCA menyadari bahwa aspek manusia adalah titik rawan yang paling sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
Untuk itu, BCA aktif mengedukasi publik melalui berbagai kanal komunikasi, termasuk kampanye nasional bertajuk “Don’t Know? Kasih No!”, sebuah gerakan literasi digital yang mengajak masyarakat untuk berpikir kritis dan tidak asal klik terhadap informasi yang tidak jelas sumber atau kredibilitasnya.
Tonton: Puan Maharani Dukung Wacana Pembelian LPG 3 Kg Menggunakan NIK pada 2026
Dalam kesempatan yang sama, SEVP Information Systems Security PT Rintis Sejahtera, Jeffrey Sukardi, menuturkan bahwa untuk memperkuat sistem keamanan dalam ekosistem pembayaran, Jaringan PRIMA terus memperkuat kolaborasi dengan para mitra dan proaktif memantau serta mendeteksi anomali transaksi untuk mencegah terjadinya tindak kejahatan siber.
“Kami bekerja sama dan mendukung mitra kami untuk memantau serta mendeteksi anomali transaksi pada Fraud Detection System kami. Upaya ini penting agar mitra kami dapat segera menanggulangi jika terjadi penipuan dan memastikan nasabah tetap aman dalam bertransaksi,” tutup Jeffrey.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jadi Modus Pencurian Uang di Bank, Apa itu Fake BTS?"
Selanjutnya: Seburuk-buruknya DPR, Mahfud Tolak Pembubaran, Benarkah Kinerja DPR 2025 Buruk?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News