kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 18.005   -15,00   -0,08%
  • IDX 5.948   31,52   0,53%
  • KOMPAS100 775   4,63   0,60%
  • LQ45 589   4,54   0,78%
  • ISSI 205   0,11   0,05%
  • IDX30 333   2,22   0,67%
  • IDXHIDIV20 411   2,56   0,63%
  • IDX80 88   0,60   0,68%
  • IDXV30 111   0,65   0,59%
  • IDXQ30 107   0,70   0,65%

Margin Perbankan Diproyeksi Masih Tertekan hingga Akhir 2026


Selasa, 07 Juli 2026 / 10:02 WIB
Margin Perbankan Diproyeksi Masih Tertekan hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. NIM Bank Beraset Terbesar (Kontan/Wahyu Tri Rahmawati)


Reporter: Aura Putri | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Margin keuntungan perbankan mulai menunjukkan tekanan. Bank Indonesia (BI) mencatat margin keuntungan industri perbankan turun menjadi 2,19% pada April 2026, dari 2,21% pada bulan sebelumnya.

Mengutip data BI Jumat (2/6), penurunan margin tersebut dipengaruhi kenaikan biaya operasional yang lebih tinggi dibandingkan penurunan biaya dana (cost of fund). Penurunan terjadi pada mayoritas kelompok bank, termasuk bank BUMN, bank pembangunan daerah (BPD), dan kantor cabang bank asing (KCBA).

BI menjelaskan, penurunan margin keuntungan pada ketiga kelompok bank tersebut dipengaruhi oleh kenaikan biaya operasional yang lebih tinggi dibandingkan penurunan biaya dana (cost of fund).

"Penurunan tersebut disebabkan oleh kenaikan biaya operasional yang lebih tinggi dibandingkan penurunan biaya dana," tulis BI dalam laporan Asesmen Transmisi Suku Bunga.

Baca Juga: Margin Perbankan Tergerus Biaya Operasional

Vice President LPPI, Trioksa Siahaan, menilai tekanan terhadap margin perbankan masih berlanjut. Menurutnya, Bank akan hati-hati untuk menaikkan bunga kredit.

"Hal ini terjadi karena peningkatan biaya dana bank namun dari sisi bunga kredit akan tertahan atau bila naik akan meningkatkan risiko kredit bank," ujar Trioksa kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).

Untuk menahan tekanan tersebut, perbankan perlu meningkatkan porsi dana murah (CASA), melakukan efisiensi operasional, serta lebih selektif dalam menyalurkan kredit.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn mengatakan, BCA terus mencermati perkembangan suku bunga acuan, kondisi makroekonomi, potensi risiko, serta likuiditas perbankan.

Baca Juga: NIM Tertekan, Perbankan Makin Agresif Genjot Fee Based Income

"Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi pergerakan suku bunga, baik di sisi kredit maupun di sisi pendanaan," ujar Hera kepada Kontan, Senin (6/7/2026)
Hera mengatakan CoF BCA relatif terjaga sehubungan dengan keunggulan perbankan transaksi yang dimiliki BCA.

Per Maret 2026, CASA BCA mencapai Rp1.089 triliun, tumbuh 11,2% YoY. Alhasil, porsi CASA mendominasi sekitar 85,2% dari total DPK. Strategi ini diharapkan dapat mendukung stabilitas CoF secara prudent.

Mengutip Materi Paparan Kinerja BCA Kuartal I 2026, NIM bank swasta terbesar di Tanah Air ini berada pada level 5,3%. Angka tersebut naik dibandingkan Kuartal I tahun sebelumnya yaitu 4,8%.

Baca Juga: NIM Perbankan Tertekan, Program Pemerintah dan Persaingan Kredit Jadi Tantangan 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×