kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   19.000   0,72%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

NIM Tertekan, Perbankan Makin Agresif Genjot Fee Based Income


Sabtu, 04 Juli 2026 / 17:27 WIB
NIM Tertekan, Perbankan Makin Agresif Genjot Fee Based Income
ILUSTRASI. Suku bunga tinggi mengancam laba bank.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) akibat kenaikan biaya dana (cost of fund) membuat perbankan semakin agresif memperbesar pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI).

Strategi ini ditempuh untuk menjaga profitabilitas di tengah ruang pertumbuhan pendapatan bunga yang semakin terbatas.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan NIM industri perbankan pada April 2026 berada di level 4,38%. Angka tersebut turun dibandingkan April 2025 yang mencapai 4,45% maupun posisi Desember 2025 sebesar 4,56%.

Kondisi tersebut mendorong bank mempercepat diversifikasi sumber pendapatan melalui layanan transaksi digital, sistem pembayaran, treasury, wealth management, bancassurance, hingga berbagai layanan berbasis ekosistem keuangan.

Staf Riset Ekonomi Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, menilai perubahan strategi tersebut menjadi konsekuensi dari tekanan terhadap pendapatan bunga.

"Bank saat ini memang semakin agresif memacu pendapatan berbasis komisi. Ketika tren suku bunga tinggi atau pengetatan likuiditas menekan NIM, bank tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendapatan bunga sebagai motor utama laba," ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Kamis (2/7/2026).

Baca Juga: Saham Bank Big Caps Melesat, Analis: Belum Jadi Sinyal Reversal

Menurut Myrdal, meskipun pendapatan berbasis komisi belum dapat sepenuhnya menggantikan kontribusi pendapatan bunga karena model bisnis perbankan masih bertumpu pada fungsi intermediasi, FBI mampu menjadi penyangga (buffer) yang efektif bagi profitabilitas.

Ia menilai pertumbuhan FBI yang mencapai dua digit di sejumlah bank besar mampu menjaga rasio profitabilitas seperti return on assets (ROA) dan return on equity (ROE), meskipun NIM mengalami tekanan sekitar 10 hingga 30 basis poin.

"FBI memiliki keunggulan karena bersifat capital light dan tidak menanggung risiko gagal bayar seperti pendapatan bunga," katanya.

Myrdal menjelaskan bahwa struktur penyumbang FBI juga telah mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya didominasi oleh provisi kredit dan biaya administrasi, kini sumber pertumbuhan terbesar berasal dari transaksi digital, sistem pembayaran, bisnis treasury, wealth management, bancassurance, hingga jasa trade finance dan kredit sindikasi.

"Pendapatan dari mobile banking, QRIS, virtual account, treasury, wealth management, bancassurance hingga arranger fee kini menjadi motor utama pertumbuhan FBI," ujarnya.

Ke depan, ia memperkirakan tren peningkatan kontribusi pendapatan non-bunga akan terus berlanjut. Saat ini, porsi FBI terhadap total pendapatan operasional bank-bank menengah masih berada di kisaran 15% hingga 20%. Sementara itu, bank-bank besar mulai membidik kontribusi sebesar 25% hingga 30%.

"Ke depan bank akan semakin memposisikan diri sebagai ekosistem keuangan atau banking as a service, sehingga setiap aktivitas finansial nasabah menghasilkan pendapatan berbasis komisi yang berulang," jelasnya.

CIMB Niaga Perkuat Fee Income

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, mengungkapkan bahwa perseroan telah memperkuat strategi pengembangan fee income dalam beberapa tahun terakhir sebagai langkah mengimbangi tekanan terhadap pendapatan bunga.

Baca Juga: Emiten Perbankan Gencar Buyback di Tengah Pelemahan Saham, Seberapa Efektif?

"Kami telah memperkuat approach untuk fee income dalam beberapa tahun terakhir yang cukup membantu sisi pendapatan di tengah kondisi saat ini, di mana pendapatan bunga menjadi sangat tertantang karena NIM tergerus," ujar Lani.

Meski demikian, Lani mengakui pendapatan berbasis komisi belum dapat sepenuhnya menggantikan penurunan pendapatan bunga.

"Namun harus diakui bahwa fee income tidak bisa mengganti 100% kehilangan pendapatan bunga, walaupun fee to income ratio kami menjadi salah satu yang terbaik di pasar sekitar 33%," katanya.

Menurutnya, sumber utama FBI CIMB Niaga berasal dari bisnis wealth management, treasury, biaya transaksi, merchant, serta arranger fee dari pembiayaan korporasi.

Hingga Mei 2026, pendapatan berbasis komisi CIMB Niaga mencapai sekitar Rp1,13 triliun atau tumbuh 18,7% secara tahunan (year on year / yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp952,2 miliar.

BTN Perkuat Ekosistem Digital

Direktur Commercial Banking BTN, Hermita, mengatakan perseroan juga terus memperkuat FBI sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pendapatan.

"BTN terus mengembangkan fee based income sebagai bagian dari strategi diversifikasi pendapatan untuk menjaga kualitas profitabilitas di tengah tekanan biaya dana dan NIM," ujarnya.

Namun demikian, BTN menegaskan bahwa pendapatan bunga masih menjadi kontributor utama mengingat fokus bisnis perseroan berada pada pembiayaan perumahan.

Adapun sumber FBI BTN berasal dari layanan transaksi perbankan, bisnis digital, bancassurance, wealth management, treasury, transaction banking, hingga ekosistem perumahan.

Untuk meningkatkan kontribusi tersebut, BTN terus memperkuat ekosistem digital melalui Balé by BTN, Balé Properti, Balé Korpora, Balé Merchant, dan Balé Agen. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan frekuensi transaksi, akuisisi nasabah, serta mendorong cross-selling produk.

"Ke depan kami akan meningkatkan porsi pendapatan non-bunga secara bertahap melalui digitalisasi layanan, penguatan ekosistem perumahan, optimalisasi bancassurance dan wealth management, serta pengembangan layanan treasury dan transaction banking," kata Hermita.

Baca Juga: Alokasi Pencadangan Perbankan Beragam, Ini Sebabnya

Per Mei 2026, pendapatan komisi BTN tercatat mencapai sekitar Rp604,8 miliar atau naik 6,4% yoy dibandingkan Rp568,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

BCA Catat Pertumbuhan Pendapatan Non-Bunga Dua Digit

Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga membukukan pertumbuhan pendapatan non-bunga yang solid pada awal tahun ini.

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan pendapatan selain bunga BCA pada kuartal I 2026 meningkat 14,2% secara tahunan menjadi Rp6,6 triliun.

Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan fee dan komisi yang juga meningkat 14,2% menjadi Rp5,5 triliun.

"Peningkatan ini tidak lepas dari pengembangan perbankan transaksi BCA di berbagai kanal digital maupun non-digital," ujar Hera.

Ia menjelaskan bahwa volume transaksi yang diproses BCA telah meningkat 61% dalam tiga tahun terakhir. Saat ini, hampir seluruh transaksi nasabah telah dilakukan melalui kanal digital.

Selain itu, jumlah rekening nasabah BCA terus bertambah hingga mencapai 44 juta rekening pada akhir Maret 2026.

Ke depan, BCA akan terus memperkuat platform transaksi yang aman dan andal melalui inovasi layanan, perluasan ekosistem transaksi, serta peningkatan basis nasabah. Strategi tersebut diharapkan mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatan non-bunga di tengah tantangan penyempitan margin bunga industri perbankan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU

[X]
×