kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.315.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Masyarakat Indonesia masih minim menabung


Selasa, 01 November 2016 / 18:15 WIB
Masyarakat Indonesia masih minim menabung


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang, Nina Dwiantika | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Pada hari menabung sedunia yang jatuh pada tanggal 31 Oktober 2016, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengajak para pelajar dan masyarakat untuk rajin menabung dan tidak konsumtif. 

“Semakin tinggi tingkat tabungan masyarakat di suatu negara tentunya akan menggerakkan roda perekonomian,” jelas Joko Widodo, kemarin (1/11). Faktanya, tingkat kesadaran menabung masyarakat Indonesia masih rendah. 

Terbukti dari rasio porsi tabungan terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita masih sangat rendah atau kurang lebih 34,8% di tahun 2015. Padahal negara tetangga seperti Singapura sudah 49% terhadap GPD, dan Filipina 46% terhadap PDB.

Dari rata-rata rasio tabungan rumah tangga Indonesia terhadap total pendapatan juga relatif rendah yakni hanya 8,5%. Rumah tangga yang memiliki pendapatan paling rendah hanya memiliki rasio tabungan sebesar 5,2%, sedangkan rumah tangga Indonesia yang berpendapatan paling tinggi memiliki rasio tabungan haya 12,60%. Selain itu, tingkat kepemilikan rekening juga masih rendah yaitu 19% dari total penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun.

Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan, dengan rasio tabungan nasional tersebut tidak cukup untuk membiayai kebutuhan pembangunan, terutama dalam menutup kesenjangan antara tabungan dan investasi. “Akibatnya, kebutuhan pembiayaan ini harus dipenuhi dari luar negeri seperti utang,” katanya.

Berdasarkan data uang beredar jumlah simpanan tabungan sebesar Rp 1.446  triliun per September 2016 atau tumbuh 15,12% dibandingkan posisi Rp 1.256,5 triliun per Agustus 2015. Tabungan itu terdiri dari tabungan rupiah sebesar Rp 1.320 triliun, dan tabungan valuta asing (valas) senilai Rp 126 triliun.

Nah, tabungan ini baru memiliki porsi 32,16% terhadap total dana pihak ketiga (DPK) perbankan yang mencapai Rp 4.495 triliun per September 2016. Jokowi melihat masih ada potensi penghimpunan dana yang besar dari tabungan mengingat potensi tabungan kelompok pelajar mencapai 44 juta siswa, kelompok mahasiswa dan pemuda berjumlah sekitar 55 juta orang.

Muliaman menambahkan upaya untuk meningkatkan rasio tabungan dapat dilakukan melalui upaya mobilisasi sumber-sumber dana domestik dengan memanfaatkan berbagai produk industri jasa keuangan yang tersedia, tidak hanya menyimpan uang di bank, tetap juga investasi di pasar modal.

Santoso, Direktur Bank Central Asia (BCA) menyatakan, pihaknya telah membentuk program untuk menarik masyarakat menabung melalui produk Tabungan Simpel. Salah satu caranya dengan BCA melakukan sosialisasi dan edukasi ke sekolah-sekolah mengenai pentingnya menabung. “Kami sedang implementasi ini di Bandung,” tambah Santoso.

BCA mencatat jumlah tabungan yang bebas biaya sudah cukup banyak. Misalnya, jumlah TabunganKu di BCA sudah mencapai 530.000 nasabah dengan nilai simpanan Rp 1,4 triliun per September 2016, sedangkan Tabungan Simpel masih di bawah 10.000 nasabah dengan jumlah simpanan Rp 1,5 miliar.

Sis Apik Wijayanto, Direktur Konsumer Bank Rakyat Indonesia (BRI), untuk mendorong masyarakat menabung, pihaknya akan menambah jumlah agen BRILink menjadi 75.000 agen di akhir tahun 2016 dari posisi 70.000 agen per September 2016. “Tujuan kami dalam jangka panjang tidak hanya tabungan tapi untuk transaksi perbankan di agen BRILink,” terangnya.

Sementara Direktur Direktur Consumer Banking PT Bank Tabungan Nasional Tbk (BTN) Handayani mengatakan, relatif rumit untuk kalangan menengah ke bawah. "Aksebilitas atau daya jangkau layanan lembaga keuangan juga belum sampai ke pelosok," kata Handayani kepada KONTAN, Selasa (1/11).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×