kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.324.000 1,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Menilik Strategi BRI Jangkau Lebih dari 45 Juta Pelaku Usaha Ultra Mikro di 2025


Jumat, 15 Desember 2023 / 14:36 WIB
Menilik Strategi BRI Jangkau Lebih dari 45 Juta Pelaku Usaha Ultra Mikro di 2025
ILUSTRASI. Kontan - BRI Kilas Ultra Mikro Online


Reporter: Arif Ferdianto, Markus Sumartomdjon, Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal

KONTAN.CO.ID - BADUNG. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menargetkan akan menjangkau lebih dari 45 juta pelaku usaha ultra mikro melalui holding Ultra Mikro (UMi) yang belum tersentuh layanan keuangan formal.

Sejak diluncurkan pada September 2021, bank pelat merah ini berhasil menjangkau lebih dari 36,6 juta pelaku usaha ultra mikro di seluruh Indonesia dengan total pembiayaan lebih dari Rp 509,7 triliun hingga triwulan III-2023.

Wakil Direktur Utama BRI, Catur Budi Harto menyampaikan pihaknya terus membina pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta ultra mikro untuk memperkuat serta mengakselerasi literasi UMKM agar sehingga mampu menggerakkan ekonomi domestik di daerah.

Baca Juga: Cara Mudah Memiliki Tabungan Emas

“Yang dijangkau hingga hari ini 36 juta nasabah, kita punya target nanti di ekosistem mikro di 2025 ada lebih dari 45 juta nasabah, ini on track,” ujarnya, saat melakukan kunjungan dan pembinaan ke pelaku usaha klaster Pura Uluwatu Bali, Jumat (8/12).

Catur menyebutkan, dalam ekosistem ultra mikro yang juga berisikan BRI, Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM), yang memiliki porsi nasabah paling banyak ialah Mekaar program pinjaman modal bagi perempuan yang digagas oleh PNM.

“Di ekosistem ultra mikro ini dari 36 juta nasabah yang paling banyak anggotanya Mekaar jumlahnya sekitar 15 jutaan, harapannya pesertanya bisa naik kelas,” ujarnya

Bila dirinci, berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2023 BRI, nasabah Umi yang naik kelas yaitu Pegadaian sebanyak 185.480 nasabah, PNM sebesar 920.716 nasabah atau secara keseluruhan mencapai 1,2 juta nasabah.

Catur mengungkapkan, rasio kredit macet alias non performing loan (NPL) dari program Umi masih terbilang sehat. Untuk itu, dia berharap ke depan NPL ini bisa dijaga pada level yang rendah.

“(NPL) bagus di bawah 3%, untuk menggarap ini NPL di bawah 3% sangat bagus. (Target NPL) terjaga di situ saja. Ini proses bagaimana kita menjangkau dan menyalurkan lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Strategi Menjangkau Nasabah UMi

Catur menuturkan, untuk menjangkau lebih banyak pelaku ultra mikro pihaknya akan memperbanyak titik Sentra Layanan Ultra Mikro (SenyuM). Di mana ini merupakan layanan yang mensinergikan tiga entitas yaitu BRI, Pegadaian dan PNM. Sejauh ini Co-Location SenyuM telah tersebar di 1.018 titik di Indonesia.

“Pertama, titik SenyuM-nya kita perbanyak lagi di 2024 mungkin bisa mencapai sekitar 2.000-an lebih. Karena itu akan nempel di BRI unit, PNM dan Pegadaian. Kedua, sosialisasi kepada ekosistem tersebut bahwa kita satu tujuan,” tuturnya.

Catur menambahkan, pemberdayaan segmen ultra mikro ini juga terus dikebut dengan memanfaatkan pengelolaan big data yang canggih dan penerapan machine learning (AI) melalui Aplikasi Mobile Senyum Mobile.

“Aplikasi SenyuM Mobile merupakan paltform Cross Selling yang memudahkan para tenaga pemasar BRI, PNM, dan Pegadaian dalam memberikan layanan yang sesuai kepada para pelaku usaha ultra mikro,” tandasnya.

Asal tahu saja, aplikasi SenyuM mobile diakses oleh 77 ribu tenaga pemasar dari tiga entitas, 698.717 Agen BRILink, serta nasabah segmen ultra mikro secara langsung, yang dapat di install dari ponsel milik nasabah ataupun tenaga pemasar.

Baca Juga: Membiakkan Modal Usaha Lewat Tabungan Emas

Lebih lanjut, Catur menambahkan, mengacu data statistik jumlah pengusaha UMKM di Indonesia mencapai 60 juta, di mana menyumbang 98% dari tenaga kerja. Menurutnya, jika ini ditambah dengan pelaku ultra mikro tentu perekonomian semakin bergerak.

“Kalau UMKM ditambah ultra mikro ini kita kembangkan terbayang dampaknya ke perekonomian Indonesia,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×