Reporter: Nur Cholis | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Pembeli di Warung Betawi Haji Muhayar cukup ramai pada Senin, 29 Juni 2026. Ketika Tim Kontan hadir menjelang siang hari, telah berjejer kendaraan baik mobil maupun motor, parkir di depan warung pecak legendaris yang berlokasi di Jalan Taman Margasatwa Raya No.8-9, Jati Padang, Pasar Minggu, Kota Jakarta Selatan itu atau berjarak hanya 2,5 km dari Taman Margasatwa Ragunan. Para pembeli itu pun kemudian melihat menu yang akan dipesan untuk makan siang nanti.
Dari dapur, terlihat 8 orang sedang menyiapkan hidangan, ada juga yang sedang mengaduk bumbu pecak. Dengan teliti, mereka menyiram ikan mas dan gurame dengan bumbu pecak, dua dari menu andalan Warung Betawi Haji Muhayar. Tak berselang lama, makanan tersaji di meja, beserta lalap dan minumannya.
Selain ikan mas dan gurame, menu favorit lain di Warung Betawi Haji Muhayar adalah sayur asem, lele pecak, ayam kampung goreng pecak, dan lainnya. Mengutip berita Kontan yang terbit pada Januari 2009, Haji Muhayar membagi resep mengapa sayur asemnya memiliki ciri khas. “Pake oncom biar sayur asemnya wangi,” kata Haji Muhayar saat itu.
Tim Kontan pun ikut memesan. Ketika hidangan hadir di meja, bumbu pecaknya membuat mulut tak sabar untuk melahap ikan mas. Bumbunya berwarna merah dengan paduan bermacam rempah, seperti jahe, cabai, dan bawang. Wangi sudah tentu tercium.
Sambal yang dibuat menggunakan jeruk limau pun membuat lalapan serta tahu tempe goreng menjadi lebih nikmat. Ucapan Haji Muhayar kala itu pun masih dijaga oleh penerusnya, yaitu terdapat potongan oncom yang besar dalam sayur asemnya.
Mumun, anak kelima Haji Muhayar menuturkan warung betawi ayahnya tidak membuka cabang di tempat lain meski sudah 50 tahun berdiri. Selama itu, banyak pula pesohor dan pejabat pernah makan di sini mulai dari Tasya Kamila, Bondan Winarno, Rieke Dyah Pitaloka, hingga Dedi Mizwar.
“Iya di sini, karena itu pesan Almarhum. Almarhum pesan tidak boleh buka cabang di mana-mana,” tutur Mumun.
Warung ini awalnya tidak menjual pecak, melainkan soto babat. Masyarakat saat itu dianggap mulai aware terhadap kesehatan. Oleh karenanya, Haji Muhayar mengganti menu ke makanan khas Betawi.
Warisan memasak ini diberikan oleh nenek Mumun, ibunda dari Haji Muhayar yang juga mantan juru masak marinir Angkatan Laut. “Muhayar semakin mantap membuka warung setelah mencicipi soto racikan sang ibu. Rasanya tidak kalah dengan soto babat yang dijual di Pasar Minggu maupun Tanah Abang. Kala itu, kedua tempat tersebut sudah kondang sebagai tempat soto babat yang memikat,” mengutip berita Kontan pada Januari 2009. 
Digitalisasi dengan Layanan Saku Bisnis
Mumun mengaku, tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar menjamurnya restoran baru, melainkan menghadapi ketidakpastian ekonomi dan lonjakan harga bahan baku. Bagi sebuah warung legendaris, Warung Haji Muhayar memegang konsistensi rasa sebagai strategi menarik pengunjung.
Bayangkan saja, dalam sehari warung ini menghabiskan sedikitnya 30 kilogram ikan segar demi memenuhi selera pelanggan. Angka tersebut sudah menandakan bahwa tingginya permintaan pelanggan. “Kalau sehari itu kurang lebihnya 30 kilo,” kata Mumun.
Ketika harga cabai, bawang, plastik, hingga minyak goreng melonjak, standar rasa dari resep yang diturunkan orang tuanya harus dijaga konsistensinya. Alhasil, Mumun pun perlu mengatur strategi, termasuk memotong margin keuntungan tanpa menaikkan harga jual ke konsumen.
Menurutnya, keuntungan yang sedikit dikurangi tidak menjadi masalah, asalkan bisnis tetap berputar dan pelanggan setia tidak lari ke tempat lain. “Untungnya saja yang kita kurangin, terus kita kayak mengalah gitu. Nggak apa-apa untung kita berkurang, yang penting masih terus berjalan,” cerita Mumun.
Strategi bertahan ini kemudian diperkuat oleh efisiensi pengelolaan kas usaha yang dihadirkan oleh perkembangan teknologi digital oleh perbankan. Perkenalan Warung Betawi Haji Muhayar dengan layanan digital perbankan dimulai sekitar tiga tahun lalu, tepatnya pada tahun 2023, ketika Mumun memutuskan untuk menggunakan layanan dari PT Bank Raya Indonesia Tbk atau Bank Raya (kode saham AGRO).
Sebelum mengenal fitur Saku Bisnis dari Bank Raya, manajemen keuangan masih dikelola secara konvensional. Dana operasional harian dan keperluan pribadi keluarga kerap menyatu dalam satu kantong yang sama, sehingga sulit untuk mengukur keuntungan dari usaha harian. Berdasarkan penuturan Mumun, omset Warung Betawi Haji Muhayar berkisar Rp10 juta hingga Rp15 juta per hari.
Kehadiran fitur Saku Bisnis Bank Raya turut mengubah operasional warung secara signifikan melalui pemisahan kantong dana yang jelas. Fitur ini mempermudah Mumun untuk membagi alokasi dana secara spesifik untuk belanja modal di pasar, dana operasional, hingga pos anggaran untuk menggaji 20 orang karyawan yang membantu operasional warung.
Kemudahan transfer sekaligus ke banyak rekening dalam satu waktu juga sangat membantu Mumun dalam mengelola dana operasional kerja, menggantikan metode pembayaran yang masih konvensional. Salah satunya mengubah cara menggaji karyawan yang biasanya menggunakan amplop. “Jadi saya nggak pakai cara dulu kasih uang. Sekarang saya langsung saja transfer,” jelas Mumun.
Selain fitur alokasi dana, pemanfaatan layanan Saku Bisnis untuk transaksi berupa QRIS Bank Raya. Metode tersebut ikut mendorong transaksi digital di Warung Betawi Haji Muhayar. Tak hanya itu, perubahan perilaku konsumen yang semakin melek digital turut mendongkrak transaksi nontunai pembayaran di Warung Betawi Haji Muhayar. Saat ini, Mumun menjelaskan kontribusi pembayaran melalui QRIS telah mencapai 75% dari total transaksi harian.
Kondisi ini bahkan sering membuat kasir warung sama sekali tidak memegang uang tunai dalam jumlah besar karena seluruh dana langsung tersimpan di dalam rekening Bank Raya. “Bahkan mau belanja kadang enggak pegang uang tunai sekarang mah,” cerita Mumun sambil tertawa kecil.
Keunggulan lain yang Mumun rasakan setelah memanfaatkan Saku Bisnis adalah bebas biaya administrasi bulanan serta kebebasan untuk mencairkan dana beberapa kali dalam sehari tanpa hambatan. Bagi Mumun, digitalisasi ini sangat berguna karena pedagang di pasar tradisional tempat mereka memasok bahan baku sudah mulai mengadopsi sistem belanja daring dan pembayaran berbasis digital, terutama QRIS.
Meski ekonomi sedang terkontraksi, Mumun berharap Bank Raya dapat memberikan bantuan lain seperti pinjaman atau relasi antar UMKM untuk memperluas usaha warung yang dikelolanya. “Sebenernya pengen ada pinjaman, sebenernya pengen juga. Tapi kita juga takut karena ekonominya lagi begini. Takut nggak bisa bayar gitu” ucap Mumun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














