kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Meski belum terdampak, perbankan tetap waspadai virus corona


Senin, 10 Februari 2020 / 20:44 WIB
ILUSTRASI. Nasabah bertransaksi di Bank BNI Jakarta, Senin (27/1). Perbankan juga perlu mulai waspada terhadap dampak dari virus Corona./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/27/01/2020.


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan juga perlu mulai waspada terhadap dampak dari virus corona. Meskipun sejauh ini beberapa bankir mengaku pembiayaan ke sektor berbasis ekspor impor masih aman dari dampak wabah itu, namun ke depan bank perlu lebih waspada karena beberapa industri lokal sudah mulai merasakan dampaknya.

Walau belum ada hitungan kerugian atas efek penurunan ekspor impor, industri dalam negeri sudah merasakan efek wabah Korona. Utamanya, pasca China mengumumkan perpanjangan libur kerja. Industri yang sudah merasakan efek langsung anatar lain eksportir kelapa sawit, karet dan batubara. Tak hanya itu, importir bahan baku makanan, buah, bawah putih hingga bahan baku farmasi.

Baca Juga: Perbankan bidik pelapak daring

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono menyebut permintaan ekspor kelapa sawit Indonesia ke China umumnya mencapai 5 juta ton per tahun, kini permintaan mulai turun.

Ekspor lain karet juga mulai mengerut. Dalam laporan resmi ke Kementerian Industri, Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) menyebut, importir China menunda pembayaran pembelian karet karena libur sesuai kebijakan Tiongkok.

Direktur Tresuri dan Internasional Bank BNI Bob Tyasika Ananta mengatakan, dalam sepekan terakhir, pihaknya sudah melakukan penilaian terhadap beberapa sektor ekonomi atau lapangan usaha yang kemungkinan terpapar dampak negatif penyebaran virus corona yang menjalar ke perekonomian sejumlah negara yg memiliki relasi bisnis dengan Cina.

Penilaian tersebut dapat mengidentifikasi kredit yang tersalur ke beberapa sektor ekonomi seperti manufaktur, komoditas (batubara, copper, CPO), pariwisata (transportasi udara, hotel, perdagangan, restoran) dan farmasi atau kesehatan. Dengan penilaian itu maka BNI bisa melakukan langkah preemptive untuk menjaga kualitas kredit supaya NPL baru bisa dicegah dan loan at risk (LaR) bisa diturunkan.

Baca Juga: Hindari masalah soal fidusia, bunga multifinance bisa saja naik

"Sebenarnya efek virus corona terhadap ekonomi Indonesia itu minimal atau terbatas, namun kami tetap harus mencermati efeknya ke sektor perbankan yang posisinya ada di hilir. Sejauh pemantauan kami sampai saat ini, perkembangan kredit BNI masih on track," kata Bob pada Kontan.co.id, Senin (10/2).

Bob menyakini, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi efek virus corona ke perekonomian domestik.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×