kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.638.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.766   5,00   0,03%
  • IDX 6.441   -21,27   -0,33%
  • KOMPAS100 842   -10,21   -1,20%
  • LQ45 640   -8,13   -1,25%
  • ISSI 225   0,94   0,42%
  • IDX30 356   -4,01   -1,11%
  • IDXHIDIV20 444   -5,92   -1,32%
  • IDX80 96   -1,24   -1,27%
  • IDXV30 122   -2,51   -2,02%
  • IDXQ30 115   -1,38   -1,19%

Laba Empat Bank Besar Tumbuh 10%, Tapi Margin Bank Mulai Tertekan Biaya Dana


Sabtu, 19 September 2026 / 11:29 WIB
Laba Empat Bank Besar Tumbuh 10%, Tapi Margin Bank Mulai Tertekan Biaya Dana
ILUSTRASI. IHSG Bertahan Di Zona Hijau (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja bank-bank besar Indonesia masih menunjukkan tumbuh moderat hingga Juli 2026, meski kenaikan biaya dana alias cost of fund (CoF) mulai menekan margin bunga. MNC Sekuritas menilai tekanan margin tersebut belum mengubah prospek sektor perbankan, karena pertumbuhan laba dan kualitas aset masih relatif terjaga.

Analis MNC Sekuritas Victoria Venny dalam riset 11 September 2026 mencatat, empat bank terbesar atau Big Four membukukan laba bersih secara bank-only sebesar Rp 111,7 triliun sepanjang tujuh bulan pertama 2026. Angka tersebut tumbuh 10% secara tahunan dibandingkan Rp 101,8 triliun pada tujuh bulan di 2025.

Realisasi tersebut setara dengan sekitar 55% dari proyeksi laba MNC Sekuritas untuk tahun buku 2026 dan 56% dari konsensus pasar.

Baca Juga: Saham Bank Besar Kompak Melemah, Asing Ramai-Ramai Lepas Saham Bank

Pertumbuhan laba juga ditopang oleh perbaikan efisiensi. Pre-provision operating profit (PPOP) empat bank besar tumbuh lebih cepat, yakni 11% YoY menjadi Rp 176,3 triliun. Rasio biaya terhadap pendapatan alias cost to income ratio (CIR) membaik 319 basis poin (bps) YoY menjadi 36,2%.

Sementara itu, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh 6% YoY.

Namun, tekanan mulai terlihat pada sisi margin. Kenaikan kredit masih lebih cepat dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), masing-masing 16% YoY dan 16% YoY, sehingga loan to deposit ratio (LDR) agregat meningkat 79 bps YoY menjadi 88,1%.

Victoria mencermati bahwa net interest margin (NIM) bulanan mayoritas bank besar mengalami penurunan pada Juli 2026.

NIM PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun paling dalam, yakni 108 bps secara bulanan (MoM) menjadi 5,7%. Kemudian NIM PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) turun 70 bps MoM menjadi 5,0%.

NIM PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 13 bps MoM menjadi 3,4%, sedangkan NIM PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) relatif stabil dengan penurunan hanya 1 bps menjadi 3,9%.

Berbeda dengan bank-bank tersebut, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru mencatat pemulihan NIM sebesar 30 bps MoM menjadi 5,7%.

“BBCA justru bergerak berlawanan dengan tren, dengan NIM pulih 30 basis poin (bps) secara bulanan menjadi 5,7%,” tulis Victoria Venny dalam risetnya.

Pemulihan NIM BBCA terutama ditopang oleh kenaikan imbal hasil aset produktif sebesar 27 bps MoM menjadi 6,7%. Pada saat yang sama, biaya dananya tetap rendah di level 1,1%.

Menurut Victoria, penurunan NIM BBRI dan BRIS yang lebih tajam antara lain mencerminkan perubahan komposisi kredit serta pola pengakuan pendapatan. Pada BBRI, tekanan tersebut berkaitan dengan porsi kredit wholesale atau korporasi yang lebih tinggi. Sementara pada BRIS, terdapat pola pengakuan pendapatan secara periodik yang khas pada perbankan syariah.

Kedua faktor tersebut semakin tertekan oleh kenaikan biaya pendanaan.

Baca Juga: Pet Insurance Mulai Berkembang di Indonesia, Ini Premi dan Manfaatnya

Tekanan terhadap margin semakin terlihat dari kenaikan CoF. Pada Juli 2026, CoF meningkat 25 bps MoM menjadi 2,6%.

MNC Sekuritas menilai kondisi tersebut konsisten dengan dampak kumulatif siklus kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 100 bps, yang mulai mengalir ke biaya pendanaan perbankan.

Di sisi lain, rasio CASA atau dana murah kembali turun 34 bps MoM menjadi 71,7%. Pertumbuhan kredit dan simpanan secara bulanan masih relatif terbatas, masing-masing hanya sekitar 1% MoM.

Meski biaya dana meningkat, tekanan kualitas aset belum menunjukkan perburukan yang berarti. Cost of credit (CoC) justru turun 33 bps MoM menjadi 1,3%.

Victoria menilai tingginya pencadangan pada Juni kemungkinan lebih mencerminkan pembentukan buffer dibandingkan indikasi memburuknya kualitas aset secara fundamental.

Dari sisi pencadangan, BBCA masih mencatat CoC paling rendah di antara kelompok bank besar, yakni 0,3% dalam tujuh bulan di 2026, membaik dari 0,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

BMRI juga mencatat CoC yang relatif rendah dan stabil di 0,5%, tidak berubah dibandingkan 7M25.

Sementara itu, BBRI mencatat CoC kumulatif sebesar 3,3%, relatif flat secara tahunan. Namun, tren bulanan menunjukkan perbaikan karena CoC Juli turun 59 bps MoM menjadi 3,0%, dari 3,6% pada Juni.

BBNI mencatat kenaikan CoC 9 bps YoY menjadi 1,0% pada 7M26. Kendati demikian, CoC pada Juli turun 62 bps MoM menjadi 0,8%, masih berada dalam panduan manajemen sebesar 1,0%-1,2% untuk 2026.

Pada BRIS, CoC kumulatif justru membaik 27 bps YoY menjadi 0,6%. Namun, pada Juli CoC naik 48 bps MoM menjadi 0,7%, setelah berada di level rendah 0,3% pada Juni. Angka tersebut masih berada di bawah panduan manajemen, yakni kurang dari 1%.

Di tingkat industri, pertumbuhan kredit pada Juli 2026 juga masih menunjukkan ekspansi meski tidak terlalu agresif.

Kredit perbankan secara keseluruhan tumbuh 0,6% MoM atau 13% YoY pada Juli. Pertumbuhan terutama ditopang kredit investasi yang naik 0,8% MoM atau 23,1% YoY serta kredit modal kerja yang tumbuh 0,7% MoM atau 11,6% YoY.

Sementara kredit konsumer hanya tumbuh 0,2% MoM atau 5,3% YoY. Segmen kredit kendaraan masih menjadi titik lemah dengan kontraksi 1% MoM dan 10% YoY.

Tren tersebut secara umum sejalan dengan kinerja empat saham bank besar yang mencatat pertumbuhan kredit agregat 1,3% MoM.

Di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pertumbuhan kredit juga masih relatif lemah. Kredit UMKM hanya tumbuh 0,1% MoM atau 1,6% YoY.

Pertumbuhan kredit skala kecil sebesar 0,7% MoM dan kredit investasi 0,7% MoM mengimbangi kontraksi kredit skala menengah sebesar 0,4% MoM serta kredit modal kerja sebesar 0,2% MoM.

Sementara itu, total simpanan perbankan tumbuh 1,6% MoM atau 7,7% YoY pada Juli 2026.

Dengan mempertimbangkan kinerja tersebut, MNC Sekuritas mempertahankan pandangan Overweight terhadap sektor perbankan.

Victoria menilai valuasi saham bank saat ini telah memperhitungkan sebagian besar risiko penurunan. Selain itu, imbal hasil dividen yang secara historis menarik serta prospek kualitas kredit yang relatif stabil menjadi faktor pendukung sektor tersebut.

MNC Sekuritas memilih BBCA dan BMRI sebagai saham pilihan di sektor perbankan, masing-masing dengan rekomendasi BUY dan target harga Rp 8.700 per saham untuk BBCA serta Rp 6.050 per saham untuk BMRI.

BBCA dipilih karena profil labanya yang defensif, ditopang likuiditas yang kuat dan CoC yang rendah sehingga dinilai lebih mampu menghadapi potensi tekanan biaya pendanaan.

Sementara itu, BMRI dinilai masih mencatat momentum pertumbuhan laba yang kuat, dengan pertumbuhan PPOP yang menjadi salah satu yang tertinggi di sektor, pertumbuhan laba bersih yang solid, CoC yang membaik, serta pertumbuhan kredit yang kuat.

“Risiko penurunan antara lain likuiditas yang semakin ketat dan kualitas aset yang lebih lemah dari perkiraan,” tulis Victoria.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×