Reporter: Dina Farisah | Editor: Hendra Gunawan
JAKARTA. Pembiayaan anjak piutang menorehkan kinerja positif dibandingkan pembiayaan sewa guna usaha dan pembiayaan konsumen. Pembiayaan anjak piutang tumbuh tumbuh paling tinggi.
Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2015, pembiayaan anjak piutang sebesar Rp 9,88 triliun. Angka ini tumbuh 14% dibanding periode sama tahun lalu, Rp 8,64 triliun. Pertumbuhan pembiayaan anjak piutang jauh lebih tinggi dibanding pembiayaan konsumen.
Pembiayaan konsumen pada periode yang sama hanya tumbuh 3,5% menjadi Rp 248,92 triliun. Pada Juli tahun lalu, pembiayaan konsumen tercatat Rp 240,49 triliun.
Sementara, pembiayaan sewa guna usaha justru merosot. Per Juli 2015, penyaluran pembiayaan sewa guna usaha Rp 110,88 triliun, atau menurun 2,7% dibanding periode sama 2014.
Suwandi Wiratno, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mengatakan, industri otomotif yang lesu berimbas pada industri pembiayaan, terutama pembiayaan konsumen. Pun pembiayaan alat berat juga makin melesu.
Akibatnya, perusahaan pembiayaan mencari alternatif melepaskan diri dari kelesuan bisnis. Salah satunya dengan menggenjot pembiayaan anjak piutang (factoring).
Suwandi bilang, pembiayaan anjak piutang ini lebih banyak diberikan kepada perusahaan service atau ritel. Sebab, tagihan perusahaan tersebut umumnya baru dibayarkan dalam waktu tiga bulan-enam bulan mendatang. Sementara perusahaan membutuhkan modal kerja melanjutkan usahanya.
Di sinilah peran perusahaan pembiayaan menyalurkan pembiayaan anjak piutang. Nantinya setelah tagihan perusahaan (invoice) cair, barulah perusahaan dapat mengembalikan pinjaman modal kerja kepada perusahaan pembiayaan.
Suwandi menduga, perusahaan pembiayaan dengan fokus bisnis pembiayaan alat berat sedikit demi sedikit beralih ke pembiayaan anjak piutang. Ini karena penurunan harga komoditas yang terus menggerogoti bisnis pembiayaan alat berat.
Sebagai pelaku pembiayaan alat berat, Suwandi yang juga Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL) ini mengaku, pihaknya juga mulai memperbesar porsi pembiayaan anjak piutang. Namun, porsi pembiayaan alat berat CSUL tetap dominan yakni 60%. Sisanya dari pembiayaan anjak piutang, pembiayaan konsumen, dan kredit pemilikan rumah (KPR).
Mulyadi Tjung, Direktur PT Indosurya Inti Finance menimpali, tumbuhnya pembiayaan anjak piutang karena meningkatnya kebutuhan cash flow korporat. Saat ini, Indosurya lebih banyak menyalurkan pembiayaan anjak piutang untuk perusahaan ritel serta konstruksi.
Menurut dia, dua sektor ini paling membutuhkan kecepatan cash flow. "Prospek pembiayaan anjak piutang sangat baik. Kalau pertumbuhan ekonomi meningkat maka kebutuhan pembiayaan anjak piutang ikut naik," ujar dia.
Di Indosurta, kata Mulyadi, pembiayaan anjak piutang masuk dalam pembiayaan modal kerja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













