kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.799   18,00   0,11%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%

Nilai Rupiah Berfluktuasi, Likuiditas Valas Perbankan Masih Terjaga


Selasa, 06 Januari 2026 / 20:05 WIB
Nilai Rupiah Berfluktuasi, Likuiditas Valas Perbankan Masih Terjaga
ILUSTRASI. -Petugas menghitung uang rupiah dan dolar Amerika (KONTAN/Cheppy A. Muchlis) Di tengah fluktuasi rupiah, tren simpanan valuta asing (valas) perbankan rupanya masih berhasil tumbuh.


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah fluktuasi rupiah, tren simpanan valuta asing (valas) perbankan rupanya masih berhasil tumbuh. Posisi likuiditas yang longgar itu mendorong perbankan leluasa menyalurkan kredit. 

Bank Indonesia (BI) mencatat dana pihak ketiga (DPK) valas menembus Rp 1.357 triliun hingga November 2025. Secara bulanan, jumlah itu hanya tumbuh 0,22%.

Sejalan dengan itu, berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), transaksi pasar uang antar bank (PUAB) valas pada periode yang sama turun 39,13% secara bulanan menjadi US$ 59,65 juta. LPS menilai, tren tersebut mencerminkan menurunnya permintaan jangka pendek perbankan terhadap pendanaan valas di tengah terbatasnya arus masuk. 

Advisor Banking & Finance Development Center Moch Amin Nurdin menjelaskan, likuiditas valas memang cukup menantang sejak pertengahan tahun 2025, sejalan dengan penurunan arus devisa antara lain akibat kebijakan tarif serta koreksi harga komoditas global. 

Baca Juga: Sinar Mas Multifinance Resmi Re-branding Jadi SIMASFIN

“Meski demikian, secara keseluruhan posisi devisa perbankan masih net long, artinya aset valas masih lebih besar dibandingkan kewajiban. Kondisi ini relatif mendukung ketika rupiah melemah,” jelas Amin kepada Kontan, Selasa (6/1/2026). 

Amin bilang perbankan perlu mengupayakan likuiditas valas melalui beberapa langkah. Misalnya dengan melakukan pemasaran dan menstimulasikan pendekatan personal kepada investor, agar capital inflow terdorong. 

Selain itu, kredit valas juga perlu dikendalikan. Dari sisi manajemen risiko, bank juga dapat meningkatkan biaya pencadangan, serta melakukan diversifikasi produk kredit yang sejalan dengan kondisi likuiditas yang ketat.

Ke depan, Amin melihat kecil kemungkinan BI kembali menurunkan suku bunga. Oleh karena itu, strategi penyeimbangan antara aset dan liabilitas bank, khususnya di sisi valas, menjadi sangat penting.

Namun begitu, CIMB Niaga rupanya masih berhasil mencetak tren positif pada simpanan valas. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut, DPK valas bank masih berhasil tumbuh kisaran 11% secara tahunan. Ke depannya, kata Lani, likuiditas valas bakal banyak bergantung pada kebutuhan kredit. 

Bank Central Asia (BCA) juga berhasil mencatatkan tren positif. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn menyebutkan, nilai DPK valas BCA mencapai Rp 80,4 triliun atau tumbuh 7,7% secara tahunan per September 2025. 

Pun, kredit valas berhasil tumbuh 10,2% secara tahunan pada periode yang sama. Menurut Hera, tren positif transaksi valas ini didorong oleh pergerakan nilai tukar serta peningkatan kebutuhan valas dari nasabah. 

“BCA berkomitmen memenuhi kebutuhan transaksi nasabah dalam berbagai jenis mata uang,” jelas Hera.

Hera menambahkan, pihaknya juga senantiasa menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat, dengan tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar dan risiko.

Tak cuma bank swasta, pada akhir tahun 2025 Bank Mandiri mengaku likuiditas valas juga masih berada dalam kondisi yang stabil dengan dinamika yang wajar. Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista menyebut, arus masuk dan keluar banyak dipengaruhi faktor musiman akhir tahun serta optimalisasi pengelolaan kas nasabah, khususnya nasabah korporasi. 

“Secara keseluruhan, Bank Mandiri mampu menjaga likuiditas valas pada level yang kuat dan memadai melalui pengelolaan likuiditas yang prudent, diversifikasi sumber pendanaan, serta dukungan aktivitas transaksi valas yang berkelanjutan,” jelas Adhika. 

Pun, ke depan, Adhika bilang prospek arus masuk valas bakal tetap dipengaruhi oleh dinamika global serta dampaknya terhadap kinerja ekspor-impor dan pergerakan modal asing. 

Sementara dari sisi pasokan, likuiditas valas masih ditopang oleh neraca perdagangan Indonesia yang diperkirakan tetap mencatatkan surplus secara moderat. 

Baca Juga: IFG Life Perkuat Layanan Klaim Jatuh Tempo Lewat Kantor Khusus

Selanjutnya: Pemerintah Bakal Groundbreaking 6 Proyek Hilirisasi di Bulan Ini

Menarik Dibaca: 8 Mitos tentang Kolesterol yang Tidak Perlu Dipercaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×