kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.577   24,00   0,14%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

NIM Perbankan Masih Tinggi


Rabu, 17 Februari 2010 / 11:49 WIB


Reporter: Adi Wikanto, Herlina KD | Editor: Johana K.

Usaha Bank Indonesia (BI) untuk menekan selisih bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) perbankan tampaknya tiada hasil. Terbukti, perbankan di tanah air masih memiliki NIM yang tinggi, di kisaran 6%. Padahal, BI menargetkan NIM perbankan di bawah 4%.

Bankir-bankir pun sebenarnya sudah berjanji akan menekan NIM. Mereka mengaku telah menurunkan bunga pinjaman, setelah suku bunga acuan atau BI rate berada di kisaran 6,5%. Namun, penurunan bunga pinjaman tidak sebanding dengan turunnya BI rate.

Lihat saja laporan kinerja perbankan selama tahun 2009. Di PT Bank CIMB Niaga Tbk misalnya, tercatat memiliki NIM 6,61%, meningkat dari tahun 2008 yang hanya 5,49%. Di PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga masih tinggi mencapai 6,0%, dan di PT Bank OCBC NISP Tbk 5,53%. “Pertumbuhan NIM karena pengaruh biaya dana yang semakin efisien,” kata Gatot Suwondo, Direktur Utama BNI.

Otomatis, NIM yang tinggi mendongkrak laba perbankan. CIMB Niaga mampu mencetak laba bersih Rp 1,58 triliun atau tumbuh 131% dibandingkan periode sebelumnya. Sedang laba BNI Rp 2,48 triliun, dan OCBC NISP Rp 435,9 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×