kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

NIM Perbankan Masih Tinggi


Rabu, 17 Februari 2010 / 11:49 WIB


Reporter: Adi Wikanto, Herlina KD | Editor: Johana K.

Usaha Bank Indonesia (BI) untuk menekan selisih bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) perbankan tampaknya tiada hasil. Terbukti, perbankan di tanah air masih memiliki NIM yang tinggi, di kisaran 6%. Padahal, BI menargetkan NIM perbankan di bawah 4%.

Bankir-bankir pun sebenarnya sudah berjanji akan menekan NIM. Mereka mengaku telah menurunkan bunga pinjaman, setelah suku bunga acuan atau BI rate berada di kisaran 6,5%. Namun, penurunan bunga pinjaman tidak sebanding dengan turunnya BI rate.

Lihat saja laporan kinerja perbankan selama tahun 2009. Di PT Bank CIMB Niaga Tbk misalnya, tercatat memiliki NIM 6,61%, meningkat dari tahun 2008 yang hanya 5,49%. Di PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga masih tinggi mencapai 6,0%, dan di PT Bank OCBC NISP Tbk 5,53%. “Pertumbuhan NIM karena pengaruh biaya dana yang semakin efisien,” kata Gatot Suwondo, Direktur Utama BNI.

Otomatis, NIM yang tinggi mendongkrak laba perbankan. CIMB Niaga mampu mencetak laba bersih Rp 1,58 triliun atau tumbuh 131% dibandingkan periode sebelumnya. Sedang laba BNI Rp 2,48 triliun, dan OCBC NISP Rp 435,9 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×