kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.754.000   -31.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.860   37,00   0,21%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Ekonom Prediksi Tekanan NIM Perbankan Meningkat pada Semester II-2026


Kamis, 28 Mei 2026 / 14:09 WIB
Ekonom Prediksi Tekanan NIM Perbankan Meningkat pada Semester II-2026
ILUSTRASI. Teller menghitung uang nasabah di BAnk Mandiri, JAkarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan berpotensi kian berat pada semester II-2026 seiring kenaikan suku bunga acuan. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, secara industri NIM perbankan ada di level 4,38% hingga Maret 2026. Hasil ini naik tipis dari posisi NIM industri di 4,31% pada Februari 2026.

Namun, seiring kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 50 bps ke level 5,25%, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rizal Taufikurahman bilang NIM perbankan bakal lebih tertekan pada kuartal II mendatang. 

Baca Juga: OJK: NIM Perbankan Turun Sejalan degan Penurunan Suku Bunga

Ia menjelaskan, kenaikan BI Rate umumnya akan lebih cepat mendorong kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF) dibandingkan penyesuaian yield kredit.

“Kondisi ini membuat margin bunga bersih atau NIM perbankan berpotensi tergerus pada paruh kedua tahun ini,” ujar Rizal kepada Kontan, belum lama ini.

Rizal memprediksi, tekanan NIM industri perbankan pada tahun ini berpotensi berada di kisaran 20 bps hingga 40 bps. Ia bilang tekanan paling besar berisiko terjadi pada bank yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap deposito dan dana mahal.

Rizal menyebut, bank-bank negara (Himbara) juga menghadapi tekanan tambahan lantaran terlibat dalam pembiayaan berbagai program pemerintah yang memiliki yield relatif tipis. Hal tersebut pada gilirannya membuat ruang ekspansi margin menjadi lebih terbatas.

Baca Juga: NIM Bank Tertekan ke 4,38%, BRI dan Allo Bank Tetap Unggul

Di sisi lain, risiko likuiditas perbankan juga dinilai mulai meningkat. Rizal melihat kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang hanya ditempatkan di bank-bank Himbara berpotensi memperketat likuiditas di industri.

Selain itu, potensi penarikan kembali dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah pada kuartal III-2026 juga diperkirakan dapat memicu persaingan dana yang lebih ketat antarbank.

“Akibatnya, perbankan kemungkinan akan menaikkan bunga deposito untuk menjaga likuiditas, sementara permintaan kredit belum cukup kuat untuk langsung mengompensasi kenaikan biaya dana tersebut,” jelasnya.

Rizal menilai tekanan likuiditas berpotensi lebih besar dirasakan bank swasta menengah dan kecil dibandingkan bank yang memiliki basis dana murah atau current account saving account (CASA) kuat dan nasabah yang stabil.

Baca Juga: OJK Prediksi Ketidakpastian Ekonomi Berdampak ke NIM Bank

Meski demikian, ia melihat peluang perbaikan NIM masih terbuka apabila volatilitas rupiah mulai mereda dan siklus suku bunga kembali stabil.

Bank yang kuat pada dana murah, kredit konsumsi, serta memiliki kualitas aset yang baik, kata Rizal, bakal lebih mampu menjaga margin bunga bersihnya.

Sejumlah faktor yang perlu dicermati ke depan antara lain arah BI Rate, kondisi likuiditas perbankan, pertumbuhan kredit, pergerakan dana pihak ketiga (DPK) terutama CASA, kualitas kredit atau non performing loan (NPL), hingga kebijakan fiskal dan penempatan dana pemerintah.

“Jika tekanan global mereda dan likuiditas kembali longgar, penurunan NIM berpotensi lebih terbatas dibandingkan kekhawatiran pasar saat ini,” pungkas Rizal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×