Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat pertumbuhan outstanding industri multifinance melampaui laju pertumbuhan kredit perbankan. Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya risiko kredit, perusahaan pembiayaan masih mampu mencatatkan pertumbuhan dua digit.
Direktur Utama Pefindo Biro Kredit (IdScore) Tan Glant Saputrahadi menjelaskan, per Februari 2026 outstanding multifinance mencapai Rp 627 triliun dengan pertumbuhan tahunan sebesar 13,37%. Angka tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan outstanding kredit bank umum yang tercatat sebesar 9,06% secara year on year (yoy).
“Outstanding multifinance mulai mengalahkan bank. Padahal tahun lalu kalau dengar dari APPI dan Gaikindo, penjualan kendaraan cenderung flat,” ujarnya dalam media gathering, Selasa (28/4/2026).
Baca Juga: Industri Gadai Genjot Digitalisasi demi Gaet Nasabah Milenial
Tan bilang, capaian tersebut menunjukkan permintaan pembiayaan konsumtif masih cukup tinggi di tengah perlambatan ekonomi. Multifinance dinilai masih mampu menjaga pertumbuhan outstanding meski industri otomotif sempat menghadapi tekanan penjualan.
Meski demikian, kualitas pembiayaan multifinance masih menjadi perhatian. Berdasarkan data IdScore, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) multifinance berada di level 5%. Angka itu lebih tinggi dibanding NPL kredit perbankan yang berada di level 2,24%.
Tan Glant mengatakan tren kenaikan kredit bermasalah mulai terlihat di industri pembiayaan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap kemampuan bayar masyarakat mulai meningkat.
“NPL itu sudah mulai creeping up. Memang masih ada pertumbuhan, tetapi kelihatannya sudah mulai selektif,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat lembaga pembiayaan dan perbankan mulai memperketat proses penyaluran kredit. Perbankan, misalnya, saat ini cenderung lebih fokus menyalurkan kredit ke segmen korporasi dan komersial yang dinilai memiliki risiko lebih terukur.
Baca Juga: Zurich Life Beberkan Tantangan yang Bisa Pengaruhi Laba pada Tahun Ini
“Kalau saya ngobrol sama teman-teman perbankan, ketika kondisi seperti ini yang akan maju adalah corporate banking dan wholesale banking,” ujarnya.
Sementara itu, perbankan masih menjadi penyalur kredit terbesar di Indonesia. Data IdScore menunjukkan outstanding kredit bank umum mencapai Rp 8.537 triliun atau sekitar 89% dari total outstanding kredit nasional.
Di sisi lain, multifinance dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan karena kebutuhan pembiayaan konsumtif masyarakat tetap tinggi. Namun, ia mengingatkan pelaku industri perlu menjaga kualitas pembiayaan di tengah potensi perlambatan daya beli masyarakat.
Ia juga menyoroti adanya indikasi masyarakat mulai mengalami tekanan finansial. Menurutnya, hal itu tercermin dari meningkatnya penggunaan berbagai skema pembiayaan konsumtif di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Selain itu, faktor eksternal seperti pelemahan rupiah, ketidakpastian ekonomi global, hingga tekanan geopolitik juga dinilai dapat memengaruhi kualitas kredit industri keuangan ke depan.
“Daya beli kita tetap, inflasi masih tinggi risikonya. Pertumbuhan kredit dengan kapasitas bayar, terus terang indikasinya mulai mengarah ke over leverage,” katanya.
Baca Juga: Tabungan SimPel Bank Mandiri Miliki 966.000 Rekening per Maret 2026
Meski begitu, IdScore menilai outstanding multifinance masih berpotensi tumbuh hingga akhir tahun. Hanya saja, laju pertumbuhannya diperkirakan tidak akan seagresif tahun sebelumnya karena pelaku industri mulai lebih berhati-hati menjaga kualitas aset.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













