Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah akan mendorong sektor industri padat karya melalui skema insentif berbasis pembiayaan, bukan tambahan stimulus fiskal baru. Disebutkan, pemerintah akan mengoptimalkan peran bebagai pihak, seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, dalam menyediakan pembiayaan dengan bunga yang lebih kompetitif bagi pelaku industri.
Mengenai hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendukung langkah pemerintah dalam mendorong sektor industri padat karya, termasuk melalui optimalisasi peran SMI dan LPEI sesuai ketentuan yang berlaku.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan skema pembiayaan dengan pemberian insentif bunga berpotensi mendorong pertumbuhan sektor industri padat karya.
Baca Juga: Pendapatan Recovery Bank Pelat Merah Susut di Awal 2026, Ini Sentimennya
"Salah satunya melalui peningkatan akses pembiayaan, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, tata kelola, serta manajemen risiko yang memadai," katanya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Kamis (7/5/2026).
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan seluruh program ekonomi yang sudah berjalan dapat dioptimalkan secara maksimal untuk mendukung aktivitas dunia usaha.
“Paling utama adalah memaksimalkan stimulus apa pun, bukan stimulus tambahan, semua program di perekonomian itu berjalan dengan baik,” ujarnya saat ditemui di BPPK Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026).
Purbaya menambahkan, pemerintah juga akan lebih aktif menjalin komunikasi dengan pelaku usaha guna mengidentifikasi kebutuhan riil di lapangan, termasuk hambatan pembiayaan yang dihadapi sektor padat karya.
“Nanti kami akan lebih aktif panggil businessman, bantuan apa yang bisa diberikan kami,” katanya.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah industri tekstil dan produk turunannya, seperti alas kaki, yang dinilai masih memiliki potensi ekspor. Namun, sektor tersebut menghadapi tantangan persepsi sebagai industri yang mulai menurun (sunset industry), sehingga akses pembiayaan dari perbankan menjadi terbatas.
Untuk mengatasi hal tersebut, Purbaya menerangkan pemerintah akan mengoptimalkan peran Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia dalam menyediakan pembiayaan dengan bunga yang lebih kompetitif bagi pelaku industri.
“Saya sudah diskusi dengan perusahaan-perusahaan tekstil untuk memastikan kami bisa menjadikan dana dengan bunga yang relatif rendah,” jelas Purbaya.
Baca Juga: OJK Beberkan Tiga Isu Tantangan Besar Industri Reasuransi yang Harus Dibenahi
Dia bahkan membuka peluang pemberian bunga pinjaman di bawah tingkat pasar, selama proyek usaha dinilai memiliki prospek yang baik.
“Kalau memang betul-betul menjanjikan, kami ingin menghidupkan semua industri yang bisa dihidupkan di dalam negeri,” imbuhnya.
Purbaya menegaskan, pemerintah tidak akan meninggalkan sektor swasta, tetapi akan memperkuat perannya sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Dia juga meminta pelaku usaha untuk aktif menyampaikan kendala yang dihadapi agar dapat segera ditindaklanjuti oleh pemerintah melalui berbagai instrumen yang tersedia.
Dengan langkah itu, pemerintah berharap sektor padat karya dapat kembali bergairah dan berkontribusi lebih besar dalam penciptaan lapangan kerja di tengah tekanan ekonomi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













