Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penjualan Surat Berharga Negara (SBN) melalui perbankan sebagai mitra distribusi sepanjang 2025 tetap menunjukkan kinerja solid bahkan berhasil meraup pendapatan berbasis komisi (fee based income) dari hasil penjualan, seiring tingginya minat investor ritel terhadap instrumen investasi berisiko rendah.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi penerbitan SBN mencapai lebih dari Rp 150 triliun. Capaian tersebut meningkat jika dibandingkan dengan realisasi penerbitan SBN ritel tahun 2024 yang mencapai Rp 148 triliun.
Dalam rinciannya, SBN ritel yang diterbitkan pada tahun 2025 lalu, diantaranya savings bond ritel (SBR), sukuk tabungan (ST), obligasi negara ritel (ORI), sukuk ritel (SR), dan Cash Wakaf Linked Sukuk (SWR).
SVP Wealth Management Bank Mandiri Sista Pravesthi mengungkapkan, realisasi penjualan SBN perdana melalui Bank Mandiri sepanjang 2025 mencapai lebih dari Rp 21 triliun. Capaian tersebut setara hampir 15% dari total pangsa pasar nasional penjualan SBN ritel.
“Bank Mandiri memperoleh pendapatan yang signifikan dari penjualan SBN tersebut,” ujar Sista kepada kontan.co.id, Selasa (6/1/2026).
Baca Juga: Meski Imbal Hasil Makin Kecil, Bank Tetap Parkir Dana di SBN dan SRBI
Perseroan optimistis penjualan SBN pada 2026 akan terus meningkat, antara lain melalui penguatan edukasi investor serta penyediaan berbagai program cashback menarik bagi nasabah.
Sementara itu, General Manager Divisi Wealth Management BNI Henny Eugenia menyampaikan, sepanjang 2025 BNI mencatatkan kontribusi penjualan SBN ritel di pasar perdana lebih dari Rp10 triliun. Penjualan tersebut berasal dari tujuh seri penerbitan, terdiri dari Obligasi Negara Ritel (ORI), Savings Bond Ritel (SBR), Sukuk Ritel (SR), dan Sukuk Tabungan (ST).
Tak hanya dari sisi volume, BNI juga membukukan peningkatan jumlah Single Investor Identification (SID) investor SBN ritel sebesar 25% secara tahunan (yoy) pada 2025. Menurut Henny, pencapaian ini didorong oleh tingginya minat investor terhadap instrumen investasi yang aman, ditopang tingkat kupon yang tetap kompetitif di tengah tren penurunan suku bunga acuan sepanjang 2025.
Baca Juga: Total Transaksi SBN Primer di Livin’ Investasi Bank Mandiri Sentuh Rp 13,4 Triliun
“Dengan karakteristiknya yang aman dan imbal hasil menarik, SBN ritel masih akan menjadi pilihan utama masyarakat dalam berinvestasi ke depan,” jelas Henny.
Untuk menjaga momentum tersebut, BNI berkomitmen memperluas jangkauan penjualan melalui pendekatan edukasi konsultatif oleh tenaga pemasar dan investment specialist, penyelenggaraan investor gathering di berbagai daerah, serta optimalisasi media sosial dan platform digital wondr by BNI untuk menjangkau segmen milenial dan generasi muda.
Adapun Retail Funding Division Head BTN Frengky Rosadrian menyebutkan, penjualan SBN pada 2025 masih cukup atraktif, khususnya pada produk SBN yang diperdagangkan di pasar sekunder. Kondisi ini sejalan dengan kebijakan penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia sepanjang tahun lalu.
Dari sisi kontribusi pendapatan, Frengky menuturkan bahwa SBN masih memberikan peran signifikan, yakni sekitar 30% dari total fee based income BTN.
“Ke depan, penjualan SBN akan semakin dioptimalkan, terutama bagi nasabah dengan profil risiko dan kebutuhan investasi yang sesuai dengan produk SBN,” tutup Frengky.
Baca Juga: BI Rajin Beli SBN Milik Perbankan, Risiko Jangka Panjang Mengintai
Selanjutnya: 7 Bahaya Kadar Kolesterol Jahat yang Tinggi bagi Kesehatan
Menarik Dibaca: 7 Bahaya Kadar Kolesterol Jahat yang Tinggi bagi Kesehatan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












