kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.807.000   -30.000   -1,06%
  • USD/IDR 17.009   18,00   0,11%
  • IDX 6.968   -129,16   -1,82%
  • KOMPAS100 958   -18,17   -1,86%
  • LQ45 706   -13,43   -1,87%
  • ISSI 246   -3,77   -1,51%
  • IDX30 385   -5,77   -1,48%
  • IDXHIDIV20 485   -4,42   -0,90%
  • IDX80 108   -1,84   -1,67%
  • IDXV30 134   -0,73   -0,54%
  • IDXQ30 126   -2,00   -1,57%

Perbankan Berupaya Menjaga Efisiensi Operasional


Jumat, 02 Januari 2026 / 16:37 WIB
Perbankan Berupaya Menjaga Efisiensi Operasional
ILUSTRASI. Bank berupaya jaga profitabilitas di tengah lesunya ekonomi 2025. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perbankan berupaya menjaga efisiensi operasional untuk menjaga profitabilitas di tengah lesunya ekonomi yang menekan kinerja

Sejumlah bank mencatatkan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang cukup tinggi, meningkat dibanding tahun sebelumnya. 

Misalkan, Bank Tabungan Negara (BTN). Per kuartal III-2025, BTN mencatatkan rasio BOPO di level tinggi 90,23%, meningkat dari posisi 89,43% pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Baca Juga: OJK Restrukturisasi Kredit Terdampak Bencana di Aceh dan Sumatera hingga 3 Tahun

Kemudian ada CIMB Niaga. Hingga September 2025, CIMB Niaga mencatatkan BOPO di level 73,23%, meningkat dari 72,85% dari periode yang sama tahun sebelumnya. 

Namun begitu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menjelaskan, biaya operasional selain Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) berada di posisi yang cukup stabil. 

Itu nampak dari rasio biaya terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR) bank yang berada di kisaran 45%. “Posisi ini yang terbaik dibanding peers di industri,” ungkap Lani kepada Kontan, Jumat (2/1/2026). 

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pada kuartal III-2025 BOPO bank tertekan oleh CKPN yang disiapkan untuk mengantisipasi penurunan kualitas kredit. Lani mengaku, memang terjadi peningkatan rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) di sejumlah produk seperti kredit perumahan dan otomotif. 

Kendati begitu, Lani meyakini bank bakal menjaga efisiensi operasionalnya ke depannya. “Kami yakin terus membaik jelang kuartal IV,” katanya. 

Baca Juga: Perbankan Syariah Menanti Kilau Lanjutan Emas di Tahun 2026

Selain itu, Bank Mandiri juga mencatatkan BOPO menjadi 63,48% pada September 2025, dari posisi 54,68% pada September 2024. Di sisi lain, CIR juga meningkat meski masih di level aman, dari 32,12% menjadi 43,05%. 

Kendati begitu, Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri Novita Widya mengungkapkan terjadi penurunan biaya operasional sebesar 20,2% secara bulanan pada November 2025. Pun, itu berimplikasi ke terjaganya CIR di level 42,97%. 

“Itu sejalan dengan perbaikan produktivitas dalam menghasilkan laba melalui peningkatan Net Interest Income (NIM) dan Fee Based Income,” kata Novita. 

Untuk diketahui, per November 2025 Bank Mandiri membukukan laba bersih secara bank only sebesar Rp 44,15 triliun, turun 6,41% secara tahunan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×