kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.168.000   165.000   5,49%
  • USD/IDR 16.776   42,00   0,25%
  • IDX 8.232   -88,35   -1,06%
  • KOMPAS100 1.139   -9,43   -0,82%
  • LQ45 813   0,48   0,06%
  • ISSI 296   -9,48   -3,11%
  • IDX30 422   3,70   0,88%
  • IDXHIDIV20 501   7,26   1,47%
  • IDX80 126   -0,89   -0,70%
  • IDXV30 136   -1,76   -1,27%
  • IDXQ30 136   1,46   1,09%

Perbankan Masih Genjot Kredit Industri Pengolahan dan Perdagangan di Tahun 2026


Kamis, 29 Januari 2026 / 18:53 WIB
Perbankan Masih Genjot Kredit Industri Pengolahan dan Perdagangan di Tahun 2026
ILUSTRASI. Perajin ulat sutera di Bogor (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Perbankan masih fokus memacu penyaluran kredit ke sektor industri pengolahan dan perdagangan di tahun ini. Hal ini karena dua sektor tersebut masih memiliki permintaan kuat yang ditandai dengan pertumbuhan kencang hingga akhir 2025 lalu.

Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) terbaru mencatat, pertumbuhan kredit baru pada triwulan IV 2025 meningkat di sejumlah sektor utama, antara lain Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum dengan SBT 88,53%, Industri Pengolahan (75,92%), Perantara Keuangan (72,53%), Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi (72,49%), serta Perdagangan Besar dan Eceran (63,53%).

Jika dilihat dari data BI, penyaluran kredit ke sektor industri pengolahan dan sejenisnya juga meningkat 18,9% secara tahunan di Desember 2025 menjadi Rp 400,6 triliun. Pertumbuhannya lebih tinggi dari November 2025 sebesar 18,1%.

Baca Juga: Begini Strategi Asuransi Asei Genjot Ekuitas dan Profitabilitas

BI juga memperkirakan, penyaluran kredit baru pada triwulan I 2026 terbesar mengalir ke sektor Industri Pengolahan, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Perantara Keuangan. 

Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai fokus perbankan ke sektor tersebut didorong oleh kinerja ekonomi yang berangsur membaik, terutama di sektor manufaktur. Sejumlah subsektor dinilai masih memiliki prospek yang menarik.

“Kalau kami lihat, ada beberapa subsektor manufaktur yang perkembangannya cukup menarik, seperti industri besi dan baja, makanan dan minuman, serta farmasi. Ini yang membuat perbankan masih agresif menyalurkan kredit ke sektor-sektor tersebut,” ujar Myrdal kepada Kontan, Kamis (29/1/2026).

Selain faktor fundamental, peningkatan kredit di sektor perdagangan juga dipengaruhi oleh faktor musiman. Menurut Myrdal, aktivitas ekonomi biasanya meningkat menjelang akhir tahun dan berlanjut pada kuartal pertama, seiring dengan momentum Ramadan dan Lebaran.

“Karena ada faktor musiman, khususnya di kuartal I dengan Lebaran, kredit perdagangan cenderung meningkat,” jelasnya.

Dari sisi makro, kinerja industri pengolahan dinilai sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang masih bertahan di kisaran 5%. Meski tidak terlalu tinggi, pertumbuhan tersebut cukup memberikan keyakinan bagi perbankan untuk menjaga ekspansi kredit tetap berjalan.

Baca Juga: Menilik Efek Pengembalian Dana SAL Himbara, Akankah Ganggu Likuiditas?

Terkait risiko kredit, Myrdal menyebut permintaan kredit sebenarnya masih cukup kuat, terutama dari segmen korporasi. Permintaan tersebut banyak digunakan untuk kebutuhan investasi, bukan hanya modal kerja.

Demand kredit masih tinggi, terutama dari korporasi. Banyak yang mengajukan kredit untuk ekspansi dan investasi,” katanya.

Namun demikian, penyaluran kredit ke segmen ritel atau personal masih relatif terbatas. Hal ini mencerminkan sikap kehati-hatian perbankan dan masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi.

“Untuk kredit ritel masih rendah, ini menunjukkan kehati-hatian. Kalau ke depan ekonomi membaik, permintaan kredit tentu akan ikut meningkat,” pungkas Myrdal.

Sejumlah bank juga menilai permintaan pembiayaan di kedua sektor tersebut masih terjaga, seiring dengan pemulihan konsumsi domestik dan peningkatan aktivitas produksi.

Direktur OK Bank, Efdinal Alamsyah, mengatakan pihaknya juga memberikan perhatian besar pada sektor perdagangan dan industri pengolahan karena permintaan kredit yang relatif stabil.

Hingga akhir Desember 2025 dan awal 2026, realisasi kredit OK Bank di sektor perdagangan dan industri pengolahan menunjukkan tren pertumbuhan dengan porsi sekitar 25% dari total portofolio kredit. 

Baca Juga: Investasi Asuransi Umum Tumbuh 9,28%, Capai Rp 139,27 Triliun per November 2025

Menurut dia, kondisi tersebut sejalan dengan membaiknya konsumsi domestik dan aktivitas produksi pasca pandemi.

“Kami melihat permintaan kredit di sektor perdagangan dan industri pengolahan masih terjaga, seiring dengan pemulihan konsumsi domestik dan meningkatnya aktivitas produksi,” ujar Efdinal.

Namun dari sisi risiko, Efdinal menilai profil risiko di sektor perdagangan dan industri pengolahan bersifat beragam. Sektor perdagangan modern seperti ritel dan distribusi skala besar dinilai cenderung lebih stabil, sementara industri pengolahan memiliki karakter siklikal yang dipengaruhi harga bahan baku dan permintaan pasar.

“Kami tidak otomatis menganggap risikonya lebih rendah. Pembiayaan tetap diarahkan kepada debitur dengan fundamental kuat, rekam jejak pembayaran yang baik, serta analisis arus kas yang solid,” jelasnya.

Ke depan, kata Efdinal, bank menargetkan pertumbuhan kredit yang sehat dengan menitikberatkan pada kualitas, bukan semata volume.

Sementara itu, Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyampaikan bahwa fokus sektor kredit bank ditetapkan berdasarkan kombinasi antara permintaan pasar, profil risiko, serta strategi bisnis jangka menengah.

“Permintaan pembiayaan di sektor perdagangan dan industri pengolahan masih cukup solid, terutama untuk kebutuhan modal kerja yang berkaitan langsung dengan aktivitas distribusi, produksi, dan rantai pasok,” kata Kunardy.

Ia menambahkan, kedua sektor tersebut juga memiliki keterkaitan kuat dengan layanan transaksi perbankan seperti trade finance, cash management, dan supply chain financing.

"Hal ini tidak hanya mendorong pertumbuhan kredit, tetapi juga meningkatkan kontribusi pendapatan berbasis komisi (fee-based income)," tambahnya.

Baca Juga: AAUI Dorong Asuransi Umum Siapkan Strategi untuk Penuhi Ketentuan Modal Minimum 2026

Dari sisi risiko, Kunardy menilai sektor perdagangan dan industri pengolahan memiliki profil risiko yang relatif terukur, terutama bagi debitur dengan arus kas operasional yang jelas dan hubungan usaha yang berkelanjutan.

Meski demikian, KB Bank tetap menerapkan prinsip kehati-hatian melalui proses underwriting yang selektif dan pemantauan risiko yang disiplin.

“Hingga saat ini, realisasi kredit di sektor tersebut berkembang positif, terutama dari nasabah eksisting dan pembiayaan usaha yang bersifat berulang. Kualitas kredit juga tetap terjaga,” ujarnya.

Pada 2026, KB Bank menargetkan pertumbuhan kredit yang selektif dan berkualitas. Dalam menggenjo kinerja, perusahaan menerapkan berbagai strategi di antaranya, pendalaman hubungan dengan nasabah eksisting, penguatan pembiayaan berbasis rantai pasok, optimalisasi produk transaksi dan pembiayaan perdagangan, serta peningkatan kapabilitas relationship manager dan proses penilaian risiko.

Selanjutnya: IHSG Terkoreksi, Danantara Tetap Agresif Investasi di Pasar Saham

Menarik Dibaca: 5 Pantangan saat Menghadapi Anak Tantrum, Ini Solusi agar Si Kecil Kembali Tenang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×