Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Beban pencadangan (impairment) sejumlah bank terpantau masih naik sebagai respons terhadap risiko ekonomi yang ada.
Di jajaran bank buku empat, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) kompak mencatatkan kenaikan impairment pada Juli 2026.
Rinciannya, Bank Mandiri naik 19,81% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 4,79 triliun, Bank Negara Indonesia (BNI) naik 33,27% yoy menjadi Rp 5,43 triliun, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) naik 11,73% yoy menjadi Rp 26,86 triliun.
Dari kelompok bank buku tiga ada CIMB Niaga yang mencatatkan lonjakan kenaikan impairment hingga 86,06% yoy menjadi Rp 1,05 triliun. Padahal, pada Januari 2026 impairment bank tercatat turun 22,84% yoy.
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan menyebut, sejatinya secara fundamental kualitas aset bank masih sangat baik dengan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang masih terjaga di level 1,88%.
Nah, ia menjelaskan, melonjaknya beban impairment yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh kebijakan akuntansi yang berlaku pada anak usahanya.
Baca Juga: Strategi Pencadangan Bank KBMI 4 Mulai Berbeda di Tengah Tekanan Ekonomi
“Kenaikan impairment terisolasi dari kebijakan accounting baru di Auto CNAF secara konsolidasi,” katanya kepada Kontan, dikutip Selasa (1/9/2026). Ia juga memastikan dampak ini bakal ternetralisir dalam enam bulan ke depan.
Di luar itu, menurutnya seluruh portofolio berada dalam kondisi sehat. Hanya saja, ia mengaku pencadangan juga ditambahkan sebagai bentuk antisipasi kondisi ekonomi yang masih dipenuhi ketidakpastian.
Selain itu, bank digital juga terpantau menaikkan beban impairment. Misalnya Krom Bank, dengan catatan beban impairment sebesar Rp 1,14 triliun atau terbang 82,9% yoy di Juli 2026. Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan bilang itu merupakan langkah pruden pihaknya dalam menghadapi risiko kredit.
Baca Juga: BCA Jaga Kualitas Kredit Rumah Tangga dengan Pencadangan yang Cukup
Pasalnya, ekspansi kredit bank juga agresif. Dalam periode yang sama, kredit yang disalurkan bank tumbuh 53% yoy menjadi Rp 11,29 triliun. “Sehingga bank menerapkan pencadangan yang konservatif atau forward looking,” jelasnya.
Di luar itu, Anton bilang pihaknya juga terus melakukan penguatan sistem manajemen risiko kredit yang ketat dan penuh kehati-hatian. Namun, di saat yang sama peningkatan rasio pencadangan bakal diperhatikan secara berkala untuk mempertebal bantalan risiko.
Menurutnya langkah yang ditempuh pihaknya sejauh ini terbukti berhasil. Toh, laba bersih bank berhasil tumbuh 54% yoy menjadi Rp 133 miliar hingga Juli 2026.
Baca Juga: Alokasi Pencadangan Perbankan Beragam, Ini Sebabnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














