kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Perkuat modal, sejumlah emiten multifinance pilih gelar rights issue


Rabu, 23 Oktober 2019 / 17:51 WIB
Perkuat modal, sejumlah emiten multifinance pilih gelar rights issue
ILUSTRASI. Stan lembaga pembiayaan Radana Finance saat pameran pasar keuangan rakyat di Jakarta (21/12/2014). KONTAN/Daniel Prabowo/21/12/2014

Reporter: Ferrika Sari | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah multifinance gencar menggalang dana lewat penerbitan saham baru atau rights issue yang bertujuan memperkuat sektor permodalan perusahaan. Nama-nama multifinance seperti PT Verena Multi Finance Tbk (VRNA) dan PT Radana Bhaskara Finance (HDFA) tertarik rights issue.

Melansir keterbukaan informasi, Selasa (22/10), Radana Bhaskara Finance membidik dana sebesar Rp 580,08 miliar melalui rights issue atau Penawaran Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II. Perseroan menawarkan 3,86 miliar saham dengan harga rights issue sebesar Rp 150 per saham.

Baca Juga: Tembus Rp 558,7 triliun, penyaluran kredit BNI naik 14,7% hingga kuartal III

Dari situ, dana sebesar Rp 212 miliar digunakan untuk melunasi utang sub-ordinasi kepada PT Tiara Marga Trakindo (TMT) melalui mekanisme konversi saham.

Sisanya akan digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja perusahaan, yaitu memberikan fasilitas pembiayaan kepada konsumen. Periode Perdagangan HMETD pada 15–21 November 2019 dan periode Pelaksanaan HMETD 15–21 November 2019.

Januari 2019 lalu, Verena Multi Finance juga rights issue dengan dana yang dibidik sebesar Rp 434,3 miliar. Harga pelaksanaan rights issue ini Rp 140 per saham. Pembeli siaganya adalah IBJ Leasing Co Ltd (IBJL). Penggunaan dana untuk modal kerja dan membeli 80% saham milik IBJL pada PT IBJ Verenca Finance.

Setelah pembelian ini, Verena Multi Finance akan menjadi pemegang saham 100% IBJ Verena Finance. Setelah aksi korporasi tersebut, perusahaan belum berniat melakukan rights issue kembali di sisa tahun ini.

“Belum ada rencana lagi untuk sisa tahun 2019. Untuk rights issue sudah selesai, saat ini masih proses konsolidasi merger,” kata Andi Harjono kepada Kontan.co.id, Rabu (23/10).

Baca Juga: Amartha ingin dana menganggur milik lender bisa disimpan di reksadana

Meski tahap konsolidasi, bisnis pembiayaan tetap berjalan walaupun tidak tumbuh signifikan. Sayangnya Andi enggan menyebutkan berapa nilai pembiayaan yang dibidik tahun ini, tapi mayoritas portofolio dari pembiayaan multiguna, investasi dan modal kerja.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (AAPI) Suwandi Wiratno menyatakan pendanaan dari pasar modal hanya bisa diakses oleh multifinance besar karena mereka meraih rating obligasi tinggi. Dengan rating tersebut, kupon yang diperoleh bisa lebih murah.

Hal ini juga berlaku pada rights issue yang tetap diminati sebagai sumber pendanaan murah. Hingga saat ini, 80% sumber dana industri multifinance dari perbankan, sedangkan sisanya dari pasar modal dan penagihan kredit.

"Porsi pendanaan perusahaan besar dari bank 70%–80%, sementara perusahaan kecil sampai 90%," kata pungkasnya.

Baca Juga: Terbitkan PMK, Kemenkeu antisipasi pelebaran defisit APBN 2019




TERBARU

×