kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.844.000   -183.000   -6,05%
  • USD/IDR 16.775   -30,00   -0,18%
  • IDX 8.123   199,87   2,52%
  • KOMPAS100 1.137   29,35   2,65%
  • LQ45 824   17,48   2,17%
  • ISSI 289   10,45   3,75%
  • IDX30 430   9,01   2,14%
  • IDXHIDIV20 515   9,13   1,81%
  • IDX80 127   3,21   2,60%
  • IDXV30 141   5,28   3,90%
  • IDXQ30 139   1,96   1,43%

Persaingan Mobil Murah Ubah Peta Pembiayaan Multifinance


Selasa, 03 Februari 2026 / 17:48 WIB
Persaingan Mobil Murah Ubah Peta Pembiayaan Multifinance
ILUSTRASI. Merek mobil China murah mengubah pasar. Multifinance harus inovasi produk agar tetap untung. Pelajari strategi terbaru di sini! (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri otomotif nasional belakangan diwarnai kemunculan berbagai merek mobil baru, termasuk pabrikan asal China. Kehadiran produk-produk baru dengan banderol harga yang relatif lebih rendah membuat peta persaingan pasar kian kompetitif.

Fenomena ini tidak hanya memengaruhi struktur pasar otomotif, tetapi juga berdampak langsung terhadap industri pembiayaan, khususnya perusahaan multifinance yang fokus pada pembiayaan kendaraan bermotor.

Pengamat Industri Pembiayaan Jodjana Jody menilai, perubahan struktur harga mobil akibat masuknya merek baru turut menekan nilai pokok pembiayaan (principal financing) yang disalurkan multifinance.

Jody mengatakan, dominasi mobil baru dengan harga lebih terjangkau membuat rata-rata nilai pembiayaan yang digelontorkan perusahaan pembiayaan menjadi lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

Baca Juga: Adira Finance Targetkan Tingkat NPF Selalu Berada di Bawah 2,5%

Kondisi ini dinilai berpotensi menahan laju pertumbuhan pembiayaan kendaraan bermotor, sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi industri.

"Saya lihat pokok pembiayaan menurun, dikarenakan merek mobil baru yang muncul lebih banyak laku, terlebih dengan harga Rp 200 juta hingga 400 juta. Otomatis pokok pembiayaan menurun karena yang berkembang di segmen tersebut," ungkapnya kepada Kontan, Senin (2/2/2026).

Menurut Jody, tren ini juga membuat perusahaan multifinance menghadapi kesulitan untuk mendorong pembiayaan pada segmen kendaraan dengan ticket size besar, yakni di atas Rp 500 juta.

Pasalnya, pada segmen tersebut, multifinance harus berhadapan langsung dengan perbankan yang memiliki daya saing kuat, baik dari sisi suku bunga maupun skema pembiayaan.

Dengan kondisi tersebut, Jody menilai perusahaan multifinance perlu melakukan inovasi produk agar tetap mampu menjangkau pasar yang berkembang di segmen harga menengah.

Strategi penyesuaian produk pembiayaan menjadi kunci agar tetap relevan dengan dinamika pasar otomotif yang berubah cepat.

Baca Juga: Astra Credit Companies: Persaingan Harga Mobil yang Makin Ketat Dapat Menjadi Peluang

Oleh karena itu, Jody menyampaikan perusahaan multifinance tetap harus berupaya inovatif dan menghadirkan produk pembiayaan yang terjangkau pada tahun ini.

"Di sisi lain, perusahaan multifinance juga harus tetap memperhatikan risiko kredit," kata Jody.

Sebagai gambaran, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pembiayaan mobil baru oleh multifinance mengalami kontraksi sebesar 4,65% secara Year on Year (YoY) dengan nilai mencapai Rp 142,59 triliun per November 2025.

Selanjutnya: Tuntaskan Akuisisi PADA, INET Gelontorkan Dana Rp 106,39 Miliar

Menarik Dibaca: Eastspring Indonesia dan Maybank Luncurkan Reksadana Campuran Offshore

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×