Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
Dalam kurun waktu satu tahun, jumlah pengguna BYOND tumbuh 59% YoY. Hingga Maret 2026, jumlah transaksi yang diproses mencapai 199 juta transaksi dengan volume sekitar Rp200 triliun.
“Transformasi digital membuktikan bahwa layanan syariah semakin diminati, terlebih karena kemudahan akses, aman, dan mudah,” ujar Wisnu.
Fenomena peluncuran aplikasi baru di tengah kuatnya aplikasi existing dinilai bukan tanpa alasan. Investor Relation and Research (IRRD) Economist Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto menilai strategi multiaplikasi lebih merupakan bentuk segmentasi layanan dan transisi teknologi dibanding tanda kegagalan aplikasi lama.
“Strategi multi-app kemungkinan besar bukan standar baru yang permanen, melainkan strategi transisi teknis dan segmentasi,” ujar Myrdal.
Menurut dia, aplikasi lama seperti BRImo atau BCA mobile umumnya dibangun di atas arsitektur monolithic yang memiliki keterbatasan ketika harus menampung fitur-fitur baru yang lebih kompleks seperti wealth management, lifestyle, hingga integrasi merchant.
Baca Juga: CIMB Niaga Cetak Laba Rp 2,27 Triliun hingga April 2026
“Membangun aplikasi baru dengan arsitektur microservices dan cloud-native jauh lebih aman dibanding membongkar aplikasi utama yang sudah digunakan jutaan pengguna aktif harian,” katanya.
Myrdal menilai peluncuran aplikasi baru seperti Qita lebih tepat dipandang sebagai diversifikasi ekosistem digital ketimbang indikasi aplikasi existing belum optimal.
“BRImo tetap sangat sukses sebagai motor transaksi ritel dan inklusi keuangan. Aplikasi baru biasanya ditujukan untuk proposisi nilai yang berbeda seperti segmen digital native, Gen Z, atau layanan finansial yang lebih personal,” imbuhnya.
Meski efektif, strategi multiaplikasi juga memiliki risiko. Myrdal mengingatkan adanya potensi kanibalisasi dan kebingungan pengguna apabila bank tidak mampu menjelaskan fungsi masing-masing aplikasi secara jelas.
“Jika pemisahan proposisi nilainya tidak dikomunikasikan dengan tajam, nasabah bisa bingung harus menggunakan aplikasi yang mana untuk kebutuhan tertentu,” katanya.
Selain itu, bank juga berpotensi menghadapi biaya akuisisi pengguna yang lebih besar karena harus membangun awareness terhadap lebih dari satu aplikasi sekaligus.
Baca Juga: Bank Rakyat Indonesia (BRI) Salurkan KUR Rp 65,95 Triliun per April 2026
Myrdal menilai persaingan aplikasi digital kini bukan lagi sekadar soal kanal transaksi, melainkan telah menjadi mesin utama profitabilitas bank.
“Aplikasi digital sekarang menjadi core engine profitabilitas bank. Mulai dari pendorong fee based income, efisiensi operasional, hingga perebutan dana murah atau CASA,” ujarnya.
Menurut dia, bank dengan aplikasi yang memiliki user experience terbaik dan ekosistem layanan paling lengkap akan lebih mudah menjadi rekening utama nasabah.
“Ketika dana transaksi harian mengendap di sana, bank mendapatkan CASA murah yang pada akhirnya menekan cost of fund dan memperlebar margin bunga bersih,” tutup Myrdal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- BCA Mobile
- brimo
- MyBCA
- Livin' by Mandiri
- Wondr by BNI
- profitabilitas bank
- Digitalisasi Perbankan
- Byond By BSI
- Bale By BTN
- dana murah bank
- Transaksi Digital Bank
- Ekosistem Digital Bank
- CASA bank
- aplikasi Qita
- strategi multiaplikasi bank
- microservices bank
- cloud-native bank
- pengalaman pengguna bank digital













