kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   20.000   0,73%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Persaingan Super Apps Perbankan Kian Sengit, Siapa Jawaranya?


Jumat, 29 Mei 2026 / 17:41 WIB
Persaingan Super Apps Perbankan Kian Sengit, Siapa Jawaranya?
ILUSTRASI. Pengguna BRImo Capai 45,9 Juta User (DOK/PT Bank Rakyat Indonesia)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan aplikasi digital perbankan semakin memanas. Di tengah bank-bank besar berlomba memperkuat super apps masing-masing, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali meluncurkan aplikasi baru bernama Qita.

Kehadiran Qita sendiri digadang-gadang akan menjadi strategi multiaplikasi seperti yang dijalankan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melalui BCA mobile dan myBCA.

Hal ini menandai babak baru strategi digital perbankan nasional.

Jika sebelumnya bank cenderung fokus mengembangkan satu aplikasi utama, kini sejumlah bank mulai mengadopsi strategi multiaplikasi untuk memperluas ekosistem digital sekaligus menyasar segmen nasabah yang lebih spesifik.

Berdasarkan informasi di Play Store, Qita hadir sebagai aplikasi finansial digital yang menawarkan berbagai fitur pengelolaan keuangan modern. 

Baca Juga: Kredit Mikro Amar Bank Tumbuh 22,7% YoY pada Kuartal 1-2026

Mulai dari Smart Bill Manager untuk pengingat pembayaran tagihan otomatis, Wealth Tracker untuk memantau portofolio keuangan, hingga Instant Update yang memungkinkan pembaruan fitur tanpa update manual aplikasi.

“Hadir sebagai teman finansial digital yang modern, inklusif, dan dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata nasabah,” demikian deskripsi aplikasi Qita, dikutip Jumat (29/5/2026).

Namun hingga kini, BRI belum memberikan penjelasan resmi terkait posisi Qita dalam ekosistem digital perseroan.

Belum diketahui apakah aplikasi ini akan menjadi pelengkap BRImo, menyasar segmen tertentu, atau justru berkembang menjadi platform baru di luar aplikasi utama BRI tersebut.

Padahal, performa BRImo sendiri masih menunjukkan pertumbuhan yang agresif. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna BRImo mencapai 47,8 juta atau tumbuh 18,6% secara tahunan (YoY). Nilai transaksi BRImo juga melonjak 29,4% YoY menjadi Rp 2.042,2 triliun.

Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto mengatakan transformasi digital telah menjadi salah satu motor utama pertumbuhan dana murah perseroan.

“Pertumbuhan dana murah BRI didorong oleh transformasi digital, dengan seluruh kanal mencatatkan akselerasi dobel digit,” ujarnya dalam paparan kinerja perseroan beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Bank Sampoerna Genjot Porsi Kredit UMKM, Porsinya Capai 59% dari Portofolio Kuartal I

Kinerja BRImo ikut menopang pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) BRI yang naik 9,4% YoY menjadi Rp 1.555,1 triliun pada kuartal I-2026. Porsi dana murah (CASA) pun meningkat menjadi 68,07% atau setara Rp 1.058,6 triliun.

Strategi serupa sebelumnya sudah diterapkan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) lewat dua aplikasi andalannya, yakni BCA mobile dan myBCA.

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan transaksi digital kini telah berkontribusi hingga 99,8% terhadap seluruh transaksi yang diproses BCA.

Pada kuartal I-2026, frekuensi transaksi myBCA tumbuh 45% YoY. Dari sisi nilai transaksi, myBCA mencatat pertumbuhan 47% YoY, sementara jumlah pengguna meningkat 57% YoY.

“Melalui aplikasi myBCA, kami menghadirkan hub finansial yang menghubungkan kebutuhan perbankan nasabah,” ujar Hera.

Menurut Hera, myBCA dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih intuitif sekaligus menjadi pusat layanan finansial digital, mulai dari transaksi harian, investasi, pembayaran QRIS, hingga layanan lifestyle.

Di sisi lain, BCA mobile tetap dipertahankan sebagai aplikasi transaksi utama yang ringan dan cepat untuk kebutuhan transaksi harian nasabah.

Baca Juga: Laba Bank Besar Masih Seret, Tekanan Diprediksi Berlanjut pada Semester I-2026

Di tengah persaingan tersebut, Bank Mandiri dinilai menjadi salah satu bank yang berhasil membangun ekosistem digital terintegrasi. Perseroan mengandalkan Livin’ by Mandiri untuk segmen ritel dan Kopra untuk segmen wholesale.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan Livin’ by Mandiri kini digunakan sekitar 39 juta pengguna atau tumbuh 27% YoY.

Frekuensi transaksinya mencapai 1,24 miliar transaksi atau naik 13% YoY. “Seluruh kapabilitas digital Bank Mandiri sejatinya merupakan sarana untuk menjangkau nasabah secara efektif dan efisien hingga ke wilayah terluar,” ujar Novita.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (BNI) juga mencatat pertumbuhan signifikan dari aplikasi wondr by BNI. Hingga Maret 2026, jumlah penggunanya telah melampaui 13 juta dengan nilai transaksi mencapai Rp 454 triliun atau tumbuh 113% YoY.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan platform digital menjadi salah satu pendorong utama penguatan dana murah perseroan.

Tak hanya bank besar, digitalisasi juga menjadi mesin pertumbuhan bank lain. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) misalnya, mencatatkan pertumbuhan solid pada aplikasi Bale by BTN hingga April 2026.

Baca Juga: Likuiditas Longgar, BRI Optimistis Kredit Tumbuh Lebih Kencang

SEVP Digital Business BTN Thomas Wahyudi mengatakan, jumlah pengguna Bale by BTN kini telah mencapai sekitar 4,1 juta user.

Dari sisi aktivitas transaksi, Bale by BTN mencatatkan sekitar 40 juta transaksi atau tumbuh 87% secara tahunan (YoY). Sementara volume transaksi mencapai Rp44,2 triliun, meningkat 55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Hal ini mencerminkan semakin tingginya adopsi layanan perbankan digital oleh masyarakat yang mengutamakan kemudahan, kecepatan, dan fleksibilitas dalam bertransaksi,” ujar Thomas.

Menurut Thomas, pertumbuhan tersebut didorong semakin luasnya pemanfaatan fitur dan layanan digital Bale by BTN untuk berbagai kebutuhan transaksi nasabah.

Mulai dari transfer, pembayaran tagihan, pembelian, hingga transaksi harian lainnya kini semakin banyak dilakukan melalui Bale by BTN.

BTN optimistis tren pertumbuhan transaksi digital masih akan berlanjut hingga akhir tahun 2026. Perseroan menargetkan jumlah pengguna Bale by BTN dapat melampaui 5 juta user pada akhir tahun nanti.

Selain itu, jumlah transaksi ditargetkan tumbuh sekitar 55%, sedangkan volume transaksi diproyeksi meningkat lebih dari 20% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

Di sisi lain, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga mencatatkan pertumbuhan agresif pada layanan digitalnya melalui aplikasi BYOND by BSI.

Baca Juga: Likuiditas Longgar, BRI Optimistis Kredit Tumbuh Lebih Kencang

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan transformasi digital menjadi salah satu fokus utama perseroan untuk memperluas basis nasabah.

Saat ini jumlah customer base BSI mencapai 23,7 juta nasabah atau bertambah 9,26 juta nasabah sejak merger pada 2021.

Adapun aplikasi BYOND by BSI yang baru diluncurkan sejak akhir 2024 kini telah memiliki 9,8 juta pengguna yang didominasi generasi milenial dan Gen Z.

Dalam kurun waktu satu tahun, jumlah pengguna BYOND tumbuh 59% YoY. Hingga Maret 2026, jumlah transaksi yang diproses mencapai 199 juta transaksi dengan volume sekitar Rp200 triliun.

“Transformasi digital membuktikan bahwa layanan syariah semakin diminati, terlebih karena kemudahan akses, aman, dan mudah,” ujar Wisnu.

Fenomena peluncuran aplikasi baru di tengah kuatnya aplikasi existing dinilai bukan tanpa alasan. Investor Relation and Research (IRRD) Economist Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto menilai strategi multiaplikasi lebih merupakan bentuk segmentasi layanan dan transisi teknologi dibanding tanda kegagalan aplikasi lama.

“Strategi multi-app kemungkinan besar bukan standar baru yang permanen, melainkan strategi transisi teknis dan segmentasi,” ujar Myrdal.

Menurut dia, aplikasi lama seperti BRImo atau BCA mobile umumnya dibangun di atas arsitektur monolithic yang memiliki keterbatasan ketika harus menampung fitur-fitur baru yang lebih kompleks seperti wealth management, lifestyle, hingga integrasi merchant.

Baca Juga: CIMB Niaga Cetak Laba Rp 2,27 Triliun hingga April 2026

“Membangun aplikasi baru dengan arsitektur microservices dan cloud-native jauh lebih aman dibanding membongkar aplikasi utama yang sudah digunakan jutaan pengguna aktif harian,” katanya.

Myrdal menilai peluncuran aplikasi baru seperti Qita lebih tepat dipandang sebagai diversifikasi ekosistem digital ketimbang indikasi aplikasi existing belum optimal.

“BRImo tetap sangat sukses sebagai motor transaksi ritel dan inklusi keuangan. Aplikasi baru biasanya ditujukan untuk proposisi nilai yang berbeda seperti segmen digital native, Gen Z, atau layanan finansial yang lebih personal,” imbuhnya.

Meski efektif, strategi multiaplikasi juga memiliki risiko. Myrdal mengingatkan adanya potensi kanibalisasi dan kebingungan pengguna apabila bank tidak mampu menjelaskan fungsi masing-masing aplikasi secara jelas.

“Jika pemisahan proposisi nilainya tidak dikomunikasikan dengan tajam, nasabah bisa bingung harus menggunakan aplikasi yang mana untuk kebutuhan tertentu,” katanya.

Selain itu, bank juga berpotensi menghadapi biaya akuisisi pengguna yang lebih besar karena harus membangun awareness terhadap lebih dari satu aplikasi sekaligus.

Baca Juga: Bank Rakyat Indonesia (BRI) Salurkan KUR Rp 65,95 Triliun per April 2026

Myrdal menilai persaingan aplikasi digital kini bukan lagi sekadar soal kanal transaksi, melainkan telah menjadi mesin utama profitabilitas bank.

“Aplikasi digital sekarang menjadi core engine profitabilitas bank. Mulai dari pendorong fee based income, efisiensi operasional, hingga perebutan dana murah atau CASA,” ujarnya.

Menurut dia, bank dengan aplikasi yang memiliki user experience terbaik dan ekosistem layanan paling lengkap akan lebih mudah menjadi rekening utama nasabah.

“Ketika dana transaksi harian mengendap di sana, bank mendapatkan CASA murah yang pada akhirnya menekan cost of fund dan memperlebar margin bunga bersih,” tutup Myrdal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×