kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.765   12,00   0,07%
  • IDX 6.600   74,46   1,14%
  • KOMPAS100 864   11,98   1,41%
  • LQ45 654   10,59   1,64%
  • ISSI 230   0,99   0,43%
  • IDX30 366   6,01   1,67%
  • IDXHIDIV20 452   8,85   2,00%
  • IDX80 98   1,48   1,52%
  • IDXV30 125   1,21   0,98%
  • IDXQ30 117   2,14   1,86%

Porsi Pembiayaan Konsumtif Pindar Capai 60% hingga Juni 2026


Selasa, 01 September 2026 / 18:06 WIB
Porsi Pembiayaan Konsumtif Pindar Capai 60% hingga Juni 2026
ILUSTRASI. Ketua Umum AFPI Entjik S. Djafar (KONTAN/Nadya Zahira)


Reporter: Ade Priyatin | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembiayaan konsumtif masih mendominasi industri fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) hingga pertengahan tahun 2026.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding pembiayaan produktif per Juni 2026 mencapai Rp35,12 triliun atau setara 33,41% dari total outstanding industri. Artinya, pembiayaan konsumtif masih mendominasi dengan porsi sekitar 60% dari total outstanding industri pindar.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S. Djafar menilai, baik pembiayaan konsumtif maupun produktif sama-sama memiliki nilai tambah bagi perekonomian.

“Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai pinjaman konsumtif dan produktif sama-sama memiliki nilai tambah ekonomi, ujarnya kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga: Pindar Makin Banyak Dipakai untuk Kebutuhan Konsumsi

Terkhusus untuk segmen pembiayaan konsumtif, Entjik menilai bahwa segmen ini berperan dalam membantu konsumen mempertahankan tingkat konsumsi rumah tangga.

Meski begitu, pinjaman konsumtif juga bisa dimanfaatkan oleh usaha ultra mikro untuk modal usaha harian karena kebutuhan pendanaan mereka tidak terlalu besar.

Dengan begitu, meski industri pindar memiliki segmen pembiayaan produktif yang dimanfaatkan oleh pelaku usaha atau UMKM untuk menambah modal kerja, segmen pembiayaan konsumtif juga bisa dimanfaatkan untuk memberi modal tambahan bagi pelaku usaha.

Di samping itu, AFPI juga terus berupaya menyediakan alternatif pembiayaan yang inklusif sehingga masyarakat bisa mengajukan pinjaman sesuai dengan kebutuhan, baik untuk keperluan konsumtif maupun produktif.

Baca Juga: Penyaluran Fintech Lending Tembus Rp105,14 Triliun, Responsible Lending Jadi Sorotan

Di sisi lain, AFPI senantiasa berupaya mendorong penggunaan pinjaman secara bijak dan bertanggung jawab. Upaya tersebut dilakukan melalui sejumlah kegiatan edukasi, baik melalui edukasi langsung maupun memanfaatkan media sosial.

Melalui upaya edukasi ini, diharapkan masyarakat bisa terhindar dari risiko utang yang menumpuk. Sejalan dengan itu, upaya ini juga dilakukan untuk memastikan pertumbuhan industri pindar berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.

Baca Juga: AFPI Beberkan Sejumlah Tantangan yang Pengaruhi Pembiayaan Produktif Fintech Lending

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×