kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45941,64   9,30   1.00%
  • EMAS1.035.000 -0,48%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Praktisi Perbankan Nilai Green Banking Turut Menjaga Ketahanan Perbankan


Rabu, 30 November 2022 / 23:11 WIB
Praktisi Perbankan Nilai Green Banking Turut Menjaga Ketahanan Perbankan
ILUSTRASI. Petugas teller melayani nasabah di kantor cabang Bank Mandiri Bintaro Tangerang Selatan, Rabu (29/9). Praktisi Perbankan Nilai Green Banking Turut Menjaga Ketahanan Perbankan


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Green Banking atau perbankan ramah lingkungan bukan sekadar produk perbankan. Sejatinya Green Banking adalah bagian dari gerakan global dalam menghadapi krisis iklim. 

Inisiatif ini muncul dari sebuah kesadaran yakni bencana ekologi bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.

Praktisi Perbankan, Abiwodo, mengatakan, bank memang tidak secara langsung terkait dengan kegiatan perusakan alam, seperti pertambangan atau industri pengolahan lainnya. Tapi penyaluran kredit atau kegiatan operasionalnya bisa saja mendukung perusakan alam itu. 

"Di sinilah peran penting Green Banking, apakah kreditnya disalurkan ke industri yang ramah lingkungan, atau justru industri yang merusak alam?," ujar Abiwodo dalam keterangannya, Rabu (30/11).

Baca Juga: BSI Borong 6 Penghargaan, Salah Satunya sebagai Bank Teraktif Dalam Green Banking

Dalam green banking ini, Abiwodo melanjutkan, secara teknis, bank akan mengucurkan kreditnya untuk perusahaan yang memenuhi standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance) atau ESG. ESG sendiri merupakan inisiatif kalangan swasta dalam merespon desakan untuk menciptakan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Jelas sudah, dengan green banking korporasi perbankan tidak lagi cuma fokus pada laba sebesar-besarnya, tetapi juga harus memfokuskan tanggung jawabnya pada upaya memelihara kelestarian lingkungan dan alam semesta (planet), serta meningkatkan kesejahteraan sosial kepada masyarakat (people).

Abiwodo melanjutkan, terkadang masih ada orang yang melihat green banking berisiko bagi korporasi bank dari sisi profit (NPM), lantaran ruang penyaluran kreditnya menjadi lebih sempit. 

Namun Abiwodo menjelaskan bahwa yang terjadi justru sebaliknya, transformasi perilaku bank ke green banking sangat bisa menjaga ketahanan perbankan, yang ujung-ujungnya juga menjaga kondisi perekonomian.

"Begini, konsep ekonomi hijau atau green economy kini bukan cuma slogan, namun sudah menjadi komitmen bersama banyak negara," sambungnya. 

Baca Juga: Penyaluran Kredit Korporasi Naik 12,7% hingga Kuartal III

Menurutnya, sustainable finance menjadi tren global dan paradigma baru. "Tengok saja G20 kemarin, Blue, Green, and Circular Economy dinilai memiliki potensi dan keuntungan besar untuk pembangunan ekonomi global berkelanjutan," terangnya.

Bahkan, implementasinya dapat menciptakan jutaan lapangan pekerjaan baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Indonesia sendiri sudah mulai menerapkan pendekatan ekonomi tersebut.

Dengan situasi ini, kredit green banking bisa tersalur dengan deras pada proyek yang sejalan dengan penerapan Keuangan Berkelanjutan. Ambil contoh proyek energi terbarukan yang ditetapkan oleh pemerintah, pembiayaan penggantian chiller air conditioner, atau pembiayaan penggantian mesin tekstil hemat energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Complete Three Statement Modeling Financial Statement Analysis

[X]
×