kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Proses Konsolidasi Asuransi Syariah BUMN di Bawah Danantara Masih Terus Berjalan


Minggu, 04 Oktober 2026 / 16:36 WIB
Proses Konsolidasi Asuransi Syariah BUMN di Bawah Danantara Masih Terus Berjalan
ILUSTRASI. Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria (KONTAN/Lailatul Anisah)


Reporter: Ade Priyatin | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana konsolidasi perusahaan perasuransian milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang digarap Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara masih terus berjalan, termasuk untuk konsolidasi segmen asuransi syariah.

Kepada BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria mengatakan proses merger perusahaan asuransi BUMN masih berjalan saat ini dan ditargetkan akhir tahun ini sudah harus terjadi.

"Terutama dari life insurance, kemudian general insurance, dan kredit insurance. Ini kita harapkan akhir tahun sudah selesai," ujarnya saat ditemui langsung di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (2/20/2026).

Ia juga mengatakan, proses merger perusahaan perasuransian juga akan terjadi pada segmen asuransi syariah. Menurutnya, akan ada merger untuk asuransi syariah di segmen asuransi jiwa, umum, dan kredit.

Baca Juga: Proses Konsolidasi Perasuransian BUMN di Bawah Danantara Masih Terus Berjalan

Lebih lanjut, ia menjelaskan pertimbangan melakukan merger untuk segmen syariah karena adanya penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang berbasis syariah.

"Sebab kami juga menyalurkan KUR Syariah sehingga nantinya ada asuransi dan penjaminan KUR Syariah juga," katanya.

Sebagai bagian dari proses konsolidasi ini, sejumlah perusahaan asuransi syariah BUMN terpantau sudah melakukan proses pemisahaan atau pengalihan portofolio unit usaha syariah (UUS).

PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) menjadi salah satu perusahaan BUMN yang telah mengambil langkah dalam proses pemisahan UUS.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 29 September 2026, pemegang saham Tugu Insurance menyetujui perubahan Rencana Kerja Pemisahan Unit Syariah (RKPUS), termasuk perubahan metode pemisahan menjadi pengalihan seluruh portofolio kepesertaan unit syariah kepada perusahaan asuransi yang telah memiliki izin usaha asuransi syariah di lingkungan grup Danantara.

Corporate Secretary Tugu Insurance Dudi Subekti mengatakan perubahan tersebut dilakukan sejalan dengan rencana konsolidasi atau streamlining perusahaan asuransi dalam ekosistem Danantara.

"Perusahaan akan memastikan proses pelaksanaan pengalihan portofolio kepesertaan tersebut dilakukan dengan memenuhi seluruh persyaratan dan ketentuan, sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, Anggaran Dasar Perseroan, serta peraturan internal dan Good Corporate Governance (GCG) yang berlaku," ucapnya dalam keterangan resmi, Kamis (1/10/2026).

Dalam RUPSLB tersebut, Tugu Insurance juga menyetujui pemisahan UUS melalui pengalihan portofolio kepesertaan unit syariah yang terbatas pada Dana Tabarru dan dana perusahaan yang terbatas pada penyisihan ujrah.

Selain Tugu Insurance, PT Asuransi Asei Indonesia juga telah mengalihkan portofolio kepesertaan UUS kepada PT Asuransi Jasindo Syariah.

Baca Juga: OJK Terus Koordinasi dengan Danantara dan IFG Soal Rencana Konsolidasi Asuransi BUMN

Berdasarkan pengumuman Asuransi Asei yang dipublikasikan pada Harian Kontan, Senin (23/6/25), Direksi Asuransi Asei menjelaskan bahwa pengalihan portofolio tersebut sudah mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Selain itu, terhitung sejak 30 Juni 2025, seluruh pemegang polis yang telah menyetujui pengalihan kepesertaannya, portofolio kepesertaan UUS Asuransi Asei telah berpindah ke PT Asuransi Jasindo Syariah.

Fokus Rampungkan Spin-Off Unit Usaha Syariah

Kendati proses konsolidasi asuransi syariah tengah berlangsung, sejumlah pengamat asuransi syariah menilai fokus saat ini adalah merampungkan proses spin-off UUS perusahaan lebih dulu.

Pengamat Asuransi Syariah sekaligus anggota Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (KUPASI) Wahyudin Rahman mengatakan saat ini memang proses pengalihan portofolio syariah lebih menjadi prioritas karena untuk memenuhi tenggat waktu spin-off UUS yang direncanakan rampung pada akhir tahun 2026 ini.

Sejalan dengan itu, Syariah sekaligus anggota Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (KUPASI) Wahju Rohmanti juga menyebut bahwa perusahaan asuransi syariah BUMN harus memenuhi ketentuan spin-off terlebih dahulu untuk melakukan konsolidasi di bawah Danantara.

"Saat ini memang proses pengalihan portofolio syariah lebih prioritas," ujar Wahyudin kepada Kontan, Minggu (4/10/2026).

Namun, keduanya juga memperkirakan proses konsolidasi perusahaan asuransi syariah di bawah Danantara berpotensi bisa lebih cepat dilakukan jika proses spin-off segera dirampungkan.

Baca Juga: Ini Perkembangan Terbaru Soal Rencana Konsolidasi Asuransi BUMN oleh Danantara

"Menurut saya, asuransi di bawah Danantara secara umum konsolidasinya lebih cepat karena untuk mencapai target konsolidasi BUMN secara utuh," ujar Wahju kepada Kontan, Minggu (4/10/2026).

Sementara itu, Wahyudin menilai proses konsolidasi asuransi syariah bisa lebih cepat dilakukan karena dalam proyek Streamlining Danantara, proses pengalihan portofolio ke Jasindo Syariah saat ini tengah dipercepat. Katanya, pengalihan tersebut tidak hanya mencakup Unit Syariah Tugu Insurance dan Asuransi Asei saja, tetapi juga Unit Syariah BRI Insurance

Namun, konsolidasi perusahaan asuransi syariah ditegaskan bukan berbentuk merger perusahaan melainkan pengalihan portofolio UUS.

Setelah rampungnya proses ini, ke depannya pasar perusahaan asuransi syariah di bawah Danantara akan memiliki pasar yang lebih luas dan besar. Peluang pasar asuransi syariah dinilai masih cukup besar, terutama dari sektor perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah. Program pemerintah, termasuk penugasan tertentu, juga dapat menjadi sumber pertumbuhan di tengah besarnya potensi pasar masyarakat Muslim di Indonesia.

Sementara itu, pangsa pasar perusahaan asuransi syariah dalam ekosistem Danantara diperkirakan pada tahap awal masih akan banyak ditopang oleh captive market dari perusahaan-perusahaan di dalam ekosistem tersebut.

Namun, seiring perkembangan bisnis, perusahaan tetap berpeluang memperluas pasar secara mandiri. Langkah tersebut sejalan dengan misi Danantara untuk mendorong perusahaan BUMN beroperasi secara lebih efisien dan kompetitif layaknya perusahaan swasta.

Baca Juga: IFG Lakukan Finalisasi Kajian Konsolidasi Perusahaan Asuransi dan Penjaminan BUMN

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×