Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
Selain itu, bank perlu meningkatkan porsi dana murah (current account saving account / CASA) guna menekan biaya dana (cost of fund) serta memperbesar pendapatan berbasis komisi (fee based income) dari layanan digital, wealth management, dan bisnis treasury.
Nafan juga menilai aksi buyback saham dapat menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan kepercayaan investor.
"Secara psikologis, buyback memberikan sinyal bahwa manajemen menilai harga sahamnya sudah berada di bawah nilai wajarnya. Selain itu, buyback juga dapat meningkatkan earnings per share karena jumlah saham beredar berkurang," ujarnya.
Nafan merekomendasikan BBCA buy on weakness dengan target harga Rp 8.125 per saham, BBNI buy on weakness Rp 4.360 per saham, BBRI buy on weakness Rp 3.470 per saham, BBTN buy Rp 1.470 per saham, dan BMRI buy on weakness Rp 5.525 per saham.
Sementara itu, Head of Research PT RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya menilai keputusan MSCI mempertahankan Indonesia di kategori emerging market belum cukup untuk mengangkat sentimen pasar terhadap saham-saham perbankan.
Baca Juga: Saham Big Banks di Bawah Tekanan Gejolak Pasar, Begini Saran Analis
Menurut Andrey, investor masih mencermati risiko penurunan status Indonesia menjadi frontier market pada evaluasi MSCI berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober-November 2026.
"Meskipun MSCI kembali mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market, pasar masih mencermati risiko penurunan klasifikasi ke Frontier Market pada tinjauan berikutnya," ujar Andrey.
Ia menjelaskan, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kenaikan BI Rate menjadi 5,75%, tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), kondisi likuiditas yang lebih ketat, serta penguatan dolar AS yang mendorong sebagian investor asing mengurangi eksposurnya di pasar negara berkembang.
Di samping itu, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi juga turut membebani ekspektasi pertumbuhan kredit ke depan.
Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, Andrey tetap memandang prospek sektor perbankan Indonesia secara positif.
Menurutnya, pertumbuhan kredit masih berpotensi mencatatkan kinerja yang solid sepanjang tahun ini, sementara kualitas aset industri sejauh ini masih relatif terjaga.
"Tekanan terhadap margin bunga bersih akibat meningkatnya biaya dana memang menjadi tantangan utama. Namun hal tersebut berpotensi diimbangi oleh ekspansi kredit yang sehat, peningkatan pendapatan berbasis komisi, serta pengelolaan risiko kredit yang tetap prudent," katanya.
Untuk meningkatkan daya tarik saham, Andrey menilai bank perlu memperkuat penghimpunan dana murah, menjaga kualitas aset, memperbesar kontribusi pendapatan non-bunga, serta mempertahankan kebijakan dividen yang kompetitif.
Baca Juga: Di Antara Saham Big Banks, Baru BBNI yang Peroleh Net Buy Pekan Ini
Ia menambahkan, buyback saham dapat menjadi salah satu opsi untuk mendukung harga saham dan menunjukkan keyakinan manajemen terhadap valuasi perusahaan. Namun efektivitasnya akan terbatas apabila sentimen pasar dan kondisi likuiditas belum membaik.
"Dalam jangka panjang, kinerja operasional dan fundamental tetap menjadi faktor utama yang menentukan valuasi saham," ujarnya.














