kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.973   81,00   0,45%
  • IDX 5.884   -217,45   -3,56%
  • KOMPAS100 764   -32,00   -4,02%
  • LQ45 578   -20,26   -3,39%
  • ISSI 203   -8,31   -3,92%
  • IDX30 327   -10,75   -3,18%
  • IDXHIDIV20 402   -10,48   -2,54%
  • IDX80 87   -3,59   -3,99%
  • IDXV30 109   -2,27   -2,04%
  • IDXQ30 105   -2,81   -2,60%

Saham Big Banks Kian Tertekan Aksi Net Sell Asing, Cermati Rekomendasi Analis


Rabu, 24 Juni 2026 / 20:11 WIB
Saham Big Banks Kian Tertekan Aksi Net Sell Asing, Cermati Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. ATM Bank BRI (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham bank berkapitalisasi besar atau big banks kembali tertekan pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026), meski MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market dalam hasil evaluasi terbarunya.

Tekanan jual terjadi merata pada saham-saham perbankan jumbo. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memimpin pelemahan dengan turun 3,64% ke level Rp 3.970 per saham.

Walau demikian pada pembukaan perdagangan, sahamnya sempat dibuka menguat di level Rp 4.130 per saham. Dalam sepekan terakhir, saham BMRI telah terkoreksi 11,58%.

Pelemahan juga terjadi pada saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 3,21% ke level Rp 3.320 per saham. Pada pembukaan perdagangan sahamnya dibuka di level Rp 3.430. Secara mingguan, saham BBNI telah anjlok 12,63%.

Baca Juga: Saham Big Banks Menguat Meski Sebagian Masih Dilego Asing, Simak Rekomendasi Analis

Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 3,44% menjadi Rp 2.810 per saham dan terkoreksi 8,77% dalam sepekan terakhir.

Adapun saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 3,27% ke level Rp 5.925 per saham. Sahamnya dibuka di level Rp 6.125 dan selama sepekan sahamnya melemah 5,58%.

 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pelemahan saham perbankan lebih banyak dipicu sentimen eksternal dan faktor makro ekonomi dibandingkan perubahan fundamental emiten.

Menurut Nafan, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang mendorong investor asing melakukan aksi jual.

"Ketika rupiah melemah, nilai aset investor asing dalam denominasi dolar AS otomatis menyusut sehingga mereka cenderung mengamankan modalnya terlebih dahulu," ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (24/6/2025).

Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) hingga 5,75% turut memunculkan kekhawatiran pasar terhadap prospek pertumbuhan kredit dan kualitas aset perbankan.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Big Caps di Tengah Banjir Net Sell Asing

Menurutnya, pelaku pasar khawatir suku bunga yang tinggi dapat memperlambat penyaluran kredit sekaligus meningkatkan risiko kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Di sisi lain, ketidakpastian global serta aksi ambil untung (profit taking) setelah reli saham perbankan dalam beberapa waktu terakhir juga menjadi faktor yang menekan harga saham sektor ini.

Meski demikian, Nafan menegaskan prospek jangka menengah hingga panjang sektor perbankan masih tetap solid.

"Tekanan yang terjadi saat ini lebih bersifat jangka pendek dan didorong faktor eksternal makro, bukan karena pelemahan fundamental emiten perbankan," katanya. 

Nafan menilai, koreksi harga saham saat ini justru membuat valuasi saham perbankan kembali menarik untuk strategi akumulasi bertahap.

Ia menyarankan perbankan terus mengoptimalkan margin bunga bersih (net interest margin / NIM) melalui penyesuaian suku bunga kredit secara selektif.

Selain itu, bank perlu meningkatkan porsi dana murah (current account saving account / CASA) guna menekan biaya dana (cost of fund) serta memperbesar pendapatan berbasis komisi (fee based income) dari layanan digital, wealth management, dan bisnis treasury. 

Nafan juga menilai aksi buyback saham dapat menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan kepercayaan investor.

"Secara psikologis, buyback memberikan sinyal bahwa manajemen menilai harga sahamnya sudah berada di bawah nilai wajarnya. Selain itu, buyback juga dapat meningkatkan earnings per share karena jumlah saham beredar berkurang," ujarnya.

Nafan merekomendasikan BBCA buy on weakness dengan target harga Rp 8.125 per saham, BBNI buy on weakness Rp 4.360 per saham, BBRI buy on weakness Rp 3.470 per saham, BBTN buy Rp 1.470 per saham, dan BMRI buy on weakness Rp 5.525 per saham.

Sementara itu, Head of Research PT RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya menilai keputusan MSCI mempertahankan Indonesia di kategori emerging market belum cukup untuk mengangkat sentimen pasar terhadap saham-saham perbankan.

Baca Juga: Saham Big Banks di Bawah Tekanan Gejolak Pasar, Begini Saran Analis

Menurut Andrey, investor masih mencermati risiko penurunan status Indonesia menjadi frontier market pada evaluasi MSCI berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober-November 2026.

"Meskipun MSCI kembali mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market, pasar masih mencermati risiko penurunan klasifikasi ke Frontier Market pada tinjauan berikutnya," ujar Andrey.

Ia menjelaskan, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kenaikan BI Rate menjadi 5,75%, tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), kondisi likuiditas yang lebih ketat, serta penguatan dolar AS yang mendorong sebagian investor asing mengurangi eksposurnya di pasar negara berkembang.

Di samping itu, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi juga turut membebani ekspektasi pertumbuhan kredit ke depan.

Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, Andrey tetap memandang prospek sektor perbankan Indonesia secara positif.

Menurutnya, pertumbuhan kredit masih berpotensi mencatatkan kinerja yang solid sepanjang tahun ini, sementara kualitas aset industri sejauh ini masih relatif terjaga.

"Tekanan terhadap margin bunga bersih akibat meningkatnya biaya dana memang menjadi tantangan utama. Namun hal tersebut berpotensi diimbangi oleh ekspansi kredit yang sehat, peningkatan pendapatan berbasis komisi, serta pengelolaan risiko kredit yang tetap prudent," katanya.

Untuk meningkatkan daya tarik saham, Andrey menilai bank perlu memperkuat penghimpunan dana murah, menjaga kualitas aset, memperbesar kontribusi pendapatan non-bunga, serta mempertahankan kebijakan dividen yang kompetitif.

Baca Juga: Di Antara Saham Big Banks, Baru BBNI yang Peroleh Net Buy Pekan Ini

Ia menambahkan, buyback saham dapat menjadi salah satu opsi untuk mendukung harga saham dan menunjukkan keyakinan manajemen terhadap valuasi perusahaan. Namun efektivitasnya akan terbatas apabila sentimen pasar dan kondisi likuiditas belum membaik.

"Dalam jangka panjang, kinerja operasional dan fundamental tetap menjadi faktor utama yang menentukan valuasi saham," ujarnya.

RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan. Saham pilihan utamanya adalah BMRI, BBRI, BRIS, dan BBTN yang dinilai menawarkan kombinasi menarik antara pertumbuhan laba dan valuasi.

Sementara itu, BBCA tetap menjadi pilihan defensif berkat kualitas aset yang kuat, likuiditas yang solid, serta kemampuan menghasilkan laba yang konsisten.

Adapun target harga yang diberikan RHB Sekuritas yakni BBCA buy Rp 7.740 per saham, BMRI buy Rp 5.420 per saham, BBNI buy Rp 4.560 per saham, dan BBRI buy Rp 4.000 per saham.

Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Melemah, Senin (13/4), Begini Rekomendasi Analis

Senada, Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai status Indonesia yang tetap berada dalam kelompok emerging market belum cukup kuat menjadi katalis positif bagi saham-saham perbankan.

Menurut Hendra, investor saat ini lebih fokus pada kondisi ekonomi domestik dan derasnya arus keluar dana asing dibandingkan status Indonesia dalam indeks global.

"Pada perdagangan terbaru, investor asing kembali mencatatkan net sell lebih dari Rp 1 triliun. Secara akumulatif sejak awal tahun, arus keluar dana asing sudah mencapai sekitar Rp 85 triliun," ujar Hendra.

Karena sektor perbankan memiliki kapitalisasi pasar terbesar dan likuiditas tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham-saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI menjadi sasaran utama pelepasan portofolio investor asing.

Meski demikian, Hendra menilai fundamental industri perbankan nasional masih relatif kuat. Modal perbankan tetap solid, kualitas kredit terjaga, rasio pencadangan memadai, dan profitabilitas masih berada di atas rata-rata kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga: Saham Big Banks Merosot Saat IHSG Ambruk, BBCA Tertekan Paling Dalam, Rabu (3/6)

"Karena itu, koreksi harga saham perbankan saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor sentimen dan likuiditas pasar dibandingkan penurunan kualitas fundamental bisnis perbankan itu sendiri," katanya.

Ke depan, Hendra menilai prospek sektor perbankan akan sangat ditentukan oleh stabilisasi nilai tukar rupiah, berhentinya arus keluar dana asing, perbaikan pertumbuhan kredit, serta terjaganya disiplin fiskal pemerintah.

Apabila faktor-faktor tersebut mulai membaik, sektor perbankan berpotensi menjadi motor utama pemulihan IHSG. Dalam jangka panjang, ia masih menjagokan saham-saham bank besar karena fundamental bisnisnya tetap kuat meski tengah menghadapi tekanan sentimen jangka pendek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×