Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan. Saham pilihan utamanya adalah BMRI, BBRI, BRIS, dan BBTN yang dinilai menawarkan kombinasi menarik antara pertumbuhan laba dan valuasi.
Sementara itu, BBCA tetap menjadi pilihan defensif berkat kualitas aset yang kuat, likuiditas yang solid, serta kemampuan menghasilkan laba yang konsisten.
Adapun target harga yang diberikan RHB Sekuritas yakni BBCA buy Rp 7.740 per saham, BMRI buy Rp 5.420 per saham, BBNI buy Rp 4.560 per saham, dan BBRI buy Rp 4.000 per saham.
Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Melemah, Senin (13/4), Begini Rekomendasi Analis
Senada, Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai status Indonesia yang tetap berada dalam kelompok emerging market belum cukup kuat menjadi katalis positif bagi saham-saham perbankan.
Menurut Hendra, investor saat ini lebih fokus pada kondisi ekonomi domestik dan derasnya arus keluar dana asing dibandingkan status Indonesia dalam indeks global.
"Pada perdagangan terbaru, investor asing kembali mencatatkan net sell lebih dari Rp 1 triliun. Secara akumulatif sejak awal tahun, arus keluar dana asing sudah mencapai sekitar Rp 85 triliun," ujar Hendra.
Karena sektor perbankan memiliki kapitalisasi pasar terbesar dan likuiditas tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham-saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI menjadi sasaran utama pelepasan portofolio investor asing.
Meski demikian, Hendra menilai fundamental industri perbankan nasional masih relatif kuat. Modal perbankan tetap solid, kualitas kredit terjaga, rasio pencadangan memadai, dan profitabilitas masih berada di atas rata-rata kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Saham Big Banks Merosot Saat IHSG Ambruk, BBCA Tertekan Paling Dalam, Rabu (3/6)
"Karena itu, koreksi harga saham perbankan saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor sentimen dan likuiditas pasar dibandingkan penurunan kualitas fundamental bisnis perbankan itu sendiri," katanya.
Ke depan, Hendra menilai prospek sektor perbankan akan sangat ditentukan oleh stabilisasi nilai tukar rupiah, berhentinya arus keluar dana asing, perbaikan pertumbuhan kredit, serta terjaganya disiplin fiskal pemerintah.
Apabila faktor-faktor tersebut mulai membaik, sektor perbankan berpotensi menjadi motor utama pemulihan IHSG. Dalam jangka panjang, ia masih menjagokan saham-saham bank besar karena fundamental bisnisnya tetap kuat meski tengah menghadapi tekanan sentimen jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














